Sabtu, 25 April 2026

Era Mobil Listrik di Indonesia Mendapat Perhatian Besar di Jepang

Kesiapan Indonesia menyambut era mobil listrik mendapat perhatian besar di Jepang.

Editor: Dewi Agustina
Istimewa
Suasana diskusi mobil listrik Indonesia di Balai Indonesia Meguro Tokyo tanggal 6 Oktober 2019. 

Tujuan utama proyek Ricky adalah untuk mengajak generasi muda Indonesia agar ikut serta dalam membangun peradaban teknologi di dunia.

KONVOI KENDARAAN LISTRIK - Bajaj  listrik ketika mengikuti konvoi melintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat (20/9/2019). Kegiatan tersebut merupakan rangkaian dari promosi Pemprov DKI Jakarta dalam menyambut penyelenggaraan balap mobil listrik Formula E tahun 2020. (Wartakota/Henry Lopulalan)
KONVOI KENDARAAN LISTRIK - Bajaj listrik ketika mengikuti konvoi melintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat (20/9/2019). Kegiatan tersebut merupakan rangkaian dari promosi Pemprov DKI Jakarta dalam menyambut penyelenggaraan balap mobil listrik Formula E tahun 2020. (Wartakota/Henry Lopulalan) (Wartakota/henry lopulalan)

"Dimulai dari kita, mengajak sebanyak mungkin generasi baru dalam semangat Spirit of enjoyneering."

Sesi ketiga dilanjutkan oleh Dr Muhammad Aziz dengan tema "Tren mobil listrik dan Teknologi vehicle-to-grid (V2G/VGI)"

Azis menceritakan tentang tren market EV di Jepang belum signifikan, permasalahannya karena Toyota dan Honda masih sangat dominan ke bisnis fuel cell vehivle (FCV) nya.

Di sisi lain Nissan dan Mitsubishi sudah memulai pengembangan mobil listriknya.

"Jadi pemerintah dalam hal pembuatan kebijakannya masih belum bisa berfokus pada hanya satu sisi saja (antara fuel dan listrik)," ungkap Azis.

Baca: Dua Pilot Bagikan Pengalamannya Selamat saat Lewati Segitiga Bermuda

Baca: Sparta, Anjing Belgian Malinois Mati Karena Sakit, Begini Curahan Hati Bima Aryo

Masalah terbesar mobil listrik adalah waktu untuk charging, sekarang masih membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Sedangkan yang kita inginkan adalah kecepatan charging yang bisa menyaingi kecepatan ketika mengisi bahan bakar.

Tesla sedang berusaha mengembangkan teknologi untuk mempersingkat waktu pengisian ini.

Semua perusahaan pembuat mobil berkomitmen agar semua mobil berpindah ke EV sampai tahun 2020-2030.

Toyota sebagai automaker terbesar memegang peran penting dalam bisnis konversi ini.

Dari segi kebijakan negara, beberapa negara pun sudah memiliki target untuk mengurangi emisi dari kendaraan berbahan bakar.

Contoh Norwegia menargetkan emisi nol pada tahun 2025.

Fasilitas pengisian baterai mobil listrik di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta
Fasilitas pengisian baterai mobil listrik di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta (Dok)

India akan berpindah ke EV sampai tahun 2030 dan Denmark akan melarang penjualan mobil berbahan bakar gas dan diesel sampai tahun 2030.

"Contoh untuk kasus Denmark, mereka tidak punya power storage. Mereka memilih untuk langsung mengadopsi mobil listrik, dan menyerahkan kepada market untuk memutuskan apakah mereka akan menjadi produser atau konsumer listrik."

Masuk ke pembahasan tentang VGI (Vehicle-Grid Integration). VGI adalah teknologi di mana kendaraan listrik (vehicle) dapat menyediakan daya ke jaringan (grid) dalam menanggapi tuntutan peak load.

Tergantung pada permintaan, EV dapat mengisi (charge) atau mengeluarkan (discharge) daya. Oleh karena itu, EV dapat dilihat sebagai perangkat penyimpanan raksasa.

Baca: Suhu Panas di Indonesia, Coba 3 Es Legendaris di Malang Ini

Baca: Prakiraan Cuaca BMKG di 33 Kota Besok, Rabu 30 Oktober 2019: Medan Waspada Hujan Sepanjang Hari

Mobil listrik sudah memiliki koneksi wireless, jika ada operator yang disebut agregator, maka kita bisa mengkoneksi semua mobil listrik menjadi satu baterai yang besar.

Teknologi agregator dapat melihat potensi daya yang mereka punya, mem-bidding, dan menjual listrik dari mobil listrik yang ada.

Bisa disambungkan ke rumah dan tempat lain, tergantung chargernya tersambung ke mana.

"Tetapi masalahnya jika melakukan bisnis VGI sekarang masih tidak menguntungkan, karena pajak akan diambil pada saat charge dan discharge."

Oleh karena itu ajuan dari Aziz dan timnya adalah bagaimana supaya pajak diambil secara total, pada saat jual beli listrik terjadi di akhir, tergantung keuntungan yang didapat.

Tantangan bagi Indonesia di bisnis VGI ini adalah tingginya beban listrik pada saat puncak (jam 5 sore-10 malam). Kemudian masih rendahnya kualitas listrik dan kapabilitas penyeimbangannya dan tidak adanya energy storage, dan lainnya.

Seminar kali ini ditutup dengan sesi tanya jawab dengan para narasumber.

"Indonesia belum punya resource untuk membangun energy storage. Hanya bisa bikin baterai dulu. Jika Indonesia nekat untuk membuat storage, belum tentu kita bisa menyelesaikannya meskipun menyerahkannya ke swasta. Sebagai perbandingan, Jepang pun masih menggunakan generator untuk menyeimbangkan supply dan demand nya. Ditambah costnya yang sangat mahal," ungkap Azis lagi.

Sementara Aisar mengungkapkan adanya pengaruh unsur market untuk produksi kendaraan kecil.

"Dari segi industri, tergantung ada apa tidaknya market dan seberapa mahal harganya. Apakah akan lebih murah jika dibanding dengan bajaj/angkot dengan tenaga BBM," ungkap Aisar.

Sedangkan Ricky kepada Kesiapan kelistrikan Indonesia yang menurutnya masih jauh dari siap.

"Tapi kita bisa mempersiapkan SDM selama 10 tahun ke depan ini. Kita tidak perlu unggul di bagian produksinya, tapi ambil bagian di bagian maintenance dan pengelolaannya. Maka dari itu diperlukan SDM yang bisa mengusulkan ke pemerintah untuk melegalkan Undang-Undang membolehkan konversi mobil listrik," menurut Ricky.

Baca: Panduan Lengkap Wisata ke Penang, Jelajah Chinatown yang Mengapung

Baca: Suhu Panas di Indonesia, Coba 3 Es Legendaris di Malang Ini

GRAB sudah mulai bisnis startup di kendaraan listriknya, oleh karena itu sebenarnya sudah tersedia peluang-peluang jika ada peserta yang mulai berpikir untuk memulai bisnis startup konversi listrik.

"Konversi listrik adalah bisnis yang sangat menarik, idenya sederhana. Tapi tetap harus memikirkan tentang keamanannya," ungkap Aisar.

Ricky juga memberikan tips untuk memulai industri mobil listrik di Indonesia.

Menyambut balap mobil listrik atau Formula E di Indonesia, Jakarta 2020 E-PRIX, beberapa kendaraan listrik mengadakan konvoi dari Parkir Timur Gelora Bung Karno (GBK) menuju Monas, Jakarta Pusat. Konvoi dipimpin Gubernur DKI Jakarta @aniesbaswedan dan diikuti sejumlah kendaraan listrik seperti BMW i8 Roadster, Taksi Listrik Blue Bird, Motor Gesits, Selis, ITS, dan bus listrik Transjakarta.
Menyambut balap mobil listrik atau Formula E di Indonesia, Jakarta 2020 E-PRIX, beberapa kendaraan listrik mengadakan konvoi dari Parkir Timur Gelora Bung Karno (GBK) menuju Monas, Jakarta Pusat. Konvoi dipimpin Gubernur DKI Jakarta @aniesbaswedan dan diikuti sejumlah kendaraan listrik seperti BMW i8 Roadster, Taksi Listrik Blue Bird, Motor Gesits, Selis, ITS, dan bus listrik Transjakarta. (DINAS PERHUBUNGAN DKI)

"Startup itu pemicu jiwa entrepreneurship. Yang penting ada ide dulu, yakin, realisasikan. Beliau memberi saran kepada penanya yang masih berumur 25 tahun untuk persiapkan ide sematang-matangnya dan kumpulkan rekan visioner sebanyak-banyaknya sampai umur 30 tahun, dan wujudkan bersama mereka ke depannya," kata Ricky.

Sedangkan Azis mengungkapkan, "Sambil mempersiapkan ide bisnis, bisa cari kesempatan venture dari kampus. Jangan hanya liat kampus sebagai tempat research, tapi juga kesempatan venture. Beberapa kampus menyumbang 30 persen bahkan sampai 100 persen," katanya.

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved