Selasa, 12 Mei 2026

Tren di Negara Maju Bergeser, Pendekatan Pengurangan Dampak Rokok Terus Didorong

Pendekatan pengurangan bahaya atau THR ini dipandang sebagai opsi yang lebih realistis bagi perokok dewasa yang belum dapat berhenti.

Tayang:
Penulis: Reza Deni
Thinkstock
PENGURANGAN DAMPAK ROKOK - Sejumlah negara maju, seperti Swedia, Jepang, Amerika Serikat, dan Selandia Baru, telah mulai mengoptimalkan pemanfaatan produk tembakau alternatif dalam upaya menekan risiko kesehatan akibat merokok.  

Ringkasan Berita:
  • Sejumlah negara maju seperti Swedia, Jepang, Amerika Serikat, dan Selandia Baru mulai mengoptimalkan pemanfaatan produk tembakau alternatif untuk menekan risiko kesehatan akibat merokok. 
  • Swedia kini mencatat prevalensi dan beban penyakit terkait rokok terendah di Eropa berkat adopsi produk non-bakar.
  • Sementara Jepang mengalami penurunan signifikan penjualan rokok konvensional sejak produk alternatif diperkenalkan pada 2016.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Sejumlah negara maju, seperti Swedia, Jepang, Amerika Serikat, dan Selandia Baru, telah mulai mengoptimalkan pemanfaatan produk tembakau alternatif dalam upaya menekan risiko kesehatan akibat merokok. 

Langkah ini tecermin dari kondisi di Swedia, yang kini mencatatkan tingkat prevalensi dan beban penyakit terkait merokok terendah di Eropa berkat adopsi produk non-bakar. Begitu pula di Jepang, volume penjualan rokok konvensional menunjukkan tren penurunan yang signifikan sejak produk alternatif diperkenalkan ke pasar pada 2016.

Fenomena pergeseran tren di negara-negara maju tersebut sejalan dengan pandangan Mantan Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Profesor Tikki Pangestu. 

Ia menegaskan bahwa konsensus ilmiah selama beberapa dekade terakhir menunjukkan risiko kesehatan utama dari merokok berasal dari asap hasil pembakaran, bukan pada kandungan nikotinnya. 

Pendekatan pengurangan bahaya atau tobacco harm reduction (THR) ini dipandang sebagai opsi yang lebih realistis bagi perokok dewasa yang belum dapat berhenti sepenuhnya.

Secara teknis, produk tembakau alternatif, yang mencakup produk tembakau yang dipanaskan, rokok elektrik, hingga kantong nikotin, bekerja dengan meniadakan proses pembakaran. 

Tanpa adanya api, emisi yang dihasilkan bukan lagi asap yang mengandung ribuan senyawa kimia berbahaya, melainkan uap atau aerosol. 

Hal ini meminimalkan paparan zat berbahaya yang biasanya terhirup oleh perokok, sehingga terdapat potensi perubahan kualitas hidup yang lebih positif bagi konsumen yang beralih.

“Kendati tidak sepenuhnya bebas risiko, risiko relatif dari produk bebas asap ini secara substansial lebih rendah dibandingkan risiko merokok,” ujar Prof. Tikki dalam tulisannya bersama Robert Beaglehole dan Ruth Bonita, sesama mantan petinggi Organisasi Kesehatan Dunia, yang berjudul “Smoke-free nicotine products can accelerate the end of the smoking epidemic” yang tayang di Nature Health. 

Dukungan terhadap efektivitas peralihan ini diperkuat oleh studi dalam jurnal The Lancet yang berjudul “Functionally important respiratory symptoms and continued cigarette use versus e-cigarette switching”. 

Riset yang melibatkan 5.653 subjek di Amerika Serikat ini mengamati adanya potensi perbaikan fungsi pernapasan jangka pendek pada individu yang beralih sepenuhnya dari rokok konvensional ke rokok elektrik dalam kurun waktu 30 hari. 

Hasil pengamatan tersebut menunjukkan kemiripan dengan kondisi kesehatan pada kelompok individu yang memutuskan untuk berhenti merokok secara total.

Selain aspek pernapasan, risiko penyakit kardiovaskular juga menjadi fokus dalam riset internasional bertajuk “E-Cigarette Use and Risk of Cardiovascular Disease” yang dipublikasikan oleh Jonathan B. Berlowitz dkk. pada 2022. 

Studi longitudinal berbasis PATH Study (2013-2019) terhadap lebih dari 32.000 responden dewasa ini menyajikan data bahwa risiko penyakit jantung pada pengguna rokok elektrik cenderung lebih rendah dibandingkan perokok aktif. 

Temuan tersebut mengindikasikan adanya penurunan potensi risiko kardiovaskular hingga 30-40 persen bagi mereka yang memilih beralih ke produk tanpa pembakaran.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved