Breaking News:

Polisi Banting Mahasiswa saat Demo di Tangerang, Kompolnas: Tak Boleh Ada Kekerasan Berlebihan

Kompolnas memberikan tanggapannya terkait adanya aksi pembantingan seorang mahasiswa oleh oknum polisi saat mengamankan demo di Tangerang, Banten.

Istimewa
Tangkapan layar video berdurasi 48 detik menunjukan arogansi anggota Polresta Tangerang membanting mahasiswa. 

TRIBUNNEWS.COM - Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) memberikan tanggapannya terkait adanya aksi pembantingan seorang mahasiswa oleh oknum polisi saat mengamankan demo di depan Gedung Pemkab Tangerang.

Komisioner Kompolnas, Poengky Indarti, mengatakan dalam mengamankan aksi demo, polisi sudah memiliki aturan dalam menggunakan kekuatan.

Aturan terkait penggunaan kekerasan ini tercantum dalam Peraturan Kapolri Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian dan Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar HAM dalam Penyelenggaran Tugas Polri.

Sehingga, seharusnya polisi bisa menghormati nilai-nilai HAM saat mengamankan aksi demo.

Komisioner Kompolnas Poengky Indarti
Komisioner Kompolnas, Poengky Indarti. (Istimewa)

Baca juga: Soal Polisi Banting Mahasiswa Saat Demo di Tangerang, Polda Banten dan Polresta Tangerang Minta Maaf

Selain itu, Poengky juga menekankan bahwa dalam melakukan pengamanan polisi, dilarang menggunakan kekerasan yang berlebihan.

"Dalam menangani aksi demonstrasi, sudah ada aturan terkait penggunaan kekuatan. Ada tahapan-tahapannya."

"Tetapi pada intinya, setiap tindakan anggota Polri dalam melakukan pengamanan harus tetap menghormati HAM, sehingga tidak boleh ada kekerasan berlebihan," kata Poengky dilansir Kompas.com, Kamis (14/10/2021).

Poengky pun menilai, kasus pembantingan mahasiswa di Tangerang ini semestinya bisa menjadi gambaran bagi Polri.

Anggota polisi yang bertugas di lapangan harus memiliki pengetahuan tentang penanganan demo dan HAM yang cukup.

Baca juga: Lemahnya Kontrol Emosi dan Menanti Sanksi Polisi Smackdown Mahasiswa di Tangerang

Poengky juga menyebut, penggunaan kekerasan hanya dipakai saat tindakan demonstran mulai anarkis dan membahayakan polisi dan masyarakat.

Halaman
123
Sumber: TribunSolo.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved