Selasa, 19 Mei 2026

Kasus Beras Oplosan Terungkap, Konsumen Pilih Pasar Tradisional dan Penggilingan

Pergeseran pembelian dari ritel modern ke tempat tradisional ini terjadi pasca terbongkarnya kasus beras oplosan

Tayang:
Editor: Content Writer
Kementan
BELI BERAS - Sejumlah warga di Kecamatan Baturetno, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah menyerbu pembelian beras dari petani dan penggiling padi secara langsung. Pergeseran pembelian dari ritel modern ke tempat tradisional ini terjadi pasca terbongkarnya kasus beras oplos yang beredar di sejumlah minimarket. 

TRIBUNNEWS.COM - Sejumlah warga di Kecamatan Baturetno, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah menyerbu pembelian beras dari petani dan penggiling padi secara langsung. Pergeseran pembelian dari ritel modern ke tempat tradisional ini terjadi pasca terbongkarnya kasus beras oplos yang beredar di sejumlah minimarket.

Slamet, salah satu warga di Kecamatan Purwantoro mengaku telah melakukan pembelian beras dari tetangganya yang memiliki usaha gilingan padi. Bahkan dia membeli dalam skala besar agar mendapat harga murah.

“Sekarang saya dan tetangga gotong royong beli dari penggilingan. Kalau ramai-ramai malah bisa murah. Daripada beli di toko terus kecewa,” katanya.

Slamet mengaku kepercayaannya terhadap petani dan penggiling padi meningkat seiring keberhasilan pemerintah dalam membongkar praktik pengoplosan beras. Dia mengaku goyah dan mulai luntur terhadap beras kemasan di sejumlah toko modern.

“Pilihan saya sekarang adalah membeli beras dari petani langsung. Saya kecewa dengan beras yang beredar di ritel yang ternyata merupakan beras oplosan,” katanya.

Senada, Rina (36), salah satu warga Baturetno mengatakan bahwa dirinya lebih percaya pembelian beras petani ketimbang beras ritel yang menyediakan beras premium namun terbukti merupakan beras oplosan.

“Saya beli merk Sania, Fortun pokoknya semua yang terkenal dan ternyata baru sadar semua itu beras oplosan,” ujar Rina (36), Jumat, 8 Agustus 2025.

Baca juga: Kementan-Satgas Pangan Ungkap Beras Oplosan, DPR: Jangan Ada Kompromi dengan Pelaku

Rina mengaku kapok dan tak ingin membeli beras ritel lagi sebelum nantinya ada keputusan dari pemerintah yang menegaskan bahwa beras yang dijual adalah beras asli tanpa oplos.

“Saya kapok karena sudah beberapa kali dapat beras yang katanya premium, tapi ternyata bulirnya campur-campur. Saya mending ke tetangga yang punya usaha gilingan, malah bisa milih sendiri,” katanya.

Sebelumnya Badan Reserse Kriminal (Bareskrim Mabes Polri) mengungkap adanya praktik kotor yang dilakukan oleh PT Padi Indonesia Maju (PIM), anak perusahaan Wilmar Group. Tiga petinggi perusahaan itu resmi ditetapkan sebagai tersangka, yakni S (Presdir), AI (Kepala Pabrik), dan DO (Kepala QC).

Dari Sukabumi, Jawa Barat, sejumlah pasar tradisional terlihat ramai khususnya masyarkat yang hendak membeli beras. Seperti yang terlihat di Pasar Pasundan, para pembeli lebih memilih beras eceran yang dibeli langsung dari pedagang.

“Saya lebih percaya beli beras di pasar. Dengan harga Rp74.000 per 5 kg, kualitasnya lebih bagus dibandingkan yang saya beli di supermarket. Saya juga bisa lihat langsung kondisi berasnya,” kata Laras.

Mengenai hal ini, Menteri Pertanian (Mentan ) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pemerintah akan mengambil tindakan tegas terhadap para pelaku pengoplos beras. Hal ini merupakan bagian dari komitmen Kementan untuk melindungi petani dan konsumen, serta menjamin ketahanan pangan nasional.

Diketahui, Kementan melalui tim dari Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Industri dan Penyegar (BRMP TRI) langsung terjun ke pasar-pasar tradisional di Sukabumi untuk melakukan survei kepada pedagang dan konsumen dan memastikan kepercayaan publik tetap terjaga.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved