Menggali Makna Spanduk Negeri Auto Pilot

Sebuah spanduk berukuran sekitar 10 kali 3 meter ditemukan di beberapa titik di jalan-jalan utama Ibukota.

Menggali Makna Spanduk Negeri Auto Pilot
TRIBUNNEWS.COM/WAHYU AJI
Spanduk Negeri Auto Pilot.

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Wahyu Aji

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Spanduk berukuran sekitar 10 kali 3 meter ditemukan di beberapa titik di jalan-jalan utama Ibukota. 'Negeri Auto Pilot', begitu tulisan yang terpampang beberapa minggu belakangan pada sebuah spanduk di jembatan penyeberangan Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta. Apa sebenarnya makna spanduk itu?

Tribunnews.com mencoba menelusuri jejak spanduk yang terpasang di sejumlah tempat publik strategis di ibukota seperti Bundaran Senayan, Blok M, Kalibata, Kuningan, hingga Pasar Minggu. Namun, tulisan berwarna putih pada spanduk berlatar belakang hitam dan tidak disertai nama sang pembuat spanduk, sebuah pertanyaan muncul ketika spanduk-spanduk itu mendadak hilang pada hari ini, Jumat (13/1/2012) pagi.

Effendi Gazali seorang master komunikasi politik dari Universitas Indonesia, mencoba menggali makna dari tulisan tersebut. Menurutnya hal semacam itu merupakan sisi politik dari popular communication.

"Yang memilih istilah itu, memasangnya di tempat-tempat yang unik (sebelum dimuat media). Artinya ini luapan perasaan mereka yg sudah dipilih secara unik dan hati-hati," Ujar Effendi saat berbincang dengan Tribunnews.com, Jumat (13/1/2012).

Lebih jauh peraih master dalam bidang International Development dari Universitas CornellIthaca, New York, Amerika ini juga mengatakan bahwa pesan yang ingin disampaikan sang empunya spanduk, tidak jauh dari masalah pemerintah yang abai terhadap rakyatnya.

"Pengertiannya bervariasi, mulai dari tidak bangun infrastruktur sampai membiarkan rakyatnya ditembak oleh aparat yang mengabdi pada pengusaha atau investor. Juga soal makin terasa kuatnya pengaruh neoliberalisme," papar Effendi.

Seperti dikutip dari Wikipedia Indonesia, istilah Autopilot atau dalam bahasa Indonesia bermakna Pilot otomatis yang berarti sebuah sistem mekanikal yang memandu sebuah kendaraan tanpa campur tangan manusia. Lazimnya pilot otomatis digunakan dalam istilah penerbangan dan juga kapal laut.

Jika di analogikan pilot yang dimaksud adalah pemimpin negara. Namun jika dibaca dari tulisannya, terlihat jelas kalau spanduk ini sebagai sindiran terhadap kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

"Saya tidak tahu apa maksud tulisannya? Mungkin sedang memikirkan harus ganti pilot?" tambah dosen yang sedang sibuk menulis buku text book Komunikasi Politik, yang akan diterbitkan Kompas Gramedia.

Effendi juga menuturkan, tetap tidak adil jika hanya menyalahkan sang 'pilot'. "Kan ada awak pesawat juga (para menteri) dan pengawas udara (DPR). Kalau teman-teman pembuat pesan, itu sudah benar. Bahwa mereka memasang pesan politik dengan gaya popular communication karena jiwa seni dan mereka memang di luar sistem," katanya.

Penulis: Wahyu Aji
Editor: inject by pe77ow
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved