Budi Karya Sumadi Bakal Dipanggil Komisi V DPR, Diminta Jelaskan Kisruh Garuda - Sriwijaya Air

Menurutnya, pemerintah harus mengambil langkah tepat untuk mengatasi konflik dua maskapai penerbangan tersebut

Budi Karya Sumadi Bakal Dipanggil Komisi V DPR, Diminta Jelaskan Kisruh Garuda - Sriwijaya Air
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Mantan Menhub Budi Karya Sumadi tiba di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (22/10/2019). Menurut rencana, presiden Joko Widodo akan memperkenalkan jajaran kabinet barunya kepada publik hari ini usai dilantik Minggu (20/10/2019) kemarin untuk masa jabatan periode 2019-2024 bersama Wakil Presiden Ma'ruf Amin. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chaerul Umam

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Komisi V DPR fraksi PDI Perjuangan, Lasarus mengungkapkan akan memanggil Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi untuk meminta keterangan terkait konflik manajemen Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air.

Menurutnya, pemerintah harus mengambil langkah tepat untuk mengatasi konflik dua maskapai penerbangan tersebut.

Baca: Sriwijaya Air Kembali Beroperasi Pasca Kisruh dengan Garuda Indonesia

"Pasti kita kan hari rabu (rapat) dengan menteri perhubungan, rabu yang akan datang tentu kita akan tanyakan sejauh mana pak menteri mengambil langkah terkait dengan kisruh ini, karena pemerintah sebagai regulator harus mengambil langkah terhadap persoalan ini," kata Lasarus saat dihubungi Tribunnews, Jumat (8/11/2019).

Terkait konflik Garuda - Sriwijaya, Lasarus mengimbau agar segera diselesaikan.

Ia tidak ingin kisruh tersebut mengganggu pelayanan kepada publik.

"Kalau masalah utang piutang, urusan bisnis silakan saja diselesaikan antara Garuda dan Sriwijaya tapi hendaknya jangan mengganggu pelayanan kepada publik, misalnya kalau belum siap terbang tiket jangan dijual," ujar Lasarus.

Diberitakan sebelumya, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. mengumumkan Sriwijaya Air tak lagi menjadi bagian dari Garuda Indonesia Group.

Dalam keterangan yang diterima, Kamis (7/11/2019), Direktur Perawatan dan Service Garuda Indonesia Iwan Joeniarto mengatakan kondisi itu terjadi karena kesepakatan antara maskapai berpelat merah itu dan pemegang saham Sriwijaya Air itu kembaki menemui jalan buntu.

"Kami beritahukan status kerja sama antara managemen perseroan dengan PT Sriwijaya Air. Akibat beberapa hal, kedua belah pihak tak mencapai kesepatan," kata Iwan.

"Dengan berat hati kami umumkan bahwa Sriwijaya Air kini menjalani bisnisnya sendiri dan tak lagi menjadi bagian dari Garuda Indonesia group" tambahnya.

Menurut dia, hubungan antara Garuda dan Sriwijaya Air akan dikaji ulang secara business to business.

Imbas dari cerainya Garuda dan Sriwijaya, ratusan penumpang Sriwijaya air menumpuk di Terminal 2D Bandara Soekarno-Hatta pada Kamis (7/11/2019).

Baca: 7 Penumpang Ngamuk di Bandara Hasanuddin Sulsel, Kaca Costumer Service Sriwijaya Air Dipecah

Senior Manager of Branch Communication & Legal Bandara Soekarno-Hatta, Febri Toga Simatupang mengatakan setidaknya ada 400 penumpang yang tertahan di Terminal 2D Bandara Soekarno-Hatta.

Menurutnya, penumpukan terjadi karena 11 penerbangan Maskapai Sriwijaya Air yang gagal terbang sejak pukul 09.00 WIB Kamis (7/11/2019) kemarin.

Penulis: chaerul umam
Editor: Imanuel Nicolas Manafe
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved