Kapal Selam Nanggala Hilang Kontak

Legislator PKS: Industri Pertahanan Dalam Negeri Tidak Kalah dengan Produk Impor

Insiden karamnya kapal selam KRI Nanggala 402 sepatutnya mendorong pemerintah melakukan modernisasi alat utama sistem pertahanan (alutsista).

KOMPAS.com/CYPRIANUS ANTO SAPTOWALYONO
Kapal selam KRI Nanggala 402 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Insiden karamnya kapal selam KRI Nanggala 402 sepatutnya mendorong pemerintah melakukan modernisasi alat utama sistem pertahanan (alutsista).

Pemerintah perlu mengoptimalkan peran dan fungsi riset dan teknologi serta BUMN Pertahanan untuk mendukung program modernisasi alutsista tersebut.

Meskipun hasil investigasi komprehensif karamnya KRI Nanggala 402 belum keluar namun fakta objektif menunjukkan kemampuan alutsista Indonesia jauh tertinggal.

Baik secara jumlah maupun kualitas. Banyak alutsista yang ada sekarang berumur melebihi dari jangka waktu efektif penggunaan yang ditentukan.

Hal itu dikatakan anggota Komisi VII DPR RI fraksi PKS, Mulyanto, kepada wartawan Rabu (28/4/2021).

Untuk itu Mulyanto mendorong Menristek, sebagai anggota Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP), menginisiasi perumusan ulang kebijakan pengembangan industri pertahanan nasional.

Hal ini perlu dilakukan dalam rangka memperbaharui alutsista nasional agar memenuhi batas minimum kemampuan (minimum essential force atau MEF).

"Hasil produksi industri pertahanan kita, baik Pindad maupun PAL tidak kalah dengan produk impor. Bahkan kerap kali produk Pindad menjadi juara dalam berbagai perlombaan penggunaan senjata," kata Mulyanto.

"Artinya kualitas produk industri Hankam kita ini sudah sangat baik. Yang dibutuhkan adalah political will dan dukungan kebijakan Pemerintah, agar jam terbang produksi industri Hankam tersebut semakin tinggi, sehingga semakin menghasilkan produk inovasi hankam yang berdaya saing tinggi," lanjutnya.

Baca juga: TNI AL Bantah Isu KRI Nanggala 402 Tenggelam karena Kelebihan Muatan dan Ditembak Rudal

Mulyanto menambahkan, hasil riset dan pengembangan Hankam, baik yang dilakukan oleh lembaga riset maupun oleh industri Hankam perlu didorong untuk disempurnakan dan diproduksi secara domestik.

"Pelaksanaannya tentu saja pada saat keuangan negara sudah membaik. Masak semangatnya kalah dengan jama’ah Masjid Jogokaryan, Yogyakarta," ucap Wakil Ketua FPKS DPR RI Bidang Industri dan Pembangunan ini.

Mulyanto berharap, ke depan melalui review kebijakan industri pertahanan nasional secara seksama, dapat didorong kebijakan anggaran yang kondusif untuk produksi alutsista nasional secara domestik tersebut.

Untuk diketahui Nanggala 402 adalah kapal selam bermotor diesel-listrik tipe U-209 buatan Jerman, yang berusia mencapai 44 tahun.

Padahal normalnya operasi kapal selam hanya sampai usia 25-30 tahun.  Karenanya memerlukan perawatan yang intensif.

Alutsista lain diperkirakan memiliki usia dan model perawatan yang serupa. Karena itu pertimbangan untuk mereview kebijakan alutsisata dan industri pertahanan nasional menjadi penting untuk dilakukan dalam rangka membangun sistem pertahanan dan keamanan nasional yang tangguh.

Diberitakan sebelumnya, KRI Nanggala-402 dinyatakan hilang pada Rabu (22/4/2021).  Di dalam pencarian, ditemukan barang-barang yang diyakini milik Nanggala-402 di sekitar dua mil dari posisi KRI Nanggala 402 menyelam.

Konfirmasi tersebut berhasil dilakukan melalui pemindaian menggunakan multibeam sonar dan magnetometer serta remote operation vehicle (ROV) milik kapal Singapura MV Swift Rescue, yang diturunkan ke lokasi di kedalaman 830 meter di utara perairan Bali. 

Melalui visualisasi dengan menggunakan kamera tersebut diperoleh citra bawah air yang lebih detail. Terlihat KRI Nanggala-402 terbelah menjadi 3 bagian.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved