Demo Tolak RUU KUHP dan KPK
Sejumlah Pelajar SMA Ketahuan Pakai Narkoba Sebelum Berangkat Demo di DPR
Ia juga mengatakan, lima ABG itu akan menempuh prosedur hukum khusus, berbeda dari 100-an pelajar dan siswa lain yang diamankan.
Editor:
Hasanudin Aco
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Jaisy Rahman Tohir
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Aparat Polsek Serpong dan Satuan Resnarkoba Polres Tangerang Selatan (Tangsel) melakukan tes urine kepada 120 lebih siswa, pelajar dan ABG yang berhasil diamankan karena hendak berangkat demo ke Jakarta dari Serpong, Senin (30/9/2019).
Pantauan TribunJakarta.com pada di Mapolsek Serpong, Tangsel, para para pelajar dan ABG itu bergantian mengambil urine di toilet yang sudah sisediakan.
Setelahnya, urine itu langsung diuji menggunakan alat tertentu.
Dari tes urine yang dilakukan, lima ABG positif mengonsumsi narkotika jenis ganja.
"Berdasarkan pengecekan yang dilakukan Kasat Narkoba Polres Tangerang Selatan, dari 120 kurang lebih yang berhasil kita amankan, lima orang terindikasi positif menggunakan narkoba jenis ganja," ujar Kapolsek Serpong, Kompol Stephanus Luckyto, didampingi Kasat Narkoba Polres Tangsel, Iptu Edy Suprayitno.
Baca: TNI-Polri Disiagakan di Kawasan Senayan Jelang Pelantikan Anggota Baru DPR
Baca: Beda Generasi Old dengan Generasi Z Saat Demo
Luckyto menegaskan, lima orang tersebut bukanlah pelajar ataupun siswa.
"Bukan pelajar, melainkan para alumni atau di luar siswa siswi yang berhasil kita amankan," tegasnya.
Ia juga mengatakan, lima ABG itu akan menempuh prosedur hukum khusus, berbeda dari 100-an pelajar dan siswa lain yang diamankan.
Prosedur hukum bagian narkoba itu juga akan mencari tahu apakah lima ABG tersebut hanya pengguna atau pengedar.
"Tentu saja akan mengikuti prosedur hukum yang berlaku, yaitu proses penyidikan untuk mengembangkan, apakah mereka sekedar pengguna atau pengedar," jelasnya.
Beragam Cara Pelajar untuk Ikut Demo, Gunakan Kode Kota Tua, Ingin Tonton Persija dan Bolos Sekolah
Puluhan pelajar yang hendak berangkat demo ke Jakarta, kompak menggunakan kode "kota tua" untuk mengelabui aparat yang melakukan razia di Stasiun Rawa Buntu, Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel), Senin (30/9/2019).
Puluhan pelajar yang terbagi ke beberapa rombongan, kompak sama-sama mengaku ingin pergi ke Kota Tua.
Kapolsek Serpong, Kompol Stephanus Luckyto, mengatakan, jika sebelumnya, pelajar mengaku ingin ke Palmerah, hari ini mereka kompak mengatakan ingin ke Kota Tua.
"Kalau kemarin mereka bilangnya ke Palmerah, kompak. Sekarang ke Kota Tua, dama saja. Kode mereka itu," ujar Luckyto.
Pantauan TribunJakarta.com pada pukul 12.00 WIB sampai 16.00 WIB, memang mayoritas pelajar yang dirazia kebanyakan menjawab hendak ke Kota Tua.
Setelah ditanya mau melakukan apa di Kota Tua, merwka menjawab berbeda-beda dengan sedikit gagap.
"Iya itu buat mengelabui saja," ujarnya.
Aparat tahu kalau mereka mau oergi ke Jakarta untuk demo, bukan ke Kota Tua karena melihat ponsel para pelajar itu.
Dari ponsel yang diperiksa, di dalamnya terdapat percakapan tentang ajakan bergerak demo.
"Ya kita lihat ponselnya. Mereka mau demo semua," ujarnya.
Mengaku ingin nonton Persija
Ada saja cara siswa SMP ini beralasan saat terjaring razia pelajar oleh aparat Polsek Serpong, di Stasiun Serpong, Senin (30/9/2019).
Mengenakan kostum Persija Jakarta, bocah berinisial FA itu mengaku akan berangkat ke Jakarta untuk menonton tim bola kesayangannya itu.
Padahal hari ini bukan Persija Day, alias tim Macan Kemayoran itu tidak ada jadwal bertanding.
"Mau nonton Persija, saya kan Persija sejati," ujar FA di Mapolsek Serpong, saat diberikan pembinaan oleh aparat.
Saat ditanya terkait jadwal main Persija, ia berkilah hanya ingin main di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK).
"Ya main saja ke Senayan," ujarnya.
Selain FA, total, ada 120 lebih siswa, pelajar ataupun alumni yang diamankan aparat Polsek Serpong.
Mereka diindikasikan akan berangkat ke Jakarta untuk berdemonstrasi, setelah diinterogasi dan diperiksa.
"Total ada 120 lebih, di sini (Mapolsek Serpong) kita lakukan pembinaan," ujar Kapolsek Serpong, Kompol Stephanus Luckyto.
Pelajar SMP pakai seragam SMA
Ada saja ulah AO (15), pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang diamankan Jajaran Polresta Depok lantaran hendak ikut aksi demo di Gedung DPR.
Meski baru duduk di bangku kelas delapan SMP, dirinya malah mengenakan seragam sekolah satu tingkat diatasnya yaitu seragam Sekolah Menengah Atas (SMA).
Kelakuan AO, membuat sejumlah petugas kepolisian pun menggelengkan kepalanya.
Ketika ditanya oleh Kapolresta Depok, AO beralasan bahwa seragamnya tertukar dengan siswa lainnya.
"Tertukar punya teman," ujar AO ketika mendapat pembinaan bersama ratusan pelajar lainnya di Mapolresta Depok, Pancoran Mas, Senin (30/9/2019).
Terlihat, seragan SMA yang dikenakan AO lebih besar dari postur tubuhnya lantaran bukan ukurannya.
Ketika ditanya wartawan, AO mengakui bahwa seragam SMA yang dikenakannya tersebut adalah milik saudaranya.
Namun, AO enggan menuturkan alasannya mengenakan seragam SMA.
"Nggak, gak apa apa pakai doang," kata AO tersipu malu.
Bolos sekolah
Sebanyak tujuh orang pelajar dari SMA dan SMK di Palembang, Sumatera Selatan, ditangkap polisi lantaran hendak mengikuti aksi demo solidaritas yang digelar oleh Aliansi Mahasiswa Muhammadiyah di depan kantor Mapolda Sumatera Selatan, Senin (30/9/2019).
Awalnya, ratusan demonstran sedang menyampaikan orasi di depan kantor Mapolda Sumsel terkait tewasnya Himawan Randi (21) dan Muhammad Yusuf Qardawi Mahasiswa semester VII Universitas Halu Oleo (UHO), Kendari.
Saat orasi berlangsung, puluhan pelajar yang menggunakan seragam sekolah dan pakaian bebas mendadak datang dari arah taman Polda Sumsel sembari membawa spanduk.
Namun, sebelum mereka bergabung ke rombongan mahasiswa, polisi yang mengamankan aksi langsung mencegahnya.
Para pelajar pun langsung berlari menghindari polisi.
Namun ada tujuh pelajar yang sebagian masih mengenakan seragam sekolah tertinggal hingga akhirnya diamankan di ruang Unit Kekerasan Anak dan Wanita (Reknata) Ditreskrimum Polda Sumsel untuk didata.
IP (16), salah satu pelajar yang diamankan petugas mengaku, mereka berkumpul di lokasi taman polda setelah mendengar informasi adanya aksi demo di Mapolda Sumsel.
IP bersama beberapa rekannya pun bolos sekolah dan berkumpul di sana.
Mereka juga menyiapkan berbagai sepanduk, salah satunya bertuliskan "Jangan Ben KPK".
"Teman tadi ngajak ke sini untuk demo bareng mahasiswa. Makanya kumpul di taman, buat spanduk. Pas mau gabung ditangkap," kata IP.
Namun, IP pun kurang memahami maksud aksi yang hendak mereka lakukan tersebut seperti menuliskan KPK.
"Katanya undang-undang kan," ucapnya.
Kapolresta Palembang Kombes Pol Didi Hayamansyah mengatakan pihaknya menyiagakan 100 personel untuk mengamankan aksi solidaritas tersebut.
Selain itu, polisi juga menyiapkan kendaraan taktis seperti mobil baracuda dan meriam air (water canon).
"Kami ingin menjaga agar aksi temen-temen mahasiswa berjalan aman dan tertib tanpa diselundupi oknum yang tak bertanggung jawab," ujar Didi.
Diberitakan sebelumnya, massa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Muhammadiyah menggelar shalat gaib bersama dalan aksi solidaritas terkait tewasnya Himawan Randi (21) dan Muhammad Yusuf Qardawi, mahasiswa semester VII Universitas Halu Oleo (UHO), Kendari.
Dalam aksi yang digelar di depan kantor Mapolda Sumatera Selatan itu, massa meminta agar polisi mengusut tuntas kasus tewasnya Randi dan Yusuf.
Sebab, Randi tewas setelah tertembak peluru tajam ketika menggelar aksi demo penolakan RUU beberapa waktu lalu. (TribunJakarta.com/Kompas.com)