Perjanjian Dagang RI dengan AS
Perjanjian Dagang RI–AS Diteken, Ford Masih Tunggu Implementasi Nyata
Meski belum tahu dampaknya, Ford tetap optimistis terhadap pasar Indonesia dan menilai Indonesia sebagai pasar strategis jangka panjang.
Ringkasan Berita:
- Ford menunggu kejelasan implementasi kesepakatan dagang RI–AS yang menghapus bea masuk lebih dari 99 persen produk Amerika, karena detail teknisnya belum diumumkan.
- Meski belum tahu dampaknya, Ford tetap optimistis terhadap pasar Indonesia dan menilai Indonesia sebagai pasar strategis jangka panjang.
- Ford mempercepat ekspansi jaringan, dengan membuka tiga Ford Experience Center dalam tiga bulan dan menyiapkan beberapa model baru untuk diluncurkan pada 2026.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perkembangan kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan Indonesia dalam dua pekan terakhir dinilai masih belum memberikan gambaran rinci bagi pelaku industri otomotif, termasuk Ford di Indonesia.
Sebagai pabrikan mobil asli Amerika Serikat, Ford tentu berharap bisa mendapatkan keuntungan dari kesepakatan dagang antar dua negara.
Regional Director RMA Indonesia Roelof Lamberts mengatakan, hingga kini pihaknya baru melihat garis besar dari kesepakatan dagang tersebut.
Baca juga: Menko Airlangga Tegaskan Tarif Dagang RI-AS Turun Jadi 15 Persen
"Rinciannya belum diketahui. Kita semua baru melihat garis besar kesepakatan dagang tersebut. Apa yang nantinya akan diimplementasikan dan seberapa cepat, itu masih harus kita lihat. Saya rasa kita akan mendapatkan kejelasan lebih lanjut dalam beberapa minggu atau bulan ke depan," tutur Lamberts kepada Wartawan di Ford Experience Center, Sunter, Jakarta Utara, Kamis (5/3/2026).
Pada 19 Februari 2026, Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump resmi menandatangani perjanjian perdagangan bilateral yang disebut Agreement on Reciprocal Trade (ART) di Washington, D.C.
Dalam kesepakatan tersebut, Indonesia sepakat untuk menghapus bea masuk atau menjadi 0 persen bagi lebih dari 99 persen produk asal Amerika Serikat. Ini mencakup sektor pertanian (kedelai, gandum), otomotif, kimia, hingga produk kesehatan.
Ford sendiri belum dapat memastikan apakah perkembangan perdagangan AS-Indonesia tersebut akan membawa keuntungan langsung bagi merek Ford di pasar domestik, mengingat implementasi teknisnya masih menunggu kejelasan.
Di sisi lain, Lamberts menyatakan bahwa Ford RMA tetap memandang Indonesia sebagai pasar strategis untuk jangka panjang. Komitmen tersebut tercermin dari ekspansi jaringan yang agresif sepanjang awal tahun ini.
"Ford RMA percaya pada Indonesia sebagai pasar penting untuk masa depan. Kami tetap berkomitmen, dan saya rasa pembukaan Ford Experience Center pertama kami hari ini adalah bukti terbaik untuk itu," terangnya.
Dalam tiga bulan pertama tahun ini, Ford RMA telah membuka tiga gerai, menandakan optimisme merek terhadap pasar Indonesia.
"Kami baru berjalan tiga bulan di tahun baru ini dan ini sudah gerai ketiga yang kami buka. Yang pertama di PIK pada bulan Januari, yang kedua di MT Haryono pada bulan Februari dan sekarang di sini, di Sunter, pada bulan Maret. Jadi, itu adalah bukti bahwa kami menanggapinya dengan sangat serius," ungkap Lamberts.
Produk Baru
Terkait rencana produk, Ford memastikan akan ada model-model baru yang meluncur tahun ini. Namun brand belum bersedia mengungkap detail waktu maupun lokasi peluncuran.
"Akan ada model-model baru. Kami akan menginformasikannya pada waktu yang tepat dan kami akan memutuskan kapan serta di mana tempat yang tepat untuk peluncurannya," ujarnya.
Saat ditanya lebih lanjut mengenai jumlah model yang akan diperkenalkan di tahun 2026, Lamberts memberi sedikit bocoran.
"Akan ada beberapa model, jadi lebih dari satu," terangnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Regional-Director-RMA-Indonesia-Roelof-Lamberts-870.jpg)