8 Warga Sipil Tewas di Puncak Papua Tengah, Diduga Terkait Operasi Militer
8 warga sipil tewas di Puncak, Papua Tengah, diduga terkait operasi militer di area pengungsian, desakan investigasi pun menguat
Ringkasan Berita:
- Insiden kekerasan di Kabupaten Puncak menewaskan delapan warga sipil dan melukai seorang anak
- Peristiwa diduga terkait operasi militer di Distrik Kemburu, lokasi pengungsian warga dari konflik sebelumnya
- Hingga kini belum ada keterangan resmi, sementara desakan investigasi transparan terus menguat
TRIBUNNEWS.COM, PAPUA TENGAH - Insiden kekerasan kembali terjadi di wilayah Papua Tengah dan menambah daftar panjang korban sipil di daerah konflik tersebut.
Sebanyak delapan warga sipil dilaporkan tewas dalam peristiwa yang diduga berkaitan dengan operasi militer di Distrik Kemburu, Kabupaten Puncak.
Delapan korban meninggal dunia yang telah teridentifikasi yakni Wundili Kogoya (36), Kikungge Walia (55), Pelen Kogoya (65), Tigiagan Walia (76), Ekimira Kogoya (47), Daremet Telenggen (55), Inikiwewo Walia (52), dan Amer Walia (77).
Selain itu, satu anak dilaporkan mengalami luka tembak di bagian dada dan hingga kini masih menjalani perawatan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari sumber di lapangan, peristiwa tersebut terjadi pada Senin, 14 April 2026, sekitar pukul 05.00 WIT.
Saat itu, aktivitas militer dilaporkan berlangsung di sekitar kawasan permukiman warga dengan melibatkan helikopter dan pasukan darat.
Baca juga: 3 Warga Sipil Ditembak KKB Papua di Sinak, Satu Ibu dan Dua Anak Terluka
Sumber tersebut menyebutkan bahwa lokasi kejadian sebelumnya dikenal sebagai area pengungsian warga sipil yang menghindari konflik bersenjata di wilayah lain.
Namun, status resmi kawasan tersebut sebagai zona aman hingga kini belum dapat dipastikan dan masih memerlukan konfirmasi dari pihak berwenang.
Korban yang meninggal dunia disebut merupakan warga sipil yang tidak terlibat dalam konflik.
Selain korban jiwa, warga yang selamat dilaporkan mengalami trauma mendalam akibat peristiwa tersebut, terutama karena insiden terjadi di lokasi yang dianggap relatif aman.
Rangkaian kejadian ini diduga berkaitan dengan operasi militer yang berlangsung sehari sebelumnya di Distrik Pogoma.
Pada 13 April 2026, aktivitas militer dilaporkan menyasar kelompok bersenjata di Kampung Guamo. Situasi tersebut mendorong warga untuk mengungsi ke Distrik Kemburu guna mencari perlindungan.
Namun, kondisi justru berubah ketika insiden kekerasan terjadi di wilayah tempat para pengungsi tersebut berlindung. Hal ini memunculkan pertanyaan mengenai perlindungan terhadap warga sipil di tengah operasi keamanan yang berlangsung.
Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari pihak TNI maupun pemerintah terkait kronologi dan penyebab pasti insiden tersebut. Upaya konfirmasi kepada pihak terkait masih terus dilakukan.
Peristiwa ini kembali memicu perhatian terhadap kondisi keamanan warga sipil di wilayah konflik Papua. Sejumlah pihak mendorong adanya penelusuran lebih lanjut untuk memastikan fakta di lapangan serta menjamin perlindungan terhadap masyarakat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/papuapenembakan111111.jpg)