Upaya Mendukung Tumbuh Kembang Anak Lebih Percaya Diri Lewat Matematika dan Seni
Kegiatan mencakup Math Competition serta panggung Got Talent bagi peserta usia Taman Kanak-Kanak hingga Sekolah Dasar
"Membesarkan anak yang percaya diri melibatkan upaya menumbuhkan keyakinan pada kemampuan mereka dan rasa aman terhadap identitas mereka," ujar Dr. Cook dikutip Purewow.
Baca juga: Komnas Perempuan: Pemotongan Rambut Paksa Siswi Bisa Sebabkan Trauma Hingga Hilang Percaya Diri
Berikut adalah beberapa poin penting yang dipaparkan oleh Dr. Cook terkait strategi membangun kepercayaan diri anak:
1. Biarkan Anak Mengalami Kegagalan dengan Aman
Salah satu cara terbaik untuk menunjukkan bahwa orang tua memercayai kemampuan anak adalah dengan membiarkan mereka membuat kesalahan, lalu bangkit kembali.
Orang tua disarankan untuk membiarkan anak gagal dalam batas yang aman, sekaligus mencontohkan cara menghadapi kegagalan tersebut dengan kepala tegak.
2. Puji Proses dan Usaha, Bukan Hanya Hasil Akhir
Dr. Cook menegaskan pentingnya bagi orang tua untuk menghargai usaha yang telah dilakukan anak, terlepas dari apa pun hasil akhirnya.
Anak-anak perlu menyadari bahwa nilai diri mereka tidak hanya diukur dari prestasi yang mereka capai, melainkan dari keberanian mereka untuk mencoba sesuatu yang sulit.
3. Berikan Ruang Kemandirian dan Target Kecil
Memberikan kebebasan kepada anak untuk membuat keputusan yang sesuai dengan usianya akan membangun rasa percaya pada diri mereka sendiri. Selain itu, orang tua sebaiknya membantu anak menetapkan target yang realistis.
Memecah sebuah tantangan besar menjadi langkah-langkah kecil yang mudah dikelola akan memberikan anak "kemenangan kecil". Hal ini mengirimkan pesan pada mental anak bahwa mereka mampu menyelesaikan hal sulit secara bertahap.
Sementara itu, anak-anak adalah peniru yang ulung. Dr. Cook mengingatkan orang tua untuk menjaga kalimat yang keluar dari mulut mereka sendiri.
Orang tua diminta menghindari komentar yang merendahkan diri sendiri di depan anak seperti, "Aduh, masakan Ibu gagal lagi, Ibu memang payah".
Sebaliknya, gunakan kalimat positif saat menghadapi situasi sulit (seperti, "Wah, ini sulit ya, tapi pelan-pelan pasti bisa Ayah selesaikan").
Selain itu, orang tua juga harus mencontohkan cara menetapkan batasan yang sehat (healthy boundaries) dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak belajar banyak dari cara orang tuanya berkata "tidak" atau mempertahankan prinsip dengan cara yang tetap sopan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/mate2222.jpg)