Cerita dari Pasien Jantung di RSUD Kota Bima, Antara Sesak dan Harapan
Di tengah keterbatasan fasilitas, pasien jantung di RSUD Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, tetap menggantungkan harapan untuk sembuh.
Ringkasan Berita:
- Pasien jantung di RSUD Kota Bima, Nusa Tenggara Barat tetap menggantungkan harapan untuk sembuh.
- Harapan ini muncul di tengah keterbatasan fasilitas Rumah Sakit.
TRIBUNNEWS.COM, BIMA --Di tengah keterbatasan fasilitas, pasien jantung di RSUD Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, tetap menggantungkan harapan untuk sembuh.
Sejak Mei 2025, RSUD Kota Bima dibangun ulang agar bisa naik tingkat dari tipe D ke tipe C.
Pembangunan RSUD Kota Bima merupakan bagian dari Program Quick Win Presiden Prabowo Subianto, guna memastikan 66 kabupaten/kota yang belum memiliki rumah sakit tipe C segera terpenuhi.
Baca juga: RSUD Kota Bima Naik Jadi Tipe C, Menkes: Bisa Pangkas Rujukan Pasien ke Luar Daerah
Anggita (27) telah sepekan dirawat akibat gangguan jantung disertai penumpukan cairan, sesak napas, gangguan irama jantung, dan anemia.
“Saat masuk ICU, Alhamdulillah membaik. Sesak nafasnya berkurang,” kata dia saat berbincang di ruang rawatnya pada Jumat (27/2/2025).
Kini kondisinya sudah berangsur-angsur stabil, meski jika hendak duduk, sesak nafas itu muncul lagi.
Anggita juga mengeluhkan rasa sakit pada bagian panggul karena terlalu lama berbaring dan berharap ada tambahan layanan fisioterapi untuk membantu pemulihan.
Pasien lain Riza (24), warga Kota Bima, sudah berhari-hari dirawat akibat gangguan irama jantung.
Namun hingga kini, Riza belum mengetahui secara pasti nama maupun penyebab penyakitnya.
Ia mengaku belum mendapat edukasi yang jelas dari dokter, ditambah keterbatasan alat medis untuk mendeteksi atau mendiagnosa kondisinya secara menyeluruh.
Gangguan itu pertama kali muncul lima tahun lalu saat ia berolahraga dan tiba-tiba merasakan jantungnya berdebar kencang.
“Seringnya rawat jalan saja dan baru ini saya harus dirawat inap selama tiga hari. Diawali masuk IGD. Dalam perawatan, ia dipasangi monitor jantung dan mendapatkan bantuan oksigen,” kata dia.
Ia menilai respons perawat cukup cepat dan komunikasi dokter mudah dipahami.
Meski begitu, Riza berharap ke depan edukasi kepada pasien bisa ditingkatkan, fasilitas pemeriksaan lebih memadai, serta proses rawat jalan bisa lebih mudah.
Ruang Rawat Jauh dari Ideal
Ruang rawat inap pasien jantung di rumah sakit ini diisi empat tempat tidur dalam satu ruangan serta dilengkapi satu kamar mandi.
Jarak antar tempat tidur dipisahkan tirai dengan kondisi fisik ruangan terlihat memprihatinkan.
Dinding mulai dipenuhi bercak lembab dan jamur yang menghitam di beberapa sudut.
Cat berwarna putih juga mulai mengelupas menandakan usia bangunan yang sudah tua.
Sirkulasi udara juga kurang optimal karena pendingin ruangan tidak dapat digunakan, membuat ruangan terasa redup dan kurang nyaman bagi pemulihan pasien yang membutuhkan ketenangan.
Setiap Minggu Rujuk Dua Kasus Jantung ke Provinsi NTB
Direktur RSUD Kota Bima, Fathurrahman, mengakui bahwa kebutuhan layanan kanker, jantung, stroke, ginjal atau urologi (KJSU) serta kesehatan ibu dan anak (KIA) menjadi kebutuhan mendesak di kota Bima.
Perjalanan rujukan ke provinsi memakan waktu belasan jam menggunakan jalur darat dan harus harus melewati laut. Dalam kondisi darurat, perjalanan 14-16 jam ini berisiko tinggi bagi pasien.
“Hampir setiap minggu kami merujuk kasus-kasus KJSU. Mungkin seminggu dua kasus kami rujuk ke Mataram. Kadang-kadang pasien kritis tidak selamat di jalan,” ungkapnya.
Di rumah sakit baru, layanan KJSU akan dikembangkan secara serius dengan dilengkapi alat modern yang canggih.
Seperti cath lab untuk tindakan jantung seperti pemasangan ring, hemodialisa untuk pasien ginjal (uro-nefro), penguatan layanan stroke dengan CT scan, layanan kanker termasuk penanganan sitotoksik serta fokus kesehatan ibu dan anak misalnya kasus melahirkan dengan penyulit.
Dari sisi sumber daya manusia, dr Fathur mengatakan, rumah sakit telah memiliki tenaga medis mendekati standar tipe C.
“Tapi kami belum ada dokter spesialis THT dan dokter Anestesi yang masih berstatus kontrak. Kami ingin dokter yang sudah menjadi ASN,” harap dia.
Upaya memenuhi SDM, Manajemen juga mendorong dokter ASN untuk melanjutkan pendidikan guna memperkuat layanan spesialistik.
Rencana pemindahan ke gedung baru dijadwalkan pada Juli 2026.
Setelah itu, rumah sakit akan mengurus izin operasional baru dan proses akreditasi ulang sebagai tipe C.
RSUD Kota Bima dengan tampilan baru direncanakan sepenuhnya beroperasi pada Agustus 2026.
Kisah Anggita dan Riza menjadi gambaran nyata layanan kesehatan di daerah. Di satu sisi, tenaga medis berupaya memberikan pelayanan terbaik. Di sisi lain, keterbatasan fasilitas dan alat diagnostik masih menjadi tantangan besar yang perlu segera dibenahi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/pasien-jantung-bima.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.