Selasa, 5 Mei 2026

Mudah Tersinggung dan Antikritik? Pola Asuh Masa Kecil Bisa Jadi Penyebab

Banyak orang dewasa merasa dirinya mudah tersinggung, sulit menerima kritik, atau cepat emosi dalam berbagai situasi.

Tayang:

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

Ringkasan Berita:
  • Jika ada orang dewasa merasa dirinya mudah tersinggung, sulit menerima kritik, atau cepat emosi dalam berbagai situasi, itu tak datang tiba-tiba. 
  • Kondisi itu bisa berkaitan dengan pola asuh yang dialami seseorang sejak kecil.
  • Ini penjelasan psikolog.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Banyak orang dewasa merasa dirinya mudah tersinggung, sulit menerima kritik, atau cepat emosi dalam berbagai situasi.

Tidak sedikit yang mengira hal tersebut hanya soal kepribadian. Padahal, kondisi itu bisa berkaitan dengan pola asuh yang dialami seseorang sejak kecil.

Baca juga: Psikolog: Orang Tua Tak Perlu Gengsi Minta Maaf ke Anak, Bisa Sembuhkan Luka Batin

Psikolog anak dan keluarga Friska Asta menjelaskan bahwa pengalaman masa kecil sering meninggalkan “jejak” dalam cara seseorang merespons emosi ketika dewasa.

Menurutnya, pola asuh yang keras seperti bentakan, makian, atau hukuman fisik sering kali masuk ke dalam memori bawah sadar anak.

“Jadi itu tuh masuk ke dalam drive kita yang kita secara nggak sadar sebenarnya udah menginstal itu tapi kita nggak sadar,” jelas Friska dalam suatu acara diskusi parenting di Tangerang Selatan, Rabu (11/3/2026). 

Ia menambahkan, banyak orang merasa dirinya kuat karena pernah melewati masa kecil yang keras. 

Namun tanpa disadari, pengalaman tersebut justru dapat meninggalkan kerapuhan emosional.

“Padahal sebenarnya kita rapuh gitu. Padahal sebenarnya kita senggol dikit udah emosi gitu ya,” ujarnya.


Tanpa Disadari Pola Asuh Lama Bisa Terulang

Friska mengatakan banyak orang tua sebenarnya tidak ingin mengulang pola asuh keras yang mereka alami.

Namun karena pengalaman tersebut sudah tertanam sejak lama, pola itu bisa muncul kembali secara tidak sadar ketika seseorang menghadapi tekanan.

Baca juga: Pola Asuh Jennifer Coppen Dianggap Buruk, sang Aktris Pamer 4 Fasilitas Mewah untuk Kamari

Misalnya saat menerima kritik di tempat kerja atau menghadapi konflik dalam hubungan pertemanan.

Respons emosional yang berlebihan sering kali muncul karena seseorang tidak terbiasa memiliki ruang untuk mengekspresikan emosi sejak kecil.

Ketika hal itu terjadi, Friska menyarankan seseorang untuk mulai melakukan refleksi diri.

“Jadi hal pertama adalah menyadari dulu,” katanya.

Kesadaran ini menjadi langkah awal untuk memahami mengapa seseorang mudah marah, tersinggung, atau defensif.

Menurut Friska, proses ini tidak selalu mudah karena seseorang sebenarnya sedang menghadapi “pertarungan” antara kesadaran dan ketidaksadaran dalam dirinya.

Namun semakin sering seseorang menyadari reaksi emosinya, semakin besar pula peluang untuk memperbaikinya.


Mengubah Pola Lama Butuh Waktu

Meski demikian, Friska mengingatkan bahwa mengubah pola emosi tidak bisa terjadi secara instan.

Pengalaman masa kecil yang berlangsung selama bertahun-tahun tentu tidak bisa diubah hanya dalam beberapa hari.

Karena itu, seseorang perlu melatih diri untuk mengatur emosi secara perlahan.

Salah satunya dengan mengingat bahwa tujuan komunikasi bukanlah melampiaskan emosi, melainkan menyampaikan pesan.

“Karena sebenarnya ketika kita marah bukan emosinya yang perlu nyampe. Tapi pesannya yang nyampe,” jelas Friska.

Menurutnya, dengan latihan kesadaran diri yang konsisten, seseorang dapat mulai membangun cara bereaksi yang lebih sehat.

Hal ini tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga penting bagi orang yang nantinya menjadi orang tua agar tidak mengulang pola pengasuhan yang sama kepada anak-anaknya.

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved