Sering Rasakan Dada Sesak dan Pusing Tapi Hasil Tes Normal? Waspada Gangguan Psikosomatis
Rasa sesak, kepala pusing atau nyeri perut, namun saat diperiksa tak terjadi gangguan medis kerap dirasakan sebagian orang. Gangguan apa ini?
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- Rasa sesak, kepala pusing atau nyeri perut, namun saat diperiksa tak terjadi gangguan medis kerap dirasakan sebagian orang.
- Kondisi seperti ini dikenal sebagai gangguan psikosomatis.
- Secara umum, gangguan psikosomatis ini bisa dijelaskan sebagai gangguan fiisk akibat kondisi psikis atau emosi.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pernah merasa dada sesak, kepala pusing, atau nyeri perut, tapi saat diperiksa dokter hasilnya normal?
Kondisi ini kerap membuat bingung. Di satu sisi tubuh terasa benar-benar sakit, namun di sisi lain tidak ditemukan penyakit secara medis.
Baca juga: Pusing Tak Kunjung Hilang? Bisa Jadi Sinyal Gangguan Ritme Jantung
Tak sedikit orang akhirnya menganggap kondisi ini hanya “pikiran saja”.
Padahal, kondisi tersebut nyata dan dikenal sebagai gangguan psikosomatis, ketika pikiran dan emosi memengaruhi tubuh secara langsung.
Secara umum, gangguan psikosomatis bisa dijelaskan sebagai gangguan fiisk akibat kondisi psikis atau emosi seseorang.
Gejala Nyata, Tapi Tak Terlihat di Pemeriksaan
Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RSUD Bung Karno Surakarta, dr. Sitaresmi Raras N, Sp.KJ, menjelaskan bahwa kasus seperti ini bukan hal yang jarang terjadi.
Pasien bisa datang dengan berbagai keluhan fisik, mulai dari ringan hingga cukup mengganggu aktivitas.
“Psikosomatis ini bisa dirasakan adalah seperti dada sesak, kemudian kepala pusing, nyeri perut, tapi saat diperiksa hasilnya baik-baik saja,” jelasnya pada live streaming Healthy Talk yang disiarkan langsung di YouTube Tribun Health, Selasa (14/4/2026).
Kondisi ini sering membuat pasien merasa tidak dipahami.
Karena secara kasat mata, tubuh terlihat baik-baik saja.
Namun keluhan yang dirasakan sebenarnya nyata.
Gangguan Fungsi Saraf
Menurut dr. Sitaresmi, penting untuk dipahami bahwa keluhan pada gangguan psikosomatis bukanlah rekayasa.
Masalahnya bukan terletak pada organ tubuh, melainkan pada fungsi kerja saraf.
Sistem saraf yang menghubungkan organ dengan otak mengalami gangguan dalam memproses rasa nyeri.
Akibatnya, otak tetap “membaca” adanya rasa sakit meskipun tidak ditemukan kerusakan fisik.
Dengan kata lain, tubuh tetap merasakan nyeri secara nyata, meskipun hasil pemeriksaan medis normal.
Dipicu Stres, Cemas, dan Tekanan Emosional
Gangguan psikosomatis sangat erat kaitannya dengan kondisi psikologis seseorang.
Beberapa pemicu yang sering terjadi antara lain:
- stres berkepanjangan
- kecemasan berlebih
- rasa takut
- tekanan hidup
- emosi yang dipendam
Misalnya, seseorang yang sedang cemas menghadapi pekerjaan atau masalah pribadi dapat mengalami peningkatan asam lambung.
Kondisi ini kemudian memicu nyeri perut yang benar-benar dirasakan.
Artinya, meskipun sumbernya dari pikiran, dampaknya tetap dirasakan secara fisik.
Sering Terjadi Tanpa Disadari
Banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya mengalami psikosomatis.
Biasanya baru menyadari setelah berulang kali berobat, namun tidak menemukan penyebab penyakit.
Bahkan, tidak sedikit pasien yang berpindah-pindah dokter karena merasa keluhannya belum terjawab.
Hal ini terjadi karena fokus penanganan masih pada fisik, padahal sumber utamanya adalah psikologis.
Ciri Khas Gangguan Psikosomatis
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai:
Keluhan fisik muncul tanpa sebab jelas
Hasil pemeriksaan medis normal
Gejala sering muncul saat stres atau cemas
Sering kambuh meski sudah diobati
Jika kondisi ini terjadi berulang, penting untuk mulai memperhatikan kondisi mental.
Kesembuhan Tidak Cukup dari Obat Fisik
Penanganan psikosomatis tidak cukup hanya dengan obat untuk tubuh.
Karena sumbernya adalah psikologis, maka pendekatan mental juga sangat diperlukan.
Jika hanya mengobati fisik, keluhan bisa saja hilang sementara, tetapi berpotensi muncul kembali.
Gangguan psikosomatis adalah kondisi nyata yang sering disalahpahami.
Bukan sekadar “kepikiran”, bukan pula dibuat-buat.
Tubuh dan pikiran saling terhubung erat.
Ketika pikiran terlalu terbebani, tubuh bisa menjadi “alarm” yang memberi sinyal melalui rasa sakit.
Karena itu, jika kamu sering mengalami keluhan fisik tanpa penyebab jelas, jangan langsung mengabaikannya.
Bisa jadi, itu adalah tanda bahwa tubuh dan pikiranmu sedang butuh perhatian lebih.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-sakit-kepala-berat-juli-2022.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.