Minggu, 26 April 2026

Stres Jangan Dianggap Sepele, Dampaknya pada Lambung hingga Penyakit Serius

Stres berperan meningkatkan proses peradangan dalam tubuh. Faktor stres yang diproses di otak dapat memengaruhi respons imun dan inflamasi sistemik.

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
Freepik
ILUSTRASI STRES - Tangkapan layar dari laman Freepik pada Rabu (4/6/2025) yang menampilkan gambar ilustrasi orang yang sedang stres. 
Ringkasan Berita:
  • Stres merupakan masalah kesehatan mental
  • Sebagian orang menganggap stres adalah hal lumrah, namun memiliki konsekuensi biologis yang nyata dan tak bisa dianggap ringan
  • Jika tekanan emosional yang berlangsung terus-menerus, otak dapat memicu peningkatan produksi asam lambung

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Stres kerap dipandang sebagai masalah psikologis semata. Padahal, dampaknya dapat meluas hingga memengaruhi organ tubuh, khususnya sistem pencernaan, serta berperan dalam memperberat penyakit serius.

Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH., MMB, menegaskan bahwa stres memiliki konsekuensi biologis yang nyata dan tidak dapat dianggap ringan.

“Bahwa stres itu tidak boleh dianggap sederhana,” ujar Prof. Ari yang juga merupakan konsultan penyakit lambung dan pencernaan itu saat ditemui di suatu diskusi kesehatan Jakarta, Senin (19/12/2025). 

Baca juga: Faktor Genetik, Stres hingga Perubahan Hormon Picu Kerontokan Rambut

Ia menjelaskan, dalam tubuh manusia terdapat mekanisme yang dikenal sebagai brain-gut axis, yakni hubungan dua arah antara otak dan saluran pencernaan. 

Ketika kondisi psikologis terganggu, dampaknya dapat langsung dirasakan oleh organ pencernaan.

“Artinya kalau enggak beres, brain kita ini akan mengganggu usus kita,” kata Prof. Ari.

Dalam kondisi stres, kecemasan, atau tekanan emosional yang berlangsung terus-menerus, otak dapat memicu peningkatan produksi asam lambung. 

Akibatnya, muncul keluhan seperti nyeri ulu hati, perih, mual, hingga kekambuhan gangguan lambung yang sebelumnya terkontrol.

Tidak hanya lambung, stres juga berpengaruh pada kondisi usus. 

Usus yang sebelumnya stabil dapat mengalami peradangan kembali ketika seseorang berada dalam tekanan psikologis berkepanjangan. 

Kondisi ini menjelaskan mengapa sebagian gangguan pencernaan sering kali berulang tanpa pemicu makanan yang jelas.

Secara ilmiah, stres juga diketahui berperan dalam meningkatkan proses peradangan di dalam tubuh. 

Faktor-faktor stres yang diproses di otak dapat memengaruhi respons imun dan inflamasi sistemik.

“Karena memang sudah terbukti, ada hubungan dengan faktor-faktor stres itu di otak, itu akan menyebabkan proses radangan jadi meningkat,” jelas Prof. Ari.

Proses peradangan yang meningkat ini tidak hanya berdampak pada sistem pencernaan, tetapi juga dapat memengaruhi perjalanan penyakit lain. 

Dalam konteks medis, stres menjadi salah satu komponen yang dapat memperberat kondisi kesehatan pada individu dengan faktor risiko tertentu.

Selain gangguan pencernaan, stres juga berkaitan dengan berbagai penyakit yang bersifat psikosomatik. 

Pada kondisi ini, tekanan psikis memicu gangguan fungsi organ tubuh, meskipun sebelumnya tidak ditemukan kelainan struktural yang jelas.

Contoh yang kerap dijumpai dalam praktik klinis adalah peningkatan tekanan darah dan denyut jantung saat seseorang berada dalam kondisi marah atau emosi berlebihan. 

Respons fisiologis tersebut dapat berdampak pada sistem kardiovaskular dan saraf, terutama pada individu dengan faktor risiko yang sudah ada.

Prof. Ari juga mengingatkan bahwa stres merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam pendekatan kesehatan secara menyeluruh. 

Selain faktor genetik dan pola makan, kondisi psikologis memiliki peran dalam menjaga keseimbangan fungsi organ.

Dalam praktik medis, pasien dengan penyakit kronis sering kali menunjukkan perburukan kondisi ketika berada dalam tekanan mental yang tidak terkelola dengan baik. 

Oleh karena itu, pengelolaan stres menjadi bagian penting dalam upaya menjaga kesehatan, terutama pada organ-organ yang sensitif terhadap perubahan respons tubuh.

Pemahaman mengenai dampak stres terhadap kesehatan diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa menjaga keseimbangan mental bukan hanya berkaitan dengan kenyamanan emosional.

Tetapi juga berpengaruh langsung pada fungsi organ dan kualitas hidup secara keseluruhan.

 

(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved