Miom Tak Hilang Tapi Membesar Saat Hamil, Dokter Kandungan Ungkap Fakta yang Jarang Diketahui
Banyak perempuan hidup dengan kecemasan diam-diam soal miom dan kista dan termakan hoaks juga mitos.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- Banyak mitos berkembang seiring mioma dan kista salah satunya tumor jinak ini hilang saat hamil.
- Namun faktanya miom tak hilang dan justru membesar saat hamil.
- Ini penjelasan dokter kandungan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Banyak perempuan hidup dengan kecemasan diam-diam soal miom dan kista.
Kekhawatiran itu sering dibungkus mitos, mulai dari anggapan miom bisa hilang saat hamil, hingga keyakinan bahwa makanan tertentu saat menstruasi bisa memicu munculnya miom atau kista.
Baca juga: Banyak yang Keliru, Ini Perbedaan Miom dan Kista serta Risikonya bagi Kehamilan
Dokter Spesialis Kandungan Eka Hospital BSD, dr. Budi Santoso, Sp.OG, FMAS, menegaskan bahwa sebagian besar anggapan tersebut tidak berdasar medis.
Perlu diketahui, miom adalah tumor jinak yang tumbuh di dinding rahim perempuan, sedangkan kista adalah kantung berisi cairan, udara, atau zat padat yang bisa muncul di berbagai bagian tubuh, termasuk indung telur. Keduanya umumnya tidak bersifat kanker, tetapi dapat menimbulkan gejala bila ukurannya membesar atau menekan organ di sekitarnya.
Mitos Miom Hilang Saat Hamil
Salah satu mitos paling sering dipercaya adalah anggapan bahwa miom bisa menghilang dengan sendirinya saat seorang perempuan hamil.
Menurut dr. Budi, hal tersebut adalah hoaks.
“Itu hoaks, kalau kita punya bibit mim, terus hamil, miom-nya jadi makin gede,” kata dr. Budi Santoso pada media briefing di Tangerang Selatan, Selasa (27/1/2026).
Ia menjelaskan, miom berasal dari otot rahim dan termasuk tumor yang sifatnya bergantung pada hormon estrogen.
Saat kehamilan terjadi, kadar estrogen dalam tubuh perempuan meningkat secara signifikan.
“Miom kan asalnya dari otot rahim, dia sifatnya esterogen tumor, tumor yg tergantung dari jumlah estrogen dalam tubuh perempuan itu, kapan estrogen meningkat? Saat hamil,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat miom cenderung membesar selama kehamilan.
Namun setelah melahirkan, ukurannya bisa mengecil kembali seiring menurunnya kadar hormon.
Kista Saat Operasi Caesar Tak Selalu Langsung Diambil
Tak sedikit perempuan yang juga khawatir ketika mengetahui memiliki kista saat menjalani kehamilan, terutama jika persalinan dilakukan dengan operasi caesar.
Namun dr. Budi menegaskan bahwa pengambilan kista tidak dilakukan sembarangan.
Baca juga: Cerita Muhidah Jalani Operasi Miom dengan Tenang Berbekal Program JKN dari BPJS Kesehatan
Menurutnya, kista berukuran besar saat persalinan justru tidak langsung diambil karena berisiko.
Dokter biasanya akan melakukan evaluasi lanjutan setelah proses melahirkan selesai.
Setelah sekitar enam bulan pasca persalinan, kondisi kista akan diperiksa kembali.
Jika ukurannya kecil dan tidak menimbulkan gangguan, kista bisa dibiarkan dengan pemantauan rutin.
Pada kondisi tertentu, pasien hanya akan mendapatkan edukasi terkait pola makan, termasuk diet estrogen.
Makanan Indonesia dan Fitoestrogen, Apa Pengaruhnya?
Dr. Budi juga menyinggung soal pola konsumsi masyarakat Indonesia yang kerap dikaitkan dengan miom dan kista. Ia menyebut banyak makanan sehari-hari mengandung fitoestrogen.
Meski begitu, ia mengingatkan bahwa tidak semua fitoestrogen berdampak sama. Salah satu bahan pangan yang dikenal memiliki kandungan estrogen tinggi adalah kedelai.
“Rata-rata makanan di Indonesia fitoestrogen semua, tapi memang di kedelai kadar estrogen itu tinggi banget,” ujarnya.
Meski demikian, konsumsi makanan tertentu tidak bisa langsung disimpulkan sebagai penyebab munculnya miom atau kista.
Hoaks soal Makanan Saat Menstruasi Picu Miom dan Kista
Mitos lain yang banyak beredar adalah anggapan bahwa mengonsumsi makanan atau minuman tertentu saat menstruasi dapat menyebabkan miom atau kista.
Dr. Budi menegaskan hal tersebut tidak benar secara medis.
“Hoaks, ga ada makanan dan minuman yang dimakan saat haid bikin kista atau miom,” tegasnya.
Ia menjelaskan, faktor genetik memiliki peran yang lebih besar dalam pembentukan miom dan kista.
Jika seseorang tidak memiliki faktor keturunan, konsumsi tahu, tempe, atau makanan lain tidak serta-merta memicu masalah tersebut.
Namun, pada perempuan dengan kecenderungan genetik, faktor hormon bisa mempercepat pertumbuhan miom atau kista.
Meski hingga kini tidak ada cara pasti untuk mengetahui faktor genetik tersebut sejak awal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/mioma-merupakan-suatu-pertumbuhan-massa.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.