Sering Disalahpahami, Ini Alasan Anak Autis Rentan Kesepian
Satu dari 127 orang dalam spektrum autisme. Di Indonesia, tantangan terbesar bukan pada jumlah, melainkan kesiapan lingkungan sosial yang terbatas.
Ringkasan Berita:
- Sejumlah studi bahkan menunjukkan hingga 40 persen individu dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) tidak memiliki teman dekat
- Banyak dari anak dengan spektrum autisme tumbuh dalam kesepian. Bukan karena tidak ingin berinteraksi, tapi karena lingkungan belum sepenuhnya memahami
- Minimnya pemahaman, stigma, hingga kurangnya akses informasi berbasis sains membuat banyak keluarga anak autistik menjalani proses pengasuhan dengan rasa sendiri
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Di balik meningkatnya jumlah anak dengan spektrum autisme, ada satu realitas yang kerap luput dibicarakan.
Banyak dari mereka tumbuh dalam kesepian, bukan karena tidak ingin berinteraksi, tetapi karena lingkungan belum sepenuhnya memahami.
Data global menunjukkan sekitar 1 dari 127 orang berada dalam spektrum autisme.
Namun di Indonesia, tantangan terbesar justru bukan pada jumlah, melainkan pada kesiapan lingkungan sosial yang masih terbatas.
Minimnya pemahaman, stigma, hingga kurangnya akses informasi berbasis sains membuat banyak keluarga anak autistik menjalani proses pengasuhan dengan rasa sendiri.
Kondisi ini berdampak nyata pada kehidupan sosial anak.
Baca juga: Kajian Ilmiah WHO: Vaksinasi Anak Tidak Menyebabkan Autisme
Sejumlah studi bahkan menunjukkan hingga 40 persen individu dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) tidak memiliki teman dekat.
Situasi ini bukan tanpa sebab. Perbedaan cara anak autis dalam memahami ekspresi wajah, emosi, hingga komunikasi dua arah kerap disalahartikan oleh lingkungan sekitar.
Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jakarta Timur, dr. Arifianto menegaskan bahwa persoalan utama bukan terletak pada anaknya.
“Tantangan terbesar bukan hanya pada anak, tetapi pada bagaimana lingkungan memahami mereka,” ujarnya pada Festival Peduli Autisme 2026 di Pesona Square, Depok, Selasa (7/4/2026).
Ia menjelaskan, ketika lingkungan tidak memahami cara anak autistik berinteraksi, maka potensi anak justru terhambat.
Padahal, dengan intervensi yang tepat sejak dini, kualitas hidup mereka bisa berkembang signifikan.
“Intervensi yang dilakukan sejak dini dapat memberikan dampak signifikan terhadap kualitas hidup individu autistik,” lanjutnya.
Realitas inilah yang coba dijawab melalui kehadiran Festival Peduli Autisme 2026 yang digelar di Pesona Square.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Austisme-1-09042026.jpg)