Jumat, 17 April 2026

Ramai Isu Kelinci Percobaan, Ini Penjelasan Ilmiah Soal Keamanan Vaksin HPV

Program imunisasi HPV bagi anak usia 11 tahun di DI Yogyakarta itu ditegaskan bukan eksperimen melainkan bagian dari strategi pencegahan kanker servik

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: willy Widianto
Ringkasan Berita:
  • Muncul narasi yang menyebut anak-anak dijadikan “kelinci percobaan”
  • Vaksin HPV telah melewati proses panjang dan ketat, mulai dari uji pra-klinis di laboratorium dan hewan.
  • Vaksin ini pertama kali disetujui pada tahun 2006 oleh World Health Organization (WHO)

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Program imunisasi Human Papillomavirus (HPV) bagi anak usia 11 tahun yang disiapkan Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memicu perbincangan di ruang publik. Di tengah upaya pemerintah menekan angka kanker serviks yang masih tinggi di Indonesia, muncul narasi yang menyebut anak-anak dijadikan “kelinci percobaan”.

Baca juga: Mulai 2025, Pemberian Vaksin HPV pada Anak Sekolah Cukup Satu Dosis

Isu tersebut menyebar seiring kekhawatiran sebagian orangtua terhadap keamanan vaksin. Namun para pakar kesehatan menegaskan, tudingan itu tidak berdasar dan bertentangan dengan fakta ilmiah yang telah teruji hampir dua dekade di berbagai negara.

Epidemiolog dan pakar kesehatan global Dicky Budiman secara tegas membantah anggapan bahwa vaksin HPV bersifat eksperimental.

“Apakah vaksin HPV pada anak-anak dianggap sebagai kelinci percobaan? Tentu ini jelas tidak benar. Karena vaksin Human Papilloma Virus atau HPV itu sudah melalui tahapan pengembangan standar internasional,” ujarnya kepada Tribunnews, Selasa (24/2/2026).

Menurut Dicky, istilah “kelinci percobaan” seolah menggambarkan bahwa vaksin tersebut belum melalui uji klinis atau masih dalam tahap eksperimen. Padahal, vaksin HPV telah melewati proses panjang dan ketat, mulai dari uji pra-klinis di laboratorium dan hewan, uji keamanan fase 1 pada manusia, uji dosis dan imunogenisitas fase 2, hingga uji efektivitas dan keamanan fase 3 pada ribuan partisipan.

Vaksin ini pertama kali disetujui pada 2006 oleh World Health Organization (WHO), European Medicines Agency, serta Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat. Sejak saat itu, vaksin HPV masuk dalam program imunisasi nasional di lebih dari 125 negara.

Baca juga: Hasil Uji Coba Skrining DNA HPV dengan Model Hub-and-Spoke di Jawa Timur

Artinya, vaksin tersebut telah digunakan hampir 20 tahun secara global dengan ratusan juta dosis diberikan. Sejumlah penelitian menunjukkan penurunan signifikan infeksi HPV risiko tinggi, kutil kelamin, lesi prakanker serviks, hingga kanker serviks usia muda di negara dengan cakupan vaksinasi tinggi.

Bahkan Australia diproyeksikan menjadi salah satu negara pertama yang hampir mengeliminasi kanker serviks sebelum 2035 berdasarkan pemodelan data WHO.

Isu Keamanan

Narasi “kelinci percobaan” juga kerap dikaitkan dengan isu risiko kematian akibat vaksin. Dicky menegaskan, pemantauan lembaga global seperti Centers for Disease Control and Prevention (CDC), WHO, dan Global Advisory Committee on Vaccine Safety tidak menemukan bukti hubungan sebab-akibat antara vaksin HPV dan kematian.

Efek samping yang paling sering dilaporkan umumnya ringan, seperti nyeri di lokasi suntikan, demam ringan, dan pusing sementara. Kejadian berat sangat jarang, kurang dari satu per 100 ribu dosis, dan biasanya berupa reaksi alergi yang masih dapat ditangani.

Baca juga: Ketahui Berapa Batasan Usia Penerima Vaksin HPV 

Berbagai meta-analisis besar yang dipublikasikan di jurnal internasional seperti The Lancet, BMJ, dan Vaccine juga menunjukkan profil keamanan vaksin HPV sangat baik, bahkan setelah ratusan juta dosis diberikan.

Dengan demikian, program imunisasi HPV bagi anak usia 11 tahun di DIY ditegaskan bukan eksperimen, melainkan bagian dari strategi pencegahan kanker serviks berbasis bukti ilmiah. Pemerintah berharap masyarakat dapat memilah informasi dan tidak terpengaruh narasi yang menyesatkan, demi melindungi generasi muda dari risiko kanker di masa depan.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved