Selasa, 2 Juni 2026

Minuman Manis Diutamakan, Nasi Dibatasi, Dokter Gizi: Pola Makan Ini Berisiko

Kebiasaan makan bukan sesuatu yang terbentuk secara instan melainkan hasil pola yang terjadi bertahun-tahun dan memperbaiki pola makan bukan soal diet

Tayang:
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: willy Widianto

Ringkasan Berita:
  • Kebiasaan makan yang selama ini dianggap wajar tersebut diam-diam menyimpan risiko bagi kesehatan fisik dan mental.
  • Banyak orang dewasa menjadikan rasa kenyang sebagai satu-satunya tujuan saat makan.
  • Pilihan makan kerap jatuh pada makanan instan yang tinggi kalori namun rendah zat gizi

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pola makan dengan prinsip “yang penting kenyang” masih menjadi pegangan banyak orang dewasa di tengah gaya hidup yang semakin sibuk dan serba cepat. Kesibukan kerja, keterbatasan waktu, serta kemudahan mengakses makanan instan membuat perhatian terhadap kualitas dan keseimbangan gizi kerap terabaikan.

Baca juga: Menolak Tua, Nova Eliza Konsumsi Ramuan hingga Pantang Makan Nasi

Padahal, kebiasaan makan yang selama ini dianggap wajar tersebut diam-diam menyimpan risiko bagi kesehatan fisik dan mental, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Dokter spesialis gizi klinik, dr. Nita, M.Gizi, Sp.GK, mengungkapkan masih banyak pemahaman keliru soal makan sehat yang sudah terlanjur mengakar di masyarakat. Fokus utama saat makan sering kali hanya sebatas mengisi perut, tanpa mempertimbangkan komposisi zat gizi yang masuk ke dalam tubuh.

“Kita kan sering banget ya makan yang penting itu kenyang, apalagi sudah sibuk, nggak sempat, ya jadi ya sudah apa yang ketemu, pokoknya saya kenyang, tanpa memperhatikan komposisi yang kita makan ini apa,” ujar dr. Nita dalam talkshow kesehatan virtual yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan, Senin (2/2/2026).

Menurut dr Nita, banyak orang dewasa menjadikan rasa kenyang sebagai satu-satunya tujuan saat makan. Kondisi ini diperparah oleh anggapan bahwa makanan sehat identik dengan harga mahal dan rasa yang kurang enak.

Akibatnya, pilihan makan kerap jatuh pada makanan instan yang tinggi kalori namun rendah zat gizi. Tak jarang pula muncul pola makan ekstrem, seperti ketakutan berlebihan terhadap karbohidrat.

“Ada juga yang menghindari karbohidrat sepenuhnya, jadi sangat takut karbohidrat. Ada pasien saya itu cuma makan nasi 1–2 suap, terus proteinnya yang seabrek-abrek, nah ini kan tentu juga tidak seimbang,” ujarnya.

Padahal, pola makan sehat seharusnya mengedepankan keseimbangan antara karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral, serta disesuaikan dengan kebutuhan tubuh, bukan sekadar mengikuti tren atau preferensi sesaat.

Kesalahan lain yang masih sering terjadi adalah dalam memilih minuman. Dalam berbagai kesempatan, minuman manis justru lebih diprioritaskan dibandingkan air putih.

“Kita ada acara, ada air putih, ada minuman manis, soda, es krim, kita kan cenderung caranya manis dulu ya. Seolah-olah air putih ini nggak berharga,” kata dr Nita.

Baca juga: Helwa Bachmid Makan Nasi Campur Teh saat Ditelantarkan Habib Bahar, Zanzabella: Gak Masuk Akal

Menurutnya, fenomena ini menunjukkan bagaimana selera rasa sering kali mengalahkan kebutuhan tubuh. Padahal, asupan cairan yang cukup dan sehat sangat penting untuk menjaga fungsi tubuh dan metabolisme tetap optimal.

Dr Nita menjelaskan, pola makan yang tidak seimbang akan memberikan dampak langsung terhadap kondisi tubuh. Dalam jangka pendek, kebiasaan tersebut dapat memicu gangguan pencernaan, tubuh mudah lelah, hingga penurunan konsentrasi.

“Kalau secara jangka pendek itu akan mempengaruhi pencernaan kita. Terus bisa juga bikin kita jadi sulit berkonsentrasi, mudah lelah, mood tidak stabil,” paparnya.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved