Jumat, 24 April 2026

Penyakit Kronis Sering Tak Bergejala, Ketahui Tanda yang Perlu Diwaspadai 

Sebagian besar penyakit kronis berkembang perlahan tanpa gejala jelas. Deteksi dini melalui pemeriksaan rutin penting untuk kendalikan penyakit.

Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Willem Jonata
Freepik
ilustrasi medical checkup 
Ringkasan Berita:
  • Risiko penyakit kronis meningkat akibat gaya hidup modern, sehingga deteksi dini dan pencegahan menjadi sangat penting sejak usia produktif
  • Menurut dr. Timoteus Richard, Sp.PD, banyak penyakit seperti diabetes, hipertensi, dan gangguan ginjal berkembang tanpa gejala awal
  • Pemeriksaan rutin dan perubahan gaya hidup menjadi kunci untuk mencegah komplikasi dan menjaga kualitas hidup.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Di tengah perubahan gaya hidup modern yang serba cepat, tekanan pekerjaan, pola makan tidak seimbang, hingga minimnya aktivitas fisik, risiko penyakit kronis kian meningkat bahkan pada kelompok usia produktif. 

Kondisi ini membuat upaya pencegahan dan deteksi dini menjadi semakin penting untuk dilakukan sejak awal, sebelum penyakit berkembang menjadi komplikasi serius.

Kesehatan, dalam konteks saat ini, tidak lagi cukup dimaknai sebagai upaya berobat ketika sakit muncul. Lebih dari itu, kesehatan merupakan investasi jangka panjang yang mencakup pencegahan, pemantauan rutin, serta pengelolaan faktor risiko secara berkelanjutan.

Aspek Kesehatan yang Perlu Diwaspadai

Sejumlah aspek kesehatan perlu mendapat perhatian khusus karena kerap menjadi pintu masuk penyakit kronis yang berkembang secara perlahan tanpa gejala awal yang jelas.

Baca juga: Cek Pola Makan, Kunci Hidup Sehat untuk Kurangi Risiko Penyakit Kronis

Pertama adalah kesehatan metabolik, yang mencakup kadar gula darah, kolesterol, asam urat, hingga fungsi hormon. Gangguan pada aspek ini sering kali tidak disadari hingga sudah memasuki tahap lanjut.

Kedua, tekanan darah dan kesehatan jantung. Hipertensi dikenal sebagai “silent killer” karena kerap tidak menunjukkan keluhan, namun dapat berujung pada stroke, gagal jantung, hingga kerusakan organ vital.

Ketiga, fungsi ginjal dan hati yang dapat mengalami penurunan secara bertahap tanpa gejala khas hingga mencapai stadium lanjut.

Keempat, berat badan dan komposisi tubuh. Obesitas diketahui meningkatkan risiko diabetes, penyakit jantung, gangguan sendi, hingga ketidakseimbangan hormonal.

Kelima, faktor gaya hidup seperti merokok, konsumsi alkohol, kurang tidur, stres kronis, serta pola makan tinggi gula dan lemak jenuh yang turut memperbesar risiko penyakit kronis.

Pentingnya Deteksi Dini dan Pendampingan Kesehatan

Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Timoteus Richard, Sp.PD, menegaskan bahwa sebagian besar penyakit kronis berkembang secara perlahan tanpa gejala yang jelas.

“Sebagian besar penyakit kronis berkembang secara perlahan tanpa gejala yang jelas. Karena itu, deteksi dini melalui pemeriksaan rutin sangat penting agar kondisi dapat dikendalikan sejak awal dan tidak berkembang menjadi komplikasi,” ujarnya.

Menurutnya, pemeriksaan kesehatan rutin tidak hanya bertujuan menemukan penyakit, tetapi juga mengidentifikasi faktor risiko serta memberikan gambaran menyeluruh mengenai kondisi tubuh seseorang.

Pendekatan ini mencakup penilaian faktor risiko kesehatan secara komprehensif, interpretasi hasil laboratorium dan diagnostik, penentuan diagnosis yang tepat, perencanaan terapi yang sesuai individu, hingga edukasi pola hidup sehat yang berkelanjutan.

Pemeriksaan yang Dibutuhkan untuk Deteksi Dini

Dalam praktiknya, pemantauan kesehatan dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu. Beberapa pemeriksaan penting yang umum dilakukan antara lain:

Pemeriksaan laboratorium berkala seperti gula darah puasa dan HbA1c untuk mendeteksi risiko diabetes, profil lipid untuk memeriksa kolesterol, serta pemeriksaan fungsi ginjal, fungsi hati, asam urat, dan hormon sesuai indikasi medis.

Selain itu, pemantauan tekanan darah, indeks massa tubuh (IMT), serta lingkar perut juga menjadi indikator penting dalam menilai risiko sindrom metabolik.

Pemeriksaan jantung seperti elektrokardiogram (EKG), treadmill test, hingga echocardiography dilakukan sesuai kebutuhan medis untuk menilai kondisi kardiovaskular.

Tak kalah penting, evaluasi gaya hidup pasien juga menjadi bagian dari pemeriksaan, termasuk pola makan, aktivitas fisik, kualitas tidur, dan tingkat stres.

Penyakit kronis yang tidak terkontrol dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius, seperti stroke, serangan jantung, gagal ginjal, kerusakan saraf (neuropati), gangguan penglihatan, hingga luka yang sulit sembuh.

dr. Timoteus menegaskan bahwa tujuan utama penanganan bukan sekadar menurunkan angka hasil laboratorium, melainkan menjaga kualitas hidup pasien secara menyeluruh.

“Tujuan utama kami bukan hanya menurunkan angka di hasil laboratorium, tetapi menjaga kualitas hidup pasien tetap optimal. Dengan monitoring rutin dan kepatuhan terhadap terapi, komplikasi dapat dicegah,” katanya.

Upaya pencegahan tersebut diperkuat dengan pengobatan yang tepat, kontrol rutin, serta perubahan gaya hidup seperti pola makan seimbang, olahraga teratur, berhenti merokok, dan manajemen stres.

(Tribunnews.com/ Eko Sutriyanto)

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved