Lebaran 2026
Kue Nastar dan Putri Salju Penyebab Utama Berat Badan Naik Usai Lebaran, Bukan Opor dan Rendang
Dengan memahami cara kerja tubuh, mengenali pola makan tak sadar lalu menerapkan strategi sederhana momen kebersamaan tetap hangat terjaga dengan baik
Ringkasan Berita:
- Tren kesehatan saat ini juga mendorong penggantian camilan tinggi kalori dengan opsi yang lebih bernutrisi, seperti kacang-kacangan.
- Kue Lebaran bukanlah sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya.
- Salah satu strategi yang disarankan adalah memilih kue yang benar-benar disukai
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Saat menjalani suasana hangatnya Lebaran, ada satu kebiasaan yang sering luput disadari namun berdampak besar pada kesehatan: kebiasaan “nyemil tanpa sadar”.
Baca juga: Daftar Makanan Lebaran yang Perlu Dibatasi Penderita Asam Urat: Cek Rendang & Emping!
Dari satu rumah ke rumah lain, tangan seperti otomatis meraih stoples kue di meja tamu seperti nastar, kastengel, putri salju yang tampak kecil, ringan, dan terasa tidak berbahaya.
Padahal, di momen inilah banyak orang tanpa sadar mengonsumsi kalori berlebih. Bukan dari opor atau rendang yang mengenyangkan, melainkan dari kue kering yang dimakan sedikit demi sedikit, tetapi terus-menerus.
Fenomena ini kini semakin menjadi perhatian dalam dunia kesehatan, seiring meningkatnya kesadaran tentang pola makan modern yang cenderung tidak disadari (mindless eating) dan berdampak pada lonjakan berat badan pasca hari raya.
Dokter di Medical Center Kompas Gramedia sekaligus Health Management Specialist Corporate HR Kompas Gramedia, dr Santi mengungkapkan bahwa kue Lebaran memiliki karakteristik yang 'menjebak': tinggi kalori, tetapi rendah nilai gizi.
“Kue itu biasanya hanya terdiri dari tepung, gula, mentega atau minyak. Kalorinya tinggi, tapi nilai gizinya minimal,” ujarnya dalam kanal YouTube Sonora FM, Rabu (25/3/2026).
Secara ilmiah, kondisi ini berkaitan dengan konsep energy density, yaitu jumlah kalori dalam setiap gram makanan. Kue kering memiliki energy density tinggi, tetapi tidak mengandung cukup protein atau serat yang berfungsi memberikan rasa kenyang lebih lama.
Baca juga: Resep Membuat Opor Ayam Nikmat untuk Sajian Lebaran Hari Raya Idul Fitri 2026
Akibatnya, otak tidak cepat menerima sinyal kenyang, sehingga seseorang cenderung terus makan tanpa sadar.
Dalam perspektif kesehatan kekinian, fenomena ini juga dikaitkan dengan dopamine driven eating atau kebiasaan makan yang dipicu rasa senang sesaat dari makanan manis dan berlemak. Kombinasi gula dan lemak dalam kue Lebaran terbukti dapat merangsang pusat reward di otak, membuat seseorang ingin terus mengonsumsinya meski tubuh sebenarnya tidak membutuhkan energi tambahan.
Berbeda dengan makanan utama seperti daging atau ayam yang kaya protein dan lebih mengenyangkan, kue kering justru bersifat “snackable” mudah dimakan berulang tanpa terasa. Inilah yang sering menyebabkan kelebihan kalori harian secara signifikan selama periode Lebaran.
Tak hanya berdampak pada berat badan, konsumsi berlebihan kue kering juga berpotensi memicu lonjakan gula darah secara cepat (blood sugar spike), terutama pada individu dengan risiko diabetes atau resistensi insulin. Lonjakan ini biasanya diikuti penurunan energi secara drastis, yang justru memicu rasa lapar kembali dalam waktu singkat.
Meski demikian, dr Santi menegaskan bahwa kue Lebaran bukanlah sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya. Kuncinya adalah pengendalian dan kesadaran dalam mengonsumsi.
Salah satu strategi yang disarankan adalah memilih kue yang benar-benar disukai, bukan sekadar mencicipi semua jenis yang tersedia di meja.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/kue-nastar-berempah-hingga-kue-putri-salju-keju-yang-bisa-diolah-60-menit.jpg)