Kasus Kematian Ermanto Usman
Kekhawatiran Ermanto Usman Sebelum Terbunuh: "Kenapa Tembok Ini Tidak Ditinggikan?"
Tembok bolong itu jadi saksi! Ermanto tewas usai ingatkan celah maut. Kini pelaku diringkus, motif asli pun terkuak. Simak kronologi pilu!
Ringkasan Berita:
- Mendiang Ermanto ternyata aktivis pelabuhan vokal yang berulang kali ingatkan celah keamanan tembok perumahan.
- Terungkap kronologi pilu sang anak temukan orang tua bersimbah darah saat bangun sahur menjelang imsak.
- Tim Gabungan Polda Metro Jaya dan Bareskrim akhirnya berhasil membekuk terduga pelaku.
TRIBUNNEWS.COM, BEKASI — Rumah dua lantai bercat putih itu tampak megah di sudut Perumahan Prima Lingkar Asri, Jatibening, Kota Bekasi, Jawa Barat. Namun, kemewahan yang terpancar dari dinding granit tersebut kini diselimuti keheningan mencekam.
Di balik pagar abu-abu metalik, dua unit mobil mewah masih terparkir kaku, menjadi saksi bisu tragedi berdarah yang menimpa sang pemilik, Ermanto Usman (65), pada Senin subuh (2/3/2026).
Pasca-tragedi yang merenggut nyawa pensiunan operator peti kemas JICT,-anak perusahaan Pelindo tersebut, wartawan Tribunnews.com, Ibriza Fasti Ifhami, memantau langsung situasi di kediaman korban pada Senin (9/3/2026).
Sejak pukul 10.00 WIB pagi, suasana rumah tampak sepi dan tidak berpenghuni.
Kontras dengan kesunyiannya, seluruh lampu di kediaman mendiang Ermanto masih dibiarkan menyala, memantulkan cahaya pada deretan tanaman hias dan kanopi kaca tempered yang kini terasa hampa.
Kematian Ermanto yang dikenal sebagai aktivis pelabuhan vokal ini menyisakan tanda tanya besar.
Di balik dugaan awal perampokan bersama sang istri, Pasmilawati (60), muncul detail-detail yang memicu kecurigaan bahwa motif pelaku mungkin tidak sekadar mengincar harta benda.
"Wasiat" Tembok dan Kejanggalan Motif
Kematian Ermanto menyisakan ironi pedih sekaligus tamparan keras bagi warga kompleks.
Sebagai sosok yang kritis, Ermanto berulang kali mengingatkan pengurus RT mengenai celah pada tembok pembatas kompleks yang rendah dan berlubang—tepat di seberang rumahnya.
Ia menilai titik tersebut sebagai zona merah yang sangat rawan menjadi jalur penyusup maupun akses pelarian pelaku kriminal.
Dinding tembok itu berbatasan langsung dengan lahan kosong bersemak serta akses terbuka Tol Becakayu dan Jalan Raya Kalimalang.
Sebuah titik krusial yang kini terbukti menjadi celah maut.
"Pak Ermanto itu 'wasiatnya' cuma satu: kenapa pagar tembok kompleks ini tidak ditinggikan? Beliau sudah lapor berkali-kali ke Pak RT, tapi akhirnya justru dia sendiri yang jadi korban," ujar Silvi (nama disamarkan), salah seorang tetangga dengan nada getir.
Kini, pemandangan di lokasi tampak kontras.
Sejumlah pekerja bangunan sibuk meninggikan tembok tersebut—sebuah realisasi yang datang terlambat atas kekhawatiran sang aktivis.
Baca juga: Gitaris Zhendy dan Istri Curhat Trauma Kena Bully di Medsos Selama Kasus dengan Nabilah O’Brien
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/tembok-pembatas-Perumahan-Prima-Lingkar-Asri-Jatibening-rumah-Ermanto-Usman.jpg)