Jumat, 24 April 2026

Era Mobil Listrik di Indonesia Mendapat Perhatian Besar di Jepang

Kesiapan Indonesia menyambut era mobil listrik mendapat perhatian besar di Jepang.

Editor: Dewi Agustina
Istimewa
Suasana diskusi mobil listrik Indonesia di Balai Indonesia Meguro Tokyo tanggal 6 Oktober 2019. 

Karena komponen Tamiya kurang lebih sama dengan mobil listrik berupa gear box, battery socket-battery, motor penggerak, brushed DC motor.

Ketika ketertarikan itu sudah ada, maka mulailah tantang anak muda Indonesia dengan cara, “Daripada berdebat harganya mahal, baterai yang tidak tahan lama, lebih baik fokus pada bagaimana mengurangi biayanya, mengecilkan ukuran mesinnya, menaikkan efisiensi, dan sebagainya," ujarnya.

Berbeda dengan mesin mobil, yang sampai hari ini meskipun kita sudah merakitnya, kita tidak dapat kesempatan untuk membuatnya, tapi untuk motor listrik, kita pasti bisa.

KONVOI KENDARAAN LISTRIK - Konvoi  mobil betenaga  listrik ketika mengikuti konvoi melintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat (20/9/2019). Kegiatan tersebut merupakan rangkaian dari promosi Pemprov DKI Jakarta dalam menyambut penyelenggaraan balap mobil listrik Formula E tahun 2020. (Wartakota/Henry Lopulalan)
KONVOI KENDARAAN LISTRIK - Konvoi mobil betenaga listrik ketika mengikuti konvoi melintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat (20/9/2019). Kegiatan tersebut merupakan rangkaian dari promosi Pemprov DKI Jakarta dalam menyambut penyelenggaraan balap mobil listrik Formula E tahun 2020. (Wartakota/Henry Lopulalan) (Wartakota/henry lopulalan)

"Karena komponen motor listrik hanyalah besi, tembaga, magnet dan insulator. Bagi kita inilah tantangan ilmu pengetahuan, tantangan manusia untuk mengejar batasnya sampai di mana bisa maju, dengan keadaan yang terbatas."

Selanjutnya Ricky menceritakan mengembangkan mobil listrik Selo di Indonesia dengan Dahlan Iskan, yang tidak selalu lancar, karena ketika test drive di jalanan mengalami kecelakaan.

Pada saat itu, segala perjuangan seakan hilang karena pada akhirnya hanya dianggap kriminal karena dianggap seharusnya dilakukan uji kelayakan dulu sebelum dibawa ke jalan raya.

Tapi pada saat itu karena keterbatasan biaya, dia tidak ada pilihan lain. Pada saat itu yang dia punya hanyalah semangat dan harga diri.

Prinsipnya adalah selalu syukuri dan optimalkan segala hal yang dimiliki.

Baca: Sebelum Tertangkap, Finalis Putri Pariwisata Ternyata Sudah 3 Kali Ditawarkan ke Pria Hidung Belang

Baca: Formasi CPNS 2019: Tak Beri Tempat Tenaga Administrasi, Guru Terbanyak

Setelah itu Selo dibawa ke KTT APEC, dan dilakukan ujicoba bersama kemenristek.

Meskipun relatif tanpa hambatan, tapi tetap saja reaksi media tetap tidak mendukung.

Namun lagi-lagi dia tidak merasa itu sebagai alasan untuk menyerah.

Harapannya bukanlah untuk membuat pabrik mobil listrik, melainkan ingin mengajak generasi muda untuk ikut serta dalam pengembangan kendaraan listrik di Indonesia, supaya bangsa kita tidak lagi menjadi sekedar generasi unboxing.

Meskipun dengan ranah terbatas, dia telah memulai proyek Selo generasi ke-2 dimulai dengan partner baru.

Selo kedua ini dengan teknologi dan design yang di-upgrade.

Pesan terakhir dari Ricky, bahwa mobil listrik Selo hanyalah ikon.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved