Jumat, 29 Agustus 2025

Penanganan Covid

Bagaimana Jika Telat Melaksanakan Vaksin Dosis ke-2? Simak Penjelasannya

Keterlambatan penyuntikan vaksin dosis kedua masih aman selama masih dalam interval yang direkomendasikan para ahli, ini penjelasannya.

Penulis: Lanny Latifah
IST
Pemerintah Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, menggelar kegiatan vaksinasi Covid-19 untuk warga. Program ini dijalankan bekerja sama dengan industri farmasi seperti PT Konimex dan Halodoc serta pengelola mal guna mempercepat vaksinasi bagi masyarakat. 

TRIBUNNEWS.COM - Berikut ini penjelasan mengenai keterlambatan melaksanakan vaksin Covid-19 dosis ke-2.

Vaksinasi merupakan salah satu upaya penting untuk membantu penekanan laju penyebaran virus.

Pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan laju vaksinasi yang saat ini berada di angka 1 juta-1,25 juta setiap harinya.

Namun, tidak menutup kemungkinan terjadi keterlambatan dalam pelaksanaan vaksinasi, termasuk untuk penyuntikan dosis kedua yang saat ini sedang terjadi di beberapa daerah dikarenakan ketersediaan vaksin.

Baca juga: Masyarakat yang Belum Punya NIK Tetap Bisa Dapat Dosis Vaksin Covid-19

Baca juga: Efek Samping Vaksin Covid-19, Beserta Cara Mengatasinya

Berdasarkan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan para ahli, dibutuhkan penyuntikan dua dosis vaksin Covid-19 bagi setiap individu untuk menciptakan kekebalan tubuh yang optimal.

Selain itu, rentang waktu penyuntikan dosis pertama dan dosis kedua, serta dosis pemberian vaksin berbeda-beda sesuai dengan rekomendasi untuk setiap jenis vaksin yang digunakan.

Lantas, bagaimana jika telat melaksanakan vaksin dosis ke-2?

Juru bicara vaksinasi, Kementerian Kesehatan RI dr Siti Nadia Tarmizi mengatakan, keterlambatan penyuntikan vaksin dosis kedua masih aman, selama masih dalam interval yang direkomendasikan para ahli.

"Keterlambatan penyuntikan vaksin dosis kedua selama masih dalam interval yang direkomendasikan para ahli, masih aman dan tidak akan mengurangi efektivitas vaksin pertama sehingga antibodi kita masih dapat terbentuk dengan optimal melawan Covid-19," katanya, dikutip dari Kemkes.go.id.

Adapun untuk vaksin Sinovac, jarak penyuntikan dosis 1 ke dosis kedua adalah 28 hari, sementara vaksin AstraZeneca 2 sampai 3 bulan.

Sementara bagi penyintas dapat divaksin setelah 3 bulan dinyatakan sembuh.

Untuk penyintas yang sudah mendapatkan vaksin dosis 1 sebelum dinyatakan positif, maka bisa melanjutkan vaksinasi dosis kedua setelah sembuh 3 bulan dan tidak perlu mengulang.

Perlu diketahui, pemerintah telah mendistribusikan 86.253.981 dosis vaksin dan 67.884.947 dosis telah digunakan di 34 provinsi.

Vaksinasi ini merupakan upaya tambahan untuk melindungi seseorang dari potensi penularan Covid-19, sehingga protokol kesehatan mutlak tetap dilakukan untuk memberikan perlindungan yang optimal.

Petugas kesehatan dari Pemrov DKI Jakarta menyuntikan vaksin COVID-19 saat mengikuti vaksinasi COVID-19 di bawah Jalan layang Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Senin (2/8/2021). Menurut Data Satuan Tugas Penanganan COVID-19 laju vaksinasi COVID-19 harian di Indonesia hingga akhir juli 2021 telah menyentuh angka rata-rata 1,1 juta dosis perharinya. Sebagai informasi, total vaksin yang sudah diterima Indonesia sampai 2 Agustus 2021 adalah 178.358.880 dosis vaksin Covid-19. Tribunnews/Jeprima
Petugas kesehatan dari Pemrov DKI Jakarta menyuntikan vaksin COVID-19 saat mengikuti vaksinasi COVID-19 di bawah Jalan layang Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Senin (2/8/2021). Menurut Data Satuan Tugas Penanganan COVID-19 laju vaksinasi COVID-19 harian di Indonesia hingga akhir juli 2021 telah menyentuh angka rata-rata 1,1 juta dosis perharinya. Sebagai informasi, total vaksin yang sudah diterima Indonesia sampai 2 Agustus 2021 adalah 178.358.880 dosis vaksin Covid-19. Tribunnews/Jeprima (TRIBUNNEWS/Jeprima)

Baca juga: Vaksin Ibu Hamil, Ini Syarat dan 3 Jenis Vaksin Covid-19 yang Digunakan

Baca juga: Alasan Kemenkes Tak Anjurkan Masyarakat Lakukan Pemeriksaan Antibodi Pascavaksinasi

Hasil Penelitian Dua Dosis Vaksin Covid-19

Juru Bicara Pemerintah untuk penanganan Covid-19, Dokter Reisa Broto Asmoro memaparkan tentang penelitian yang diterbitkan di New England Journal of Medicine tanggal 7 Juli 2021.

Berdasarkan hasil penelitian menyatakan bahwa vaksin Sinovac efektif mencegah Covid-19, termasuk penyakit parah dan kematian.

Penelitian yang dilakukan dari 2 Februari hingga 1 Mei 2021 terhadap 10,2 juta orang tersebut menunjukkan efektivitas yang tinggi untuk pencegahan rawat inap, pencegahan masuk unit gawat darurat atau UGD, maupun pencegahan kematian terkait Covid-19.

Selain itu, hasil penelitian Canadian Immunization Research Network (CIRN) juga menunjukkan bahwa satu dosis vaksin Astrazeneca dapat memberikan perlindungan substansial terhadap semua jenis varian Sars COV-2 yang jadi perhatian utama yaitu varian beta, gamma, delta, dan kent.

Para peneliti menyimpulkan bahwa 2 dosis lengkap akan memberikan perlindungan yang lebih tinggi.

"Bagian pemerintah menyiapkan suplai vaksin yang sekarang sudah berjumlah hampir 180 juta dosis. Sedangkan bagian masyarakat tentunya dengan semangat menyiapkan diri divaksin," ujarnya dalam dialog virtual, Rabu (4/8/2021).

Dokter Reisa Broto Asmoro juga menambahkan, vaksinasi akan membantu menekan angka kematian karena Covid-19.

Prinsip program vaksinasi yaitu melindungi orang Indonesia sebanyak-banyaknya dalam waktu secepat mungkin.

"Sebanyak-banyaknya adalah kata kuncinya. Vaksinasi harus merata dan harus setara. Semua orang boleh mendapatkan vaksin," ungkapnya.

(Tribunnews.com/Latifah/Rina Ayu)

Berita lainnya terkait Penanganan Covid

Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan