Rumah di Bantaran Rel Senen Jakpus Dibongkar Usai Dikunjungi Prabowo, Ini Kata Warga
Rofii, warga dekat Stasiun Pasar Senen, Senen, Jakarta Pusat berharap pembangunan hunian layak yang dijanjikan Prabowo Subianto lekas terealisasi.
Ringkasan Berita:
- Warga dekat Stasiun Pasar Senen berharap janji Prabowo Subianto soal hunian layak segera terealisasi dan tepat lokasi.
- Rofii menekankan pentingnya rumah baru dekat lingkungan lama agar tetap mudah mencari penghasilan sehari-hari.
- Warga lain seperti Imah menyambut rencana rumah susun meski hidup terbatas dan khawatir relokasi jauh.
- Penggusuran mendadak membuat warga kehilangan tempat tinggal, namun tetap berharap bantuan pemerintah segera terealisasi.
TRIBUNNEWS.COM, SENEN - Rofii, warga dekat Stasiun Pasar Senen, Senen, Jakarta Pusat berharap pembangunan hunian layak yang dijanjikan Prabowo Subianto lekas terealisasi.
Janji tersebut diucapkan Prabowo saat mengunjungi kawasan tersebut pada Kamis (26/4/2026).
"Ya pengennya ya dibikinin tempat yang layak gitu,” kata ujar Rofii kepada Wartakotalive.com, Senen, Jakarta Pusat, Jumat (27/3/2026).
Ia menekankan pentingnya lokasi rumah baru yang tetap dekat dengan lingkungan dan tempat usaha mereka.
"Ya mau aja kalau dibikinin mah mau, orang tempatin rumah ya kan. Tapi lokasinya yang dipengennya yang deket aja," ujarnya.
Selain itu, kepemilikan KTP menjadi syarat penting agar hak atas hunian dapat dipastikan.
Menyikapi janji pembangunan rumah susun tersebut, warga tampak bersabar menunggu kepastian.
“Gak tahu tuh, kan dikasih nomor telepon kalau udah itu disuruh telepon kalau kan ini sudah mulai didata-data,” jelas Rofii.
Dengan dukungan dan perhatian yang berkelanjutan, ia berharap kondisi hidup lebih nyaman, terhindar dari risiko, dan anak-anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang lebih baik.
"Kalau bener-bener gitu, mau,” tutup Rofii.
Harapan Baru
Sementara itu, warga lain bernama Imah mengatakan kunjungan Presiden membawa harapan baru bagi mereka yang tinggal di kawasan rawan ini.
Ia menyambut kunjungan Presiden dengan rasa syukur meski sempat kaget oleh penggusuran mendadak.
"Alhamdulillah masih dikasih sehat, dikasih panjang umur, saya bilang gitu. Nikmatin, ibaratnya ini dibilang rezeki dari Allah yang Maha Kuasa, kita nikmatin saja,” ujar Imah.
Selama tinggal di bantaran rel selama dua tahun, Imah dan keluarganya hidup dengan serba terbatas, mencari penghasilan dari mulung botol di kali dan kuburan.