Pameran Tunggal 'Tapak Merdeka': Jejak Perlawanan Kembang Sepatu
Pameran “Tapak Merdeka” Kembang Sepatu: sandal jepit jadi simbol perlawanan, perjalanan, dan kemerdekaan yang bersahaja.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Maka hanya ada satu kata: lawan!
Kredo dari penyair Widji Thukul (1963-1998) dalam puisinya, “Peringatan” (1996), itu sepertinya juga menjadi kredo bagi Setyo Purnomo, pelukis dengan nama kanvas Kembang Sepatu yang pada 17-26 Oktober 2025 menggelar pameran tunggal di Amuya Galery, Kemayoran, Jakarta Pusat, bertajuk “Tapak Merdeka”.
Pameran digelar dalam rangka memperingati Hari Kebudayaan Nasional pada 17 Oktober 2025.
Dan juga pameran dalam rangka Hari Kreatif Nasional 24 Oktober 2025 yang bertepatan dengan hari ulang tahun ke-53 pelukis kelahiran Pemalang, Jawa Tengah, ini.
Dalam kuratorialnya, Dimas Aji Saka menyatakan ada sesuatu yang sangat manusiawi dalam cara Kembang Sepatu, yang juga Ketua Umum Asosiasi Pelukis Nusantara (ASPEN), memandang dunia.
Sederhana, tapi tidak pernah dangkal. Ia mengajak kita menunduk, menatap ke bawah, ke arah sesuatu yang sering terabaikan: sandal jepit!
Dari benda remeh itu, ia merangkai kisah besar tentang perjalanan, keteguhan, dan kebebasan.
Dalam setiap karya, sandal jepit menjelma menjadi simbol perjalanan hidup yang tidak selalu mulus.
Retak-retak pada solnya seperti peta kehidupan. Menandai persimpangan antara harapan dan kenyataan, antara individu dan masyarakat, antara tubuh dan tanah yang dipijaknya.
Kembang Sepatu, kata Dimas Aji Saka, mengubah keseharian menjadi renungan. Ia menafsirkan kembali makna “merdeka” bukan sebagai kebesaran slogan, melainkan sebagai keberanian untuk terus melangkah, meski pelan, meski sepi, meski terluka.
Melalui karya-karyanya, Kembang Sepatu mencoba melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan yang terutama dilakukan oleh pemerintah.
“Tapak Merdeka”, lanjut Dimas Aji Saka, adalah pameran yang berbicara dengan bahasa tubuh, dengan jejak, langkah, dan sisa-sisa perjalanan yang menjadi cermin bagi perjalanan bangsa. Karya-karya yang ia bukan hanya tentang dirinya, tapi juga tentang kita, tentang Indonesia yang selalu berproses, yang terus mencari keseimbangan antara mimpi dan realitas.
“Di tangan Kembang Sepatu, sandal jepit menjadi puisi visual tentang kebebasan yang bersahaja. Ia mengingatkan bahwa kemerdekaan sejati bukan tentang sampai di tujuan, tapi tentang keberanian untuk terus melangkah, setapak demi setapak,” jelas Sang Kurator.
Sandal Jepit: Simbol Kesederhanaan dan Perlawanan
Bagi Kembang Sepatu, sandal jepit adalah representasi paling jujur dari masyarakat Indonesia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Tapak-Merdeka-Kembang-Sepatu-menafsirkan-kemerdekaan-lewat-jejak-sandal-jepit.jpg)