Rabu, 15 April 2026

Di Secangkir Espresso Italia, Tertuang Sejarah, Prestise, dan Kebersamaan

Duta Besar Italia untuk Indonesia Federico Failla secara gamblang mengaku Italia bukanlah negara penghasil kopi seperti Indonesia.

Penulis: Daniel Ngantung
Editor: Fajar Anjungroso

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Daniel Ngantung

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Meski bukan penghasil kopi, Italia berhasil menjadikan kopi sebagai bagian dari identitas negerinya yang membanggakan. Di secangkir espresso italia, tertuang sejarah, prestise, dan kebersamaan.

Espresso, cappuccino, dan latte, begitu nama-nama kopi yang sering terdengar di telinga. Jangan terkecoh, hanya karena namanya berbau Italia, lantas aman untuk menyimpulkan bahwa Italia adalah satu dari negara-negara yang membudidayakan kopi di tanahnya sendiri.

Duta Besar Italia untuk Indonesia Federico Failla secara gamblang mengaku Italia bukanlah negara penghasil kopi seperti Indonesia.

"Kami memang pengimpor kopi. Tapi Italia adalah transformer. Kami dikenal karena keterampilan kami meracik kopi robusta dan arabika menjadi sebuah minuman yang nikmat, bukan sekedar cairan berwarna hitam," ujar Federico dalam sambutannya di pembukaan Pameran Espresso Italiano di Pacific Place, Senin (13/10/2014).

Pameran yang berlangsung hingga 2 November itu menampilkan rekam jejak perkembangan kopi di Italia. Mulai dari kedatangan pertamanya, hingga bagaimana kopi berkembang dan memengaruhi sejarah Italia sampai akhirnya menjadi identitas negeri itu. Tak lupa mesin-mesin kopi dan perlengkapan minum kopi dari yang umurnya sudah beratus tahun hingga teranyar.

Kopi diyakini masuk ke Italia sekitar abad 16-17. Saat itu, para saudagar Italia yang menyatukan Dunia Timur dan Venesia membawa biji kopi dari Arab masuk ke Venesia, salah satu kota dagang di Italia. Dalam papan informasi di pameran tertulis bahwa Venesia adalah kota pertama yang mengenal aroma kopi. Di situ sempat digelar sebuah lokakarya tentang kopi, sebelum akhirnya kopi menyebar ke seluruh penjuru negeri. Di Italia, kopi disebut caffè yang juga berarti kafe atau warung kopi.

Mengingat kopi saat itu tergolomg barang langka dan harganya cukup mahal saat itu, penikmatnya pun bukan orang sembarang.

"Umunya kaum bangsawan. Selain itu, kafe-kafe juga menjadi tempat berkumpulnya para kaum filsuf dan seniman membicarakan masa depan bangsa yang saat itu sedang dalam masa transisi," ujar Luciano Calosso, Presiden Colosseum Cultural Association, kurator pameran itu.

Pada 1905, sejarah perkopian berubah saat seorang Italia menciptakan mesin kopi yang dapat menghasilkan kopi dalam jumlah banyak. Bukan yang pertama memang, karena seperti yang tertulis di pameran, mesin kopi yang pertama justru berasal dari Etiopia, dikenal dengan nama Jabena.

"Berkat mesin yang mampu menghasilkan lusinan kopi dalam waktu singkat itu, maka lahirlah kopi espresso yang dalam bahasa Italia berarti instan atau ekspres," lanjut Luciano.

Di Italia, racikan espresso punya patennya tersendiri. Luciano mengatakan, sebuah kopi laik disebut espresso bila takarannya begini: 7 gram bubuk kopi dicampur 25 mililiter air.

"Takaran yang pas menghasilkan espresso yang berkualitas. Jika air melebihi takaran yang dianjurkan, berarti itu bukan espresso, tapi kopi americano, kopinya orang Amerika," terangnya.

Bukan espresso pula bila penyajiannya tidak melebihi semenit. Setidaknya begitu menurut seorang perempuan Italia yang agak sedikit kesal karena terlalu lama menunggu barista di pameran menyiapkan espresso pesanannya.

"Saya sedang terburu-buru, jadi tolong bisa percepat sedikit," kata perempuan berambut pirang itu.

Halaman 1/2
Tags
kopi
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved