Breaking News:

Virus Corona

Mendagri Tito Karnavian Tegur Wali Kota Idris Terkait Rendahnya Rasio Tes Covid-19 di Kota Depok

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menegur Wali Kota Depok Mohammad Idris terkait rasio tes Covid-19

istimewa
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dwi Putra Kesuma

TRIBUNNEWS.COM, DEPOK – Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menegur Wali Kota Depok Mohammad Idris terkait rasio tes Covid-19 yang dilakukan Pemerintah Kota Depok masih sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah populasi penduduknya.

“Tadi kan saya lihat langsung bapak (Idris) mengatakan positif rate-nya sekian, ada kemajuan menjadi oranye. Nanti dulu, saya mau tanya sampelnya berapa? 6.578. betul ya pak? angkanya 6.578, jumlah penduduk berapa hampir 2 juta. 6.578 per 2 juta ketemunya 0,03 persen. Artinya yang disampling, yang diperiksa 0,03 persen, rendah sekali. Itu belum menggambarkan populasi,” kata Tito saat melaunching gerakan dua juta masker di Kantor Kecamatan Tapos, Kamis (13/8/2020).

Baca: Ketika Mendagri Tito Karnavian Sindir Wali Kota Depok Kenakan Masker N95

Tito mengaku, hal tersebut juga yang membuatnya lebih menyoroti angka kematian (mortality rate), dibandingkan dengan positif rate.

“Jadi bapak menyampaikan data tadi, ya saya oke lah, tapi yang saya lihat cuma fatality rate pak. Fatality rate itu nggak bisa ditutup, angka kematian. Tapi kalau positif rate, i dont believe that untuk saat ini,” katanya.

Menurut Tito, apa yang terjadi di Kota Depok sama halnya dengan yang ia temukan saat berkunjung ke Kalimantan Utara beberapa waktu lalu.

“Kalau populasi, kemarin saya ke Kalimantan Utara, Pak Gubernur-nya juga sama, bangga mengatakan, pak kita positif rate-nya rendah. Tapi berapa banyak testingnya, pertanyaan saya itu,” tegasnya.

Baca: Mendagri Tito Karnavian Instruksikan Kepala Daerah soal Verifikasi hingga Pemantauan Data Bansos

Lanjut Tito, dirinya menyarankan agar Kota Depok proaktif melakukan testing Covid-19, untuk melihat populasi dan keadaan yang sesungguhnya.

“Testing secara random di tempat-tempat tertentu, seperti kita Pemilu lah. Kalau Pemilu kan nanti biasa surveyor mengadakan random sampling method, mengambil sampel secara acak dengan multified, multi stratified, jadi secara bertingkat,” tuturnya.

Baca: Mendagri Tito Larang Pengerahan Massa Termasuk Dangdutan Saat Kampanye Pilkada

“Misalnya untuk Wali Kota berarti sampelnya diambil misalnya di tiap-tiap Kecamatan, Kelurahan, RT, RW, dan setelah itu pengambilannya harus random, acak. Dari situ bisa menggambarkan populasi berapa tingkat elektabilitas, itu representatif, ilmu metodologi pemilu adalah sains,” lanjut diai.

Terakhir, Tito mengatakan yang dilakukan Kota Depok saat ini adalah pasif testing, dimana yang digambarkan hanyalah puncak ‘gunung es’.

“Itu adalah pasif testing, itu nggak menggambarkan. Dia hanya menggambarkan puncak gunung es. Kalau dia aktif proaktif testing, agresif dan jumlahnya di atas lima persen, nah itu bisa menggambarkan keadaan sebenarnya dari angka positif atau tidak di Depok. Benar enggak pak angka saya 6.578 dari buku ini? yak, itu rendah sekali, 0,03 persen. Ilmu metodologi, 0,03 persen itu margin of errornya sangat tinggi sekali. Tingkat kesalahannya sangat tinggi,” katanya.

Editor: Adi Suhendi
Sumber: TribunJakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved