Dipuji WHO Tapi Indonesia Masih Zona Merah Zoonosis, Ini Kata Epidemiolog
Deforestasi dan fragmentasi habitat membuat interaksi antara manusia dan satwa liar semakin intens membuka peluang perpindahan patogen kepada manusia.
Ringkasan Berita:
- Pengendalian zoonosis tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah pusat, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif dari masyarakat luas.
- Tantangan zoonosis bukan sekadar persoalan kesehatan, melainkan menyangkut masa depan ketahanan nasional
- Indonesia berisiko menghadapi ancaman wabah yang lebih besar di masa mendatang
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Di tengah sorotan positif dari dunia internasional, termasuk apresiasi World Health Organization (WHO) terhadap langkah Indonesia dalam mengendalikan penyakit menular, realitas di lapangan menunjukkan gambaran yang lebih kompleks. Indonesia masih berada dalam kategori wilayah berisiko tinggi terhadap kemunculan penyakit zoonosis baru.
Baca juga: Berpotensi Zoonosis, Waspadai KLB Flu Burung
Ancaman yang tidak hanya berkaitan dengan kesehatan masyarakat, tetapi juga berpotensi memicu krisis besar jika tidak ditangani secara terintegrasi. Kondisi ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor lingkungan, lemahnya sistem kesehatan, hingga rendahnya kesadaran masyarakat, yang secara keseluruhan membuat Indonesia berada dalam posisi “menjanjikan namun tetap rentan”.
Epidemiolog Dicky Budiman mengungkapkan, secara ekologis dan epidemiologis, Indonesia masuk dalam kategori “red zone” untuk kemunculan zoonosis baru. Artinya, potensi munculnya penyakit yang menular dari hewan ke manusia di Indonesia tergolong tinggi.
“Indonesia ini masuk kategori red zone emerging zoonosis,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).
Menurut Dicky, tingginya risiko tersebut tidak lepas dari tekanan terhadap lingkungan. Deforestasi dan fragmentasi habitat membuat interaksi antara manusia dan satwa liar semakin intens, membuka peluang perpindahan patogen ke manusia.
Di sisi lain, urbanisasi yang berlangsung cepat tanpa perlindungan ekologi yang memadai, serta praktik peternakan intensif yang belum dilengkapi sistem biosekuriti yang kuat, turut memperbesar risiko penularan.
Indonesia juga masih menjadi hotspot bagi sejumlah penyakit zoonosis seperti flu burung, leptospirosis, dan rabies yang masih ditemukan di berbagai daerah.
Tak hanya faktor lingkungan, kelemahan dalam sistem kesehatan turut menjadi tantangan serius. Dicky menyoroti sistem surveilans yang belum terintegrasi secara optimal antara data manusia, hewan, dan lingkungan.
Sistem peringatan dini pun dinilai masih bersifat reaktif, belum mampu memprediksi potensi wabah secara lebih dini. Selain itu, keterbatasan tenaga ahli seperti epidemiolog veteriner juga memperlambat penguatan respons terhadap ancaman zoonosis.
Pendekatan lintas sektor melalui konsep One Health sebenarnya telah dikenal, namun implementasinya di Indonesia dinilai belum optimal. Ego sektoral dan belum adanya sistem komando terpadu membuat koordinasi antarinstansi kerap terhambat.
Di tingkat masyarakat, rendahnya literasi mengenai zoonosis menyebabkan banyak kasus tidak terdeteksi sejak awal. Pola komunikasi risiko yang belum efektif juga memperburuk situasi, karena masyarakat belum sepenuhnya memahami potensi bahaya penyakit ini.
Baca juga: Makna Pujian WHO terhadap Sistem Kesehatan RI Menurut Pakar
Dicky menilai, meski Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin regional dalam penerapan One Health, bahkan sebagai pusat rujukan di kawasan, hal tersebut hanya dapat terwujud jika ada reformasi sistem yang menyeluruh.
“Posisi terbaik Indonesia saat ini ya menjanjikan atau promising but still vulnerable,” ungkapnya.
Ia menekankan pentingnya penguatan surveilans berbasis prediksi, penyediaan pembiayaan khusus untuk zoonosis, serta pelibatan masyarakat sebagai garda terdepan dalam deteksi dini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/dicky-budiman-93849.jpg)