Gangguan Lambung Tak Boleh Dianggap Sepele, Waspadai Tanda Penyakit Serius
Keluhan lambung seperti nyeri ulu hati, mual, perut kembung, atau rasa cepat kenyang kerap dianggap sebagai masalah ringan.
Ringkasan Berita:
- Keluhan lambung seperti nyeri ulu hati, mual, dan kembung sering dianggap ringan, padahal bisa menjadi tanda awal gangguan serius termasuk kanker lambung
- Salah satu pemicunya adalah infeksi Helicobacter pylori yang kerap tanpa gejala jelas \
- Deteksi dini melalui pemeriksaan yang tepat dinilai penting untuk mencegah komplikasi dan meningkatkan keberhasilan penanganan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Keluhan lambung seperti nyeri ulu hati, mual, perut kembung, atau rasa cepat kenyang kerap dianggap sebagai masalah ringan.
Padahal, gejala-gejala tersebut bisa menjadi tanda awal gangguan serius pada saluran pencernaan, termasuk kanker lambung, apabila tidak terdeteksi dan ditangani sejak dini.
Salah satu penyebab yang sering luput disadari adalah infeksi bakteri Helicobacter pylori (H. pylori).
Bakteri ini diketahui menginfeksi lebih dari separuh populasi dunia dan dapat memicu berbagai gangguan, mulai dari gastritis kronis, tukak lambung, hingga meningkatkan risiko kanker lambung. Karena gejalanya tidak spesifik, banyak pasien baru menyadari infeksi tersebut ketika penyakit telah berkembang lebih lanjut.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Gastroenterohepatologi, David Reinhard Sumantri Samosir, menjelaskan bahwa deteksi dini memegang peranan penting dalam mencegah komplikasi yang lebih berat.
Menurutnya, diagnosis infeksi H. pylori dapat dilakukan melalui pemeriksaan non-invasif seperti Urea Breath Test (UBT) maupun pemeriksaan invasif melalui endoskopi dan biopsi lambung.
“Urea Breath Test menjadi pilihan utama pemeriksaan non-invasif karena memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi. Selain mendeteksi ada atau tidaknya infeksi H. pylori, UBT juga digunakan untuk mengevaluasi keberhasilan terapi atau mendeteksi kekambuhan infeksi,” ujarnya di Jakarta, belum lama ini.
Ia menambahkan, infeksi H. pylori tidak hanya berdampak pada lambung. Sejumlah penelitian menunjukkan bakteri ini juga berkaitan dengan peningkatan risiko terbentuknya polip di usus besar, yang pada kondisi tertentu dapat berkembang menjadi keganasan.
Karena itu, deteksi dan pengobatan sejak dini dinilai sangat penting, terutama bagi pasien yang kerap mengalami gangguan pencernaan.
Penyebab Kematian Tertinggi
Secara global, kanker lambung masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi akibat kanker. Setiap tahun, sekitar satu juta kasus baru kanker lambung terdiagnosis di seluruh dunia, dengan angka kematian mencapai sekitar 700.000 orang.
Tantangan utama penanganan kanker lambung adalah gejala awal yang tidak khas, sehingga banyak pasien datang dalam kondisi lanjut dengan peluang kesintasan yang lebih rendah.
Selain UBT, pemeriksaan endoskopi juga menjadi bagian penting dalam evaluasi gangguan saluran cerna. Prosedur ini memungkinkan dokter melihat kondisi lambung dan usus secara langsung, mendeteksi peradangan, tukak, polip, hingga lesi yang dicurigai sebagai kanker.
Baca juga: Kasus Kanker pada Usia Produktif Jadi Sorotan dalam Pertemuan Ilmiah di Jakarta
“Pemeriksaan endoskopi tersedia untuk saluran cerna atas dan bawah, termasuk gastroskopi dan kolonoskopi, serta prosedur khusus seperti kapsul endoskopi dan nasal endoskopi,” jelas dr. David.
Pada kondisi tertentu, terutama jika ditemukan keganasan, pasien memerlukan penanganan lebih lanjut oleh dokter bedah digestif. Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Digestif, Mudatsir, menyampaikan bahwa penanganan kanker saluran cerna bersifat sangat individual.
“Strategi terapi ditentukan berdasarkan kondisi pasien, ukuran tumor, serta luas penyebarannya. Selama kanker belum menyebar secara luas, operasi dapat dilakukan secara kuratif untuk menurunkan risiko kekambuhan,” ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ILUSTRASI-Lambung-8.jpg)