Efek Flexing pada Mental Anak Muda Menurut Psikolog, Sulit Bersyukur
Dampak flexing secara psikologis tidak dapat dianggap sepele. Terlebih bagi mereka atau anak muda yang belum memiliki konsep diri yang matang.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Fenomena flexing atau memamerkan kekayaan atau suatu gaya hidup menjadi tren di media sosial.
Tak hanya dilakukan selebriti, influencer atau pejabat, fenomena ini merambah juga ke masyarakat umum, terutama anak muda.
Psikolog Yasinta Indrianti, mengungkapkan, dampak flexing secara psikologis tidak dapat dianggap sepele. Terlebih bagi mereka atau anak muda yang belum memiliki konsep diri yang matang.
"Flexing untuk mereka yang mampu, tidak masalah. Tapi untuk mereka yang
tidak mampu itu mereka menjadi punya satu konsep diri yang berbeda," kata dia ditemui di Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (16/9/2025).
Baca juga: Lita Gading Sindir Menohok Ahmad Dhani soal Usulan UU Anti Flexing: Aneh
Baca juga: Bupati Bogor Minta Seluruh Jajaran ASN Hidup Sederhana Tanpa Flexing
"Yang semestinya mereka bisa mensyukuri dengan kondisi mereka apa adanya. Jadi mereka harus ada apanya dulu baru bisa bersyukur," tambah Yasinta.
Yasinta menyoroti, generasi saat ini yang menginginkan hal serba instan membuat mereka fokus hanya mengejar banyak hal secara fisik atau materi.
Flexing adalah bagian dari realitas digital yang tidak bisa dihindari dimana bagi sebagian orang menjadi sumber penghasilan.
Karena itu, tugas penting orang tua bukan untuk menghilangkannya, tapi memberikan bekal mental yang kuat bagi generasi muda.
"Flexing ini enggak bisa dihilangkan, karena di sisi lain flexing itu mungkin menjadi rezeki bagi beberapa orang juga," tutur dia.
Orang tua harus memberikan bekal untuk anak-anak agar mereka bisa belajar menyikapi ketika mereka melihat suatu fenomena di media sosial.
Apakah itu perlu divalidasi untuk diikuti atau tidak.
Orang tua harus membantu anak-anak, menjadi tangguh dari sisi internalnya.
Flexing menurut Yasinta merupakan kebutuhan dasar manusia, sayangnya pola pikir seperti ini mengubah cara mereka memaknai nilai diri dan kebahagiaan.
"Mungkin level pengin dilihatnya sejauh mana itu yang membuat orang jadi berbeda. Ada banyak faktor kompleks yang mengikuti dari sisi luasnya pergaulan orang yang flexing," ungkap dia.
(Tribunnews.com/ Rina Ayu)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Psikolog-Yasinta-Indrianti-1-16092025.jpg)