Senin, 1 September 2025

Pentingnya Pemimpin Memiliki Kompetensi Etis Selama Memimpin Organisasi

Semua nilai kepemimpinan etis didambakan oleh seluruh pengikut di organisasi manapun termasuk dalam institusi atau lembaga pendidikan

Editor: Eko Sutriyanto
IST
Yohanes Don Bosco Doho, Dosen LSPR London School Jakarta (tengah), sukses meraih gelar Doktor di bidang Manajemen Pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dengan predikat sangat memuaskan. Gelar diraih anak pasangan petani dari Desa Lempang Paji, Manggarai Timur, Flores ini, setelah berhasil mempertahankan Disertasi dengan judul Kepemimpinan Etis Berbasis Kearifan Lokal Pada Lembaga Pendidikan Katolik (Studi Fenomenologi Hermeneutik di Manggarai NTT). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tidak semua pemimpin memiliki kompetensi etis dalam kepemimpinannya. 

Nilai kepemimpinan etis eksplisit melalui tindakan yang adil, menghargai sesama, jujur, humanis, mendorong inisiatif, serta memberikan teladan.

Semua nilai kepemimpinan etis didambakan oleh seluruh pengikut di organisasi, termasuk dalam institusi atau lembaga pendidikan.

"Pada sisi yang lain, kepemimpinan etis bertumbuh di atas kearifan lokal di setiap tempat," kata Yohanes Don Bosco Doho, Dosen LSPR London School Jakarta dalam sidang terbuka untuk meraih gelar Doktor di bidang Manajemen Pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Kamis (28/11/2019). 

Di hadapan dewan penguji yang diketuai Prof Dr. Ivan Hanafi M.Pd, Asisten Direktur I Pascasarjana UNJ.

Baca: Rektor Unnes Dipanggil UGM Terkait Dugaan Plagiarisme Disertasinya

Bosco memaparkan secara lengkap seputar kepemimpinan etis yang secara universal sangat dibutuhkan oleh seluruh umat manusia.
Bosco mengatakan,

Dikatakannya, umumnya seluruh bentuk kearifan lokal sarat dengan nilai-nilai etis.

Setiap organisasi atau institusi mutlak membutuhkan kepemimpinan.

Literatur menegaskan bahwa inti dari kepemimpinan adalah bagaimana memberi pengaruh bagi semua pengikut.

Penelitian ini mengambil tema tentang kepemimpinan etis berbasis kearifan lokal pada lembaga pendidikan Katolik di Manggarai Nusa Tenggara Timur.

Tiga sekolah Katolik yang diteliti adalah SMA Seminari Pius XII Kisol, SMAK St. Klaus Kuwu, dan SMAK St. Ignatius Loyola Labuan Bajo.

Adapun kearifan lokal dalam bidang kepemimpinan di Manggarai NTT mengerucut menjadi tujuan poin yaitu toing, teing, titong, tatong, taking, toming dan tinu.

Semua kearifan ini diturun temurunkan dari orang tua hingga ke generasi masa kini.

Perkembangan zaman berpotensi memudarkan kearifan lokal tersebut padahal nilai moralitas dari kearifan tersebut tidak pernah lekang oleh ruang dan waktu.

Baca: Dedeh Erawati Tambah Ilmu Kepelatihan Soalnya Ingin Cetak Atlet Berprestasi

"Kepemimpinan dalam pendidikan di ketiga sekolah di atas dijalankan oleh para pemimpinnya melalui berbagai aktivitas dan pendampingan di ruang-ruang kelas serta di asrama,” ujarnya.

Halaman
12
Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan