Selasa, 14 April 2026

Perjanjian Dagang RI dengan AS

Indonesia dan AS Sepakat Impor Daging Babi, Pakar Ingatkan Risiko Kesehatan dan Biosekuriti

Kebijakan masuknya produk daging babi ke Indonesia dengan kuota 3.000 metrik ton per tahun.memicu diskusi publik, khususnya dari aspek kesehatan.

Kemudian Taenia solium yang menyebabkan neurocysticercosis dan menjadi penyebab utama epilepsi sekunder di negara berkembang.

Penularan hepatitis E genotipe 3 melalui konsumsi daging babi kurang matang juga pernah dilaporkan di Jepang dan Eropa.

Dalam manajemen risiko global, babi dikenal sebagai mixing vessel dalam dinamika virus, seperti kasus H1N1 tahun 2009 yang melibatkan reassortment virus babi.

Meski demikian, Dicky menegaskan faktor penentu ancaman bukan sekadar jenis hewannya, melainkan sistem biosecurity peternakan dan tata kelola distribusinya.

Risiko Sosial dan Reputasi Pemerintah

Dalam konteks Indonesia sebagai negara mayoritas muslim, risiko yang muncul tidak hanya biologis. 

Potensi cross contamination logistik, ketidaksiapan sistem segregasi, dan lemahnya pengawasan cold chain menjadi perhatian.

Ia juga menyoroti risiko sosial seperti ketegangan antar komunitas, disinformasi viral di media sosial, hingga politisasi isu pangan.

Menurutnya, pemerintah harus melakukan identifikasi risiko, penilaian risiko, mitigasi risiko, dan komunikasi risiko secara transparan.

Sehingga publik tidak menilai kebijakan ini mengabaikan sensitivitas agama atau keamanan pangan demi perdagangan.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved