Selasa, 21 April 2026

Ramadan 2026

Keluhan Jerawat dan Gangguan Menstruasi Melonjak di Awal Ramadan

Menurut dokter umum dr Irwan Heriyanto, fase awal Ramadan merupakan periode adaptasi biologis yang krusial bagi tubuh.

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
Ringkasan Berita:
  • Menurut laporan Indonesia Health Insights Report 2026 Q1, pada minggu pertama puasa, gangguan menstruasi meningkat rata-rata lebih 44 persen dibandingkan rata-rata mingguan sebelum Ramadan 2025
  • Termasuk, keluhan kulit yang muncul meliputi jerawat meradang, bruntusan, komedo, bekas jerawat yang memburuk, serta rasa gatal dan kemerahan
  • Temuan ini menunjukkan bahwa adaptasi Ramadan tidak hanya berdampak pada pencernaan, tetapi juga menyentuh kesehatan kulit dan reproduksi

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ramadan identik dengan perubahan ritme hidup. Jam makan bergeser, pola tidur berubah, dan tubuh dipaksa beradaptasi dalam waktu singkat. 

Di balik keluhan umum seperti gangguan pencernaan, ada masalah kesehatan lain yang jarang disorot namun justru meningkat tajam pada minggu pertama puasa yaitu jerawat dan gangguan menstruasi.

Laporan Indonesia Health Insights Report 2026 Q1 dari Halodoc mencatat gangguan pencernaan masih menjadi keluhan terbanyak di awal Ramadan

Maag dan GERD melonjak dibandingkan rata-rata mingguan sebelum puasa, dengan puncak keluhan konsisten muncul pada hari ke-3 Ramadan selama dua tahun terakhir.

Bersamaan dengan itu, 68 persen pengguna juga melaporkan pusing berputar atau vertigo. 

Baca juga: Perempuan Masih Hadapi Krisis Kesehatan, Akses Informasi Terkait Menstruasi Terbatas

Analisis data menunjukkan kondisi ini banyak dipicu perubahan pola tidur, kelelahan, dan dehidrasi saat tubuh menyesuaikan diri dengan ritme biologis baru.

Namun yang menarik, laporan tersebut menyoroti lonjakan keluhan kesehatan yang kerap luput dari perhatian. 

Pada minggu pertama puasa, gangguan menstruasi meningkat rata-rata lebih 44 persen dibandingkan rata-rata mingguan sebelum Ramadan 2025. 

Sementara itu, konsultasi terkait jerawat naik sebesar lebih 22 persen.

Sepanjang Ramadan, perempuan paling sering berkonsultasi soal telat haid, haid tertunda selama puasa, flek di luar jadwal, hingga nyeri haid yang terasa lebih berat. 

Di sisi lain, keluhan kulit yang muncul meliputi jerawat meradang, bruntusan, komedo, bekas jerawat yang memburuk, serta rasa gatal dan kemerahan.

Menurut dokter umum dr Irwan Heriyanto, fase awal Ramadan merupakan periode adaptasi biologis yang krusial bagi tubuh.

“Perubahan rutinitas seperti jam makan dan tidur selama Ramadan mempengaruhi keseimbangan hormon dan metabolisme tubuh,"ungkap dr Irwan pada keterangannya, Kamis (19/2/2026). 

Kurang tidur, konsumsi makanan tinggi gula saat berbuka, serta perubahan pola hidrasi dapat memicu peradangan kulit. 

"Pada sebagian orang yang terbiasa minum kopi setiap hari, penghentian asupan kafein saat mulai berpuasa juga dapat menyebabkan menurunnya konsentrasi dan menimbulkan sakit kepala,"lanjutnya. 

Ia menambahkan bahwa adaptasi tubuh dan tingkat stres selama puasa turut berdampak pada kesehatan reproduksi perempuan. 

“Oleh karena itu, penting untuk mempersiapkan tubuh secara menyeluruh, tidak hanya berfokus pada kesehatan pencernaan saja,” jelasnya.

Laporan tersebut merangkum sejumlah panduan praktis agar masyarakat dapat melewati minggu pertama Ramadan dengan lebih nyaman. 

Untuk menjaga kesehatan pencernaan dan energi tubuh, disarankan menerapkan pola minum bertahap 2–4–2 antara berbuka hingga sahur, meningkatkan konsumsi serat dan buah, serta membatasi makanan tinggi gula dan minuman bersoda. 

Aktivitas fisik ringan juga dianjurkan untuk menjaga metabolisme, disertai dukungan vitamin C dan zinc sesuai kebutuhan.

Dari sisi kesehatan kulit, pengurangan konsumsi makanan tinggi gula dinilai penting untuk menekan peradangan. 

Waktu tidur yang cukup, pengelolaan stres, serta penggunaan perawatan dasar kulit secara konsisten membantu menjaga skin barrier. 

Konsultasi medis dianjurkan jika jerawat memburuk atau sering kambuh.

Sementara untuk kesehatan reproduksi wanita, pemenuhan gizi seimbang dan cairan menjadi kunci. 

Ritme tidur perlu diatur agar keseimbangan hormon tetap terjaga. Perempuan dengan riwayat nyeri haid berat, PCOS, atau siklus tidak teratur disarankan berkonsultasi dengan dokter.

Temuan ini menunjukkan bahwa adaptasi Ramadan tidak hanya berdampak pada pencernaan, tetapi juga menyentuh kesehatan kulit dan reproduksi. 

Dengan persiapan yang tepat dan kesadaran terhadap sinyal tubuh, masyarakat dapat menjalani puasa dengan lebih nyaman sekaligus menjaga keseimbangan kesehatan secara menyeluruh.

(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved