Ramai Tren Diet di Media Sosial, Dokter Beberkan Fakta yang Bikin Merinding
Sumber protein dapat berasal dari hewani maupun nabati, sementara karbohidrat disarankan dari jenis kompleks agar tidak cepat meningkatkan gula darah
Ringkasan Berita:
- Mengganti camilan tinggi gula, tepung, dan minyak dengan buah juga dinilai sebagai langkah sederhana yang dapat memberikan dampak besar bagi kesehatan.
- Sumber protein dapat berasal dari hewani maupun nabati, sementara karbohidrat disarankan dari jenis kompleks agar tidak cepat meningkatkan gula darah
- Bahan segar, penggunaan bumbu alami, serta teknik memasak yang tepat dinilai jauh lebih penting dibandingkan sekadar mengikuti tren diet tertentu
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Memasuki tahun 2026, tren hidup sehat kembali menguat di tengah masyarakat. Beragam pola diet ramai digaungkan, mulai dari diet tinggi protein, rendah karbohidrat, hingga metode makan tertentu yang diklaim mampu menurunkan berat badan dan membuat tubuh lebih bugar.
Baca juga: Pastikan Makanan Bergizi Aman, Polres Batu Bara Gelar Program Safety Food
Namun dibalik maraknya tren tersebut, dokter spesialis gizi klinik dr Nita, M.Gizi, Sp.GK, mengingatkan bahwa tidak semua pola diet cocok diterapkan oleh setiap orang, terlebih jika dijalankan tanpa memahami kondisi tubuh masing-masing.
Dr Nita menegaskan bahwa setiap pola diet memiliki sisi positif dan negatif. Tubuh manusia tidak bekerja dengan satu rumus yang sama karena kebutuhan nutrisi, kondisi kesehatan, hingga respons metabolisme tiap individu berbeda-beda.
“Sebenarnya, semua pola diet itu pasti ada positif, ada negatif, dan yang pasti tidak semua pola diet itu sesuai untuk semua orang,” ujar dr Nita dalam talkshow kesehatan virtual yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Senin (2/2/2026).
Menurut dr. Nita, pola makan seseorang terbentuk sejak masa kanak-kanak dan berlangsung hingga dewasa. Karena itu, perubahan pola makan secara mendadak dan ekstrem berpotensi membuat tubuh tidak siap beradaptasi.
“Hati-hati kalau kita menerapkan satu pola diet yang digaung-gaungkan, ini baik, ini baik. Kita perlu tanya dulu, ini baik buat siapa, karena yang baik buat orang lain belum tentu cocok untuk saya,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa konsep pola makan tidak mengenal istilah one size fits all. Bahkan, respons tubuh terhadap makanan juga dapat dipengaruhi oleh faktor genetik dan kondisi kesehatan tertentu.
Dalam praktiknya, dr Nita kerap menemui pasien usia muda yang datang berkonsultasi dengan keluhan kesehatan akibat pola diet ekstrem.
“Ada beberapa pasien yang datang konsultasi untuk masalah ginjal padahal masih muda usianya, karena asupan protein yang berlebihan,” ungkapnya.
Baca juga: Sudah Diet Ketat Tapi BB Tak Turun? Dokter Gizi Bongkar Kesalahan yang Sering Disepelekan
Di sisi lain, konsumsi makanan dan minuman manis yang berlebihan juga menjadi masalah serius. Dr. Nita menyebut, kasus diabetes kini semakin banyak ditemukan pada usia yang relatif muda.
Selain itu, pola makan tinggi lemak juga menjadi perhatian. Indonesia bahkan disebut sebagai salah satu negara dengan asupan lemak tertinggi, meski memiliki kekayaan sumber pangan yang sangat beragam dan sehat.
Masih banyak orang menjadikan angka timbangan sebagai satu-satunya indikator keberhasilan diet. Padahal, menurut dr Nita, berat badan hanyalah salah satu parameter awal.
Pemantauan berat badan memang penting untuk melihat kecenderungan kelebihan atau kekurangan asupan. Namun untuk memastikan kondisi kesehatan secara menyeluruh, pemeriksaan medis tetap diperlukan.