Breaking News:

KPK Dalami Aliran Dana Hong Arta Dalam Kasus Suap Proyek di Kementerian PUPR

Direktur PT Sharleen Raya (Jeco Group), Hong Arta, memenuhi panggilan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Senin (20/7/2020).

TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Direktur dan Komisaris PT Sharleen Raya (JECO Group) Hong Arta John Alfred berjalan memasuki ruangan untuk menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Senin (20/7/2020). KPK memeriksa Hong Arta sebagai tersangka untuk kasus dugaan suap proyek Kementerian PUPR saat operasi tangkap tangan (OTT) pada Januari 2016 dengan mengamankan Damayanti Wisnu Putranti. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ilham Rian Pratama

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur sekaligus Komisaris PT Sharleen Raya (Jeco Group), Hong Arta, memenuhi panggilan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Senin (20/7/2020).

Pemeriksaan terhadap tersangka Hong Arta merupakan penjadwalan ulang yang seharusnya dilakukan pada 13 Juli 2020 lalu, karena dirinya mangkir dari panggilan lembaga antirasuah.

Kali ini, Hong Arta diperiksa dengan kapasitasnya sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap terkait proyek Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Tahun Anggaran 2016.

Baca: Kesal Wajahnya Disorot Kamera Usai Diperiksa KPK, Hong Arta: Saya Bukan Penjahat Negara

“Penyidik masih terus melakukan pendalaman mengenai dugaan perbuatan tersangka memberikan sejumlah uang kepada pihak-pihak selain kepada terpidana Amran Hi Mustary dan terpidana Damayanti Wisnu Putranti yang perkaranya telah berkekuatan hukum tetap,” kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri dalam keterangannya, Senin (20/7/2020).

Dalam perkara ini, Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) IX Maluku dan Maluku Utara Amran Hi Mustary telah divonis hakim 6 tahun penjara dan denda Rp 800 juta subsider 4 bulan kurungan.

Sedangkan, mantan anggota Komisi V DPR RI Damayanti Wisnu Putranti dijatuhi hukuman 4,5 tahun penjara.

Baca: KPK Ingatkan Tersangka Hong Arta Untuk Penuhi Panggilan Senin Pekan Depan

Bekas politikus PDIP itu juga diwajibkan membayar denda Rp 500 juta subsider 3 bulan kurungan.

Sementara itu, seusai pemeriksaan, Hong Arta memilih untuk tidak menceritakan terkait pemeriksaannya tersebut.

Ia malah melontarkan kekesalannya, karena awak media terus menyorot wajahnya dengan kamera.

Halaman
12
Penulis: Ilham Rian Pratama
Editor: Adi Suhendi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved