Studi: Makan Malam Terlalu Larut Risiko Penurunan Fungsi Otak
Studi kesehatan menunjukkan makan malam terlalu larut berkaitan dengan gangguan ritme tubuh dan penurunan fungsi otak.
Kesehatan jantung juga disebut memiliki hubungan erat dengan fungsi kognitif di usia lanjut.
Individu dengan faktor risiko metabolik yang terkontrol sejak dini cenderung memiliki peluang lebih besar mempertahankan fungsi otak lebih lama.
Pola makan yang tidak teratur dan cenderung larut malam dapat meningkatkan risiko gangguan metabolik yang berdampak pada kesehatan saraf.
Pola Konsumsi Sehari-hari
Selain waktu makan, pola konsumsi harian juga berperan dalam menjaga kesehatan otak.
Pola makan yang lebih seimbang, tidak melewatkan waktu makan utama, serta mengatur distribusi kalori sepanjang hari menjadi faktor yang saling berkaitan.
Beberapa pendekatan diet seperti Mediterania, DASH, dan MIND sering dikaitkan dengan dukungan terhadap fungsi kognitif karena komposisi nutrisinya yang seimbang.
Baca juga: Sama-sama Bikin Sakit Perut dan Bisa Kambuh, Ini Perbedaan GERD dan Radang Usus Kronis
Tren Pembatasan Waktu Makan
Model pembatasan waktu makan atau time-restricted eating menjadi salah satu pendekatan yang banyak diteliti, termasuk pola 16:8 yang membatasi konsumsi makanan dalam jendela waktu tertentu.
Meski demikian, efeknya dapat berbeda pada setiap individu tergantung pola tidur, aktivitas harian, dan kondisi metabolik.
Peneliti menekankan pentingnya konsistensi pola makan dibanding sekadar mengikuti tren diet tertentu.
Hingga berita ini ditulis, kajian ilmiah terkait hubungan jangka panjang antara waktu makan malam dan penurunan fungsi kognitif masih terus berkembang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-makan.jpg)