Menkes Budi Sadikin: Kusta Penyakit Bakteri dan Bisa Sembuh
Kusta bukan penyakit mistik atau kutukan, melainkan penyakit menular yang telah lama dipahami secara ilmiah dan dapat disembuhkan.
Ringkasan Berita:
- Kusta bukan penyakit mistik atau kutukan, melainkan penyakit menular yang telah lama dipahami secara ilmiah dan dapat disembuhkan.
- Pemeriksaan dini sangat dibutuhkan untuk memutus rantai penularan dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
- Gejala kusta ditandai dengan munculnya bercak kulit merah atau putih yang tidak gatal, tampak mengkilap atau kering bersisik serta kulit yang tidak berkeringat.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengajak masyarakat untuk tidak takut memeriksakan diri apabila mengalami gejala kusta.
Ia menegaskan, kusta bukan penyakit mistik atau kutukan, melainkan penyakit menular yang telah lama dipahami secara ilmiah dan dapat disembuhkan.
“Kusta bukan penyakit mistik atau kutukan. Ini penyakit yang disebabkan oleh bakteri, dan ilmu pengetahuannya sudah jelas sejak lebih dari satu abad lalu,” ujar Menkes Budi dilansir dari website resmi Kementerian Kesehatan, Jumat (16/1/2026).
Munculnya kusta disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Terjadinya penyakit ini merupakan hasil interaksi berbagai faktor, yakni pejamu (host), kuman (agent), dan lingkungan.
Penularan kusta tidak terjadi secara cepat, melainkan melalui kontak yang erat dan berkepanjangan dengan seseorang yang terinfeksi.
Karena itu, pemeriksaan dini menjadi langkah penting untuk memutus rantai penularan dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
Waspadai Gejala Kulit dan Gangguan Saraf
Gejala kusta dapat ditandai dengan munculnya bercak kulit merah atau putih yang tidak gatal, tampak mengkilap atau kering bersisik, serta kulit yang tidak berkeringat.
Selain itu, dapat terjadi rontoknya alis mata, penebalan pada wajah dan telinga, serta lepuh atau luka tidak nyeri pada tangan atau kaki.
Baca juga: Indonesia Negara Ketiga Terbanyak Penderita Kusta, Yohei Sasakawa: Obati, Jangan Didiskriminasi
Gangguan saraf juga kerap menyertai, seperti nyeri saraf tepi, kesemutan, rasa tertusuk atau nyeri pada anggota gerak, kelemahan otot atau kelopak mata.
Hingga disabilitas atau deformitas tanpa riwayat kecelakaan. Pada sebagian kasus, ulkus yang sulit sembuh juga dapat muncul.
Perlu Pengobatan Efektif
Menkes Budi menegaskan bahwa pengobatan kusta telah tersedia dan terbukti efektif. Ia menekankan bahwa risiko penularan dapat dihentikan dalam waktu singkat setelah pengobatan dimulai.
“Begitu pengobatan dimulai, dalam waktu kurang dari satu minggu pasien sudah tidak menularkan lagi,” jelasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Kemenkes-dan-WHO-Kampanyekan-Eliminasi-Kusta_20260115_201357.jpg)