Senin, 20 April 2026

Era Mobil Listrik di Indonesia Mendapat Perhatian Besar di Jepang

Kesiapan Indonesia menyambut era mobil listrik mendapat perhatian besar di Jepang.

Editor: Dewi Agustina
Istimewa
Suasana diskusi mobil listrik Indonesia di Balai Indonesia Meguro Tokyo tanggal 6 Oktober 2019. 

Yang pertama adalah mulai membesarnya perhatian publik berkat suksesnya kampanye mobil listrik yang diadakan oleh menteri kabinet Dahlan Iskan pada tahun 2012-2013, dan armada mobil listrik yang dimulai oleh perusahaan taksi Bluebird di Jakarta.

Yang kedua adalah dimulainya proyek pembangunan pabrik baterai Lithium di Morowali, Sulawesi Tengah, yang akan dibiayai oleh investor dari KorSel, Jepang, dan Cina sebesar 4 miliar USD.

Progres ketiga didukung oleh kebijakan dan insentif yang menargetkan bahwa mobil listrik produksi dalam negeri harus menggunakan sampai 80 persen suku cadang buatan lokal sampai tahun 2030.

Dan yang terakhir adalah kesiapan produksinya itu sendiri.

"Astra group telah menyatakan kesediaan untuk mengganti produksi mobil gasolin ke mobil listrik secara bertahap, meskipun Indonesia masih sangat bergantung pada bahan impor seperti baja bermutu tinggi, aluminium, plastik-resin, dan magnet untuk motor elektrik."

"Indonesia memang terlambat dalam memulai Industri mobil listrik ini. Meskipun demikian lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali," kata Aisar.

Sesi kedua dilanjutkan oleh Ricky Elson yang bertemakan "Tantangan pengembangan kendaraan listrik di Indonesia".

Sesi ini dimulai oleh tantangan kepada para profesional yang akan menjadi penggerak generasi sekarang, apakah kita baik-baik saja hanya menjadi "generasi unboxing" yang artinya hanya menerima barang, dan merasa puas dengan hal itu.

Ricky yakin bahwa dengan kemauan yang kuat, mobil listrik dapat dibuat oleh beberapa orang saja, mulai dari design sampai menjadi produk nyatanya.

"Saya ingin bercerita ketika sya dan tim mendapatkan tantangan dari Prof Hayashi dari Tokai University, untuk mengikuti kompetisi Le Mans 24, dengan syarat bagaimana memasukkan elektrik motor ke dalam ruang mesin untuk membuat teknologi Super Hybrid," ungkap Ricky mengenang masa lalunya.

Dari situlah dimulainya perjalanan Ricky menggeluti dunia mobil listrik.

Baca: 3 Hari Temani dan Peluk Jasad Sang Ibu, Balita Perempuan Berusia 2 Tahun Kini Didampingi Psikiater

Baca: Memprihatinkan! Kekurangan Kelas, Siswa di Lebak Belajar Menumpang di Gedung Warga

Ricky juga mengiyakan pernyataan Aisar mengenai saham dalam negeri industri mobil di Indonesia ada di angka 50:50 dibanding dengan saham asing.

"Tetapi kita masih kekurangan orang yang terlibat sebagai penggerak di bidang kendaraan listrik," kata dia.

Untuk menumbuhkan generasi penggerak, maka harus mulai mengajak anak muda untuk berkecimpung, dengan cara mengenalkan mobil listrik dengan konsep yang sangat simpel seperti.

Misalnya mobil listrik tamiya yang bisa dikendarai.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved