Selasa, 21 April 2026

DBD Jadi Perhatian, Menkes: Kasus Tidak Tinggi tapi Kematian Harus Diwaspadai

Menkes sebut kasus DBD di Indonesia lebih rendah daripada TBC, HIV, dan malaria, tapi angka kematiannya masih relatif tinggi.

Tribunnews/JEPRIMA
PASIEN DBD - Perawat memeriksa pasien demam berdarah dengue (DBD) pada ruang perawatan pasien di RSUD Taman Sari, Jakarta Barat, Rabu (17/4/2024). Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebut kasus DBD di Indonesia lebih rendah daripada TBC, HIV, dan malaria, tapi angka kematiannya masih relatif tinggi. 

Ringkasan Berita:
  • Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan kasus DBD di Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan TBC, HIV, dan malaria, namun angka kematiannya relatif tinggi.
  • Penularan DBD banyak terjadi di perkotaan dan dipengaruhi pola musiman serta perubahan iklim seperti El Niño, meski kasus saat ini sudah membaik dibanding puncak 2023-2024.
  • Pemerintah berharap angka kematian DBD bisa ditekan lebih rendah dengan penanganan cepat dan pemberantasan sarang nyamuk.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyatakan, demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia masih jadi perhatian serius pemerintah.

Meski kasusnya tidak setinggi penyakit menular lain, namun penyakit dari gigitan nyamuk aedes aegypti ini menimbulkan angka kematian yang relatif tinggi.

Ia menjelaskan, jika dibandingkan dengan penyakit menular lain seperti Tuberkulosis, HIV, dan Malaria, jumlah kasus DBD di Indonesia masih jauh lebih rendah. Namun, tingkat fatalitasnya tetap menjadi perhatian serius.

Jika penyakit campak bisa menulari 12-18 orang dengan rata-rata 15 orang, DBD hanya 2-10, dengan rata-ratanya 5-6 orang.

“DBD bukan penyakit dengan jumlah kasus terbanyak, tetapi angka kematiannya cukup tinggi,” ujar Budi dalam rapat bersama Komisi IX DPR di Jakarta, Senin (20/4).

Dalam setahun, kasus TBC di Indonesia ada 1 juta kasus, HIV ada 570 ribu, malaria 522 ribu sementara kasus DBD 150 ribu.

“Tapi kalau dari kematian, DBD lebih di atas daripada malaria,” ungkap dia.

Baca juga: Menkes Soroti Pemasangan Ring Jantung yang Tak Perlu pada Pasien BPJS, Aturan Akan Diperketat

Rawan di Wilayah Perkotaan

Menurutnya, penularan dengue sering terjadi di wilayah perkotaan.

DBD juga memiliki pola musiman yang sangat dipengaruhi oleh perubahan iklim, termasuk fenomena El Niño. Saat kondisi El Niño meningkat, kasus dengue biasanya ikut melonjak, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di berbagai negara lain.

Kondisi kasus DBD kini sudah relatif membaik, jika dibandingkan dengan puncak kasus DBD di tahun 2023-2024.

Dari sisi medis, penanganan DBD sebenarnya sudah dipahami dengan baik oleh tenaga kesehatan di Indonesia. Karena itu, mantan direktur Bank Mandiri ini berharap angka kematian seharusnya bisa ditekan lebih rendah jika pasien mendapatkan penanganan yang tepat dan cepat.

“Dokter-dokter kita sudah tahu cara merawat dengue dengan baik. Harusnya kematian bisa sangat rendah,” katanya.

Sayangnya di tanah air, sebagian kasus kematian terjadi saat pasien terlambat ditangani atau berkembang menjadi kondisi berat seperti dengue shock syndrome. Oleh karena itu, penguatan layanan kesehatan di rumah sakit daerah menjadi penting untuk menurunkan angka kematian.

Baca juga: Menkes Sebut Penularan Campak Jauh Lebih Tinggi dari Covid-19, Satu Orang Bisa Menulari 18 Orang

Selain itu, upaya pengendalian juga harus dilakukan dari sisi lingkungan, terutama dengan memberantas sarang nyamuk di kawasan perkotaan yang menjadi pusat penyebaran DBD.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved