Rabu, 6 Mei 2026

10 Kebiasaan Sederhana Manusia yang Ternyata Insting Bertahan Hidup

Manusia sering melakukan kebiasaan kecil yang ternyata berakar dari naluri bertahan hidup sejak zaman purba.

Tayang:
Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Bobby Wiratama
tangkapan layar
ILUSTRASI MENATAP PONSEL - Tangkap layar YouTube HD Video Library - No Copyright Footage memperlihatkan seorang pria menatap ponsel. Sering menatap ponsel merupakan salah satu kebiasaan yang berakar dari naluri bertahan hidup manusia zaman dahulu. 

Manusia purba hidup di dunia yang penuh ketidakpastian dan bahaya.

Kemampuan mengenali pola, meski tidak selalu akurat, sering kali memberi keuntungan.

Kecenderungan ini dikenal sebagai patternicity, yang membantu manusia mendeteksi ancaman lebih cepat.

Seiring waktu, perilaku perlindungan yang diulang-ulang berkembang menjadi takhayul dan ritual.

Hal tersebut memberikan ilusi kendali di dunia yang kacau, sekaligus menenangkan sistem kewaspadaan bawaan manusia.

7. Menyukai Makanan Berlemak atau Manis

Jika Anda lebih tergoda oleh makanan manis dibanding sayuran, evolusi mungkin menjadi penyebabnya.

Bagi manusia purba, makanan tinggi kalori sangat langka dan berharga.

Madu, kacang-kacangan, dan daging berlemak menyediakan energi besar untuk bertahan hidup selama masa kelaparan atau perjalanan panjang.

Otak manusia mengembangkan respons dopamin kuat terhadap gula dan lemak, menciptakan sistem penghargaan yang mendorong konsumsi makanan berkalori tinggi.

Masalah muncul ketika naluri ini bertemu dengan kelimpahan makanan modern.

Otak masih menganggap setiap donat sebagai cadangan energi penting, bukan sekadar camilan.

8. Menghindari Kontak Mata atau Merasa Malu di Situasi Baru

Rasa malu dan kecenderungan menghindari kontak mata bukan sekadar ciri kepribadian, melainkan strategi bertahan hidup yang berakar kuat.

Dalam banyak spesies primata, kontak mata langsung dapat diartikan sebagai tantangan atau ancaman.

Bagi manusia purba, menatap orang asing berisiko memicu konflik.

Memalingkan pandangan justru menandakan kehati-hatian dan ketidakberbahayaan, sehingga mengurangi potensi kekerasan.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved