Jumat, 17 April 2026

Kasus Campak Turun 93 Persen, Kemenkes Ungkap Data Terbaru dan Perluas Vaksinasi

Kemenkes RI melaporkan penurunan signifikan kasus suspek dan terkonfirmasi campak di Indonesia, Kemenkes ungkap data terbaru dan perluas vaksinasi.

Penulis: Lanny Latifah
Tribunnews.com/Rina Ayu Panca Rini
VAKSIN CAMPAK - Seorang dokter yang ditemui di sebuah klinik di Pasar Rebo, Jakarta Timur, Kamis (12/3/2026) sedang bersiap memberikan imunisasi campak pada seorang bayi berusia 18 bulan. Kemenkes RI melaporkan penurunan signifikan kasus suspek dan terkonfirmasi campak di Indonesia, ungkap data terbaru dan perluas vaksinasi. 
Ringkasan Berita:
  • Kemenkes RI melaporkan penurunan signifikan kasus suspek dan terkonfirmasi campak di Indonesia.
  • Tren penurunan terjadi secara konsisten di 14 provinsi dan 10 kabupaten/kota yang sebelumnya mengalami lonjakan kasus pada akhir 2025 hingga awal 2026.
  • Sebagai langkah antisipasi, pemerintah tengah mempercepat analisis uji klinis untuk memperluas cakupan vaksinasi campak pada kelompok dewasa, khususnya tenaga kesehatan.

 

TRIBUNNEWS.COM - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melaporkan penurunan signifikan kasus suspek dan terkonfirmasi campak di Indonesia.

Hingga minggu ke-12 tahun 2026, jumlah kasus harian tercatat turun hingga 93 persen, dari puncak 2.220 kasus pada awal tahun menjadi 146 kasus pada pertengahan Maret.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menyebut tren penurunan terjadi secara konsisten di 14 provinsi dan 10 kabupaten/kota yang sebelumnya mengalami lonjakan kasus pada akhir 2025 hingga awal 2026.

"Tren penurunan ini terpantau konsisten di 14 provinsi dan 10 kabupaten/kota dengan riwayat lonjakan kasus pada akhir 2025 dan awal 2026," ujar dr. Andi, dikutip dari laman resmi Kemenkes, Selasa (31/3/2026).

Menanggapi kekhawatiran publik terkait keakuratan data selama periode libur Lebaran, Kemenkes memastikan sistem surveilans tetap berjalan optimal.

Pemantauan dilakukan secara real-time melalui metode New All Record (NAR) serta Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), yang datanya diverifikasi bersama dinas kesehatan daerah.

Meski tren menunjukkan penurunan, Kemenkes mencatat masih terdapat 10 kasus kematian akibat campak sepanjang 2026.

Salah satunya menimpa seorang dokter internsip berinisial AMW (25) di Kabupaten Cianjur, yang meninggal dunia pada 26 Maret akibat komplikasi serius pada jantung dan otak.

Kasus tersebut bermula saat korban diduga terpapar ketika menangani pasien pada 8 Maret.

Meski sempat mengalami demam sejak 18 Maret, ia tetap bertugas hingga kondisinya memburuk dengan munculnya ruam dan penurunan kesadaran, sebelum akhirnya meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif.

Kasus ini telah terkonfirmasi positif campak melalui pemeriksaan laboratorium Biofarma.

Baca juga: Dokter Muda di Cianjur Meninggal Diduga Campak, Pakar: Ada Risiko Fatal Jarang Disadari Dewasa

Perluas Cakupan Vaksinasi Campak

Secara nasional, sekitar 8 persen kasus campak terjadi pada kelompok usia dewasa.

Faktor penyakit penyerta (komorbid) serta tingginya intensitas paparan disebut menjadi pemicu meningkatnya risiko keparahan pada kelompok ini.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah tengah mempercepat analisis uji klinis untuk memperluas cakupan vaksinasi campak pada kelompok dewasa, khususnya tenaga kesehatan.

Kemenkes juga berkomitmen memberikan vaksinasi bagi peserta program internsip serta memastikan ketersediaan alat pelindung diri (APD) dan pengaturan beban kerja yang memadai.

"Menanggapi kasus yang menimpa dokter internsip, Kemenkes berkomitmen memberikan vaksinasi campak bagi seluruh peserta program internsip. Kami juga mewajibkan wahana penempatan untuk memastikan ketersediaan APD serta mengatur beban kerja dan hak istirahat yang cukup bagi nakes yang menangani penyakit menular," tegas dr. Andi.

Ia pun mengingatkan pentingnya disiplin operasional untuk mencegah penularan.

"Jika muncul gejala sekecil apa pun, segera melapor, beristirahat penuh, dan tidak memaksakan diri untuk bertugas," ungkapnya.

Kemenkes mengimbau masyarakat dan tenaga kesehatan yang belum divaksinasi untuk segera melengkapi status imunisasi guna memutus rantai penularan.

Fase Berbahaya Campak

Dokter spesialis anak konsultan infeksi dan penyakit tropis, dr. I Wayan Gustawan, menjelaskan bahwa ada fase tertentu dalam perjalanan penyakit campak yang perlu diwaspadai.

Fase tersebut biasanya terjadi saat ruam mulai muncul di tubuh.

Baca juga: Menkes Sesalkan Maraknya Narasi Antivaksin Saat Kasus Campak Banyak Ditemukan di Indonesia

"Yang sering berbahaya itu adalah pada saat fase munculnya ruam. Nah disinilah kita harus hati-hati karena komplikasi sering muncul disini," kata dr. Wayan pada talkshow kesehatan virtual yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan, Minggu (15/3/2026).

Perjalanan penyakit campak umumnya dimulai dari demam, kemudian muncul ruam, lalu masuk fase pemulihan.

Namun pada fase munculnya ruam, kondisi anak justru bisa memburuk.

Biasanya pada periode ini anak mengalami demam tinggi yang disertai batuk atau diare.

Fase ini biasanya terjadi sekitar hari kelima hingga hari ketujuh sejak anak mulai sakit.

Karena itu, periode tersebut sering disebut sebagai masa yang harus diwaspadai oleh orang tua.

Risiko Komplikasi Serius

Campak bukan sekadar penyakit kulit dengan ruam merah.

Infeksi virus ini dapat menyerang berbagai organ tubuh dan memicu komplikasi.

Menurut dr. Wayan, ada beberapa komplikasi yang paling sering terjadi pada anak dengan campak.

"Komplikasi yang harus kita waspadai dan yang sering terjadi yang pertama adalah radang paru yang kita sebut dengan pneumonia, kemudian yang kedua bisa diare, terus yang ketiga bisa radang telinga tengah, yang terakhir infeksi susunan saraf pusat yang kita sebut dengan encephalitis," jelasnya.

Komplikasi tersebut dapat terjadi karena virus campak memiliki kemampuan menyebar ke berbagai organ tubuh.

Dengan mengenali fase berbahaya campak, orang tua diharapkan bisa lebih waspada dan segera mencari bantuan medis jika kondisi anak memburuk.

(Tribunnewws.com/Latifah/Aisyah Nursyamsi)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved