Ingin Berperan dalam Reformasi, Alasan Meutya Hafid Jadi Jurnalis

Ketua Komisi I DPR RI Meutya Viada Hafid sempat meniti karier sebagai seorang jurnalis di stasiun televisi swasta Tanah Air.

Ingin Berperan dalam Reformasi, Alasan Meutya Hafid Jadi Jurnalis
Tribunnews/JEPRIMA
Ketua Komisi I DPR RI Meutya Viada Hafid saat melakukan wawancara khususs dengan tim Tribunnews di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (13/11/2019). Pada kesempatan tersebut Meutya berbagi pengalamannya selama masih menjadi seorang jurnalis dan kecintaanya kepada hewan peliharaanya kucing dan burung. Tribunnews/Jeprima 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Komisi I DPR RI Meutya Viada Hafid sempat meniti karier sebagai seorang jurnalis di stasiun televisi swasta Tanah Air.

Namun, sebenarnya Meutya tak pernah bercita-cita menjadi jurnalis.

"Nggak pernah ada cita-cita jadi jurnalis. Karena background ilmu saya kan ilmu pasti ya, sebagai insinyur sebetulnya," ujar Meutya, dalam wawancara khusus kepada Tribunnews.com, di Ruang Tunggu VIP Komisi I DPR RI, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (13/11/2019).

Baca: Meutya Hafid: Golkar Dorong Munas Capai Musyawarah Mufakat

Baca: Mengenal Meutya Hafid, Wanita Tangguh yang Pimpin Rapat dengan Prabowo di Komisi I DPR

Berkecimpungnya perempuan kelahiran Bandung tersebut di dunia jurnalistik tak lepas dari proses reformasi pada tahun 1998.

Meutya yang lulus pendidikan Strata-1 (S1) dari University of New South Wales, Sidney, Australia, pada Desember tahun 2000, merasa gemas lantaran tak bisa turut serta dalam proses reformasi.

"Waktu itu saya kuliah di Australia. Melihat dari jauh apa yang terjadi di Indonesia itu kita agak syok dan gemas karena tidak bisa berbuat banyak," kata dia.

"Teman mahasiswa di Jakarta bisa ikut demo, (di Australia) ada sih demo tapi nggak besar. Ya bedalah yang dirasakan dengan teman-teman yang punya kesempatan demo di Jakarta. Jadi gemas ingin melakukan sesuatu dan ikut dalam proses reformasi," imbuhnya.

Tatkala itu, peluang untuk berperan serta dalam proses reformasi muncul saat perempuan berusia 41 tahun tersebut melihat lowongan jurnalis.

Profesi jurnalis yang dilamar Meutya ternyata tak mempermasalahkan perbedaan latar belakang pendidikannya sebagai seorang insinyur.

Tak disangka, hal tersebut menjadi awal mula karier Meutya berkutat dengan dunia jurnalistik hingga tujuh tahun lamanya.

"Walaupun saya nggak punya background jurnalistik, ternyata mereka menerima juga insinyur. Waktu itu ada televisi berita pertama di Indonesia, Metro TV, yang membuka lowongan. Kebetulan ada teman yang sudah masuk duluan, saya daftar dan kemudian jadi salah satu (jurnalis) yang paling awal di sana," tandasnya.

Penulis: Vincentius Jyestha Candraditya
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved