Sesalkan Munas Golkar, Rocky Gerung: Golkar Akan Hidup dalam Dendam, karena Ada Orang yang Disakiti
Rocky Gerung menyesalkan jalannya Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golkar tahun 2019 ini. Ia meyakini jalannya munas diintervensi Istana.
Penulis:
Wahyu Gilang Putranto
Editor:
Wulan Kurnia Putri
"Kita tahu juga Bambang Soesatyo itu orang pertama yang mengajukan ide supaya Presiden Jokowi tiga periode. Dan presiden menjawab 'itu seperti tamparan bagi saya', dan memang ditampar balik. Sehingga Bambang Soesatyo mengundurkan diri," ucapnya.
Rocky Gerung kemudian sedikit merevisi kalimat terakhirnya.
"(Bambang Soesatyo) dengan sendirinya harus mengundurkan diri karena sinyal istana tidak menginginkan dia. Itu buruk buat demokrasi," ujarnya.
Sebut Jokowi Sering Intervensi Partai
Lebih lanjut, Rocky Gerung menyebut Presiden Jokowi melakukan intervensi terhadap partai politik.
"Selama Presiden Jokowi memerintah dalam periode pertama, beberapa partai diintervensi seperti PPP," ucapnya.
Kritik pedas Rocky Gerung juga mengungkapkan yang dilakukan tersebut adalah wujud sikap orde baru.
"Kelihatnya tabiat orde baru mengendalikan partai politik masih terbawa atau dibikin lebih sublim oleh rezim ini. Seolah-olah tidak intervensi tapi sinyalnya intervensi," ujarnya.
Munas Golkar
Sebelumnya persaingan Calon Ketua Umum (Caketum) Partai Golkar yang diprediksi berlangsung ketat justru mengendur.
Pasalnya, beberapa calon memutuskan diri untuk mundur dari persaingan caketum.
Termasuk mundurnya kader Golkar sekaligus Ketua MPR, Bambang Soesatyo.
Bambang Soesatyo sebelumnya digadang menjadi pesaing berat Airlangga Hartarto.

Dilansir Kompas.com, mundurnya Bambang Soesatyo dilakukan menjelang Munas Partai Golkar, Selasa (3/12/2019) sore.
Mundurnya Bambang Soesatyo diungkapkan ketua tim pemenangan Bambang Soesatyo, Ahmadi Noor Supit.