Breaking News:

Kisah 3 Joki Cilik Asal Sumbawa Menarik Perhatian Masyarakat Jepang

Joki cilik Sila tercatat seringkali memenangkan perlombaan pacuan kuda di Sumbawa.

Editor: Dewi Agustina
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Pacuan Kuda Penyaring di Desa Penyaring, Moyo, Utara Sumbawa. Sila pakaian oranye paling belakang. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Joki cilik di Sumbawa memiliki penghasilan mencapai rata-rata Rp 1.040.000 per bulan. Jumlah ini hampir sama dengan penghasilan orang dewasa di Sumbawa.

"Penghasilan dari sekali mengikuti pacuan kuda jika menang dapat hadian 1 juta rupiah," ungkap NTV, Senin (15/11/2021) malam.

Warga Jepang kaget mendengar penghasilan joki cilik bisa sama dengan penghasilan orang dewasa per bulannya, bahkan lebih besar sehingga bisa menghidupi keluarganya (orang tua dan saudara-saudaranya).

"Seminggu bisa 300 kali pacuan kuda, berapa banyak kalau begitu penghasilan joki cilik tersebut? Cukup besar ya, makanya bisa menghidupi keluarganya," papar Nakamura, seorang pengamat Indonesia kepada Tribunnews.com, Selasa (16/11/2021).

Tiga joki cilik yang ditampilkan pada acara televisi Jepang itu adalah Forman (6), Sila (7) dan Rendi (11) beserta komentar orang tua mereka.

Joki cilik Sila tercatat seringkali memenangkan perlombaan pacuan kuda di Sumbawa.

"Kami sendiri sebenarnya takut kalau kecelakaan atau terjadi sesuatu pada anak kami. Namun Sila memang harapan kami untuk menghidupi keluarga. Yang penting dia bisa pulang dengan selamat. Itu saja saat ini," kata ibu Sila berkomentar.

Ayah Sila yang dulunya juga joki cilik mengaku mengajarkan sendiri kepada anaknya, Sila, cara menjadi Joki di Sumbawa.

Joki Sila (7) dan ayahnya (kanan).
Joki Sila (7) dan ayahnya (kanan). (Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo)

"Maaf saya tak bisa berbuat banyak, uang dari Sila," kata ayahnya mengakui penghasilan keluarga saat ini tergantung kepada Sila sebagai joki pacuan kuda.

"Cita-cila Sila ingin jadi polisi semoga saja bisa terkabulkan. Dia harus sekolah supaya pintar. Mau jadi apa dia kalau berhenti jadi joki tapi tak berpendidikan tinggi nanti. Oleh karena itu sekolah jadi perhatian utama kami meskipun uang juga penting untuk menghidupi kami," tambah ibunya.

Guru Sila pun ikut berkomentar di acara NTV tersebut.

"Suatu ketika saya kaget kenapa muka mu Sila. Ditanya begitu Sila mengatakan kena tendang kuda katanya. Prihatin saya dengan risiko dan bahaya yang ada di pacuan kuda," papar sang guru.

Ayah Sila juga memberitahukan, melakukan pemasangan ban pinggang kaki kera (monyet) di lingkaran perutnya sebagai kepercayaan semoga dapat menjaga Sila selama pacuan kuda berlangsung sehingga tidak terjadi hal-hal yang buruk nantinya.

Baca juga: Survei: 70,4 Persen Warga Jepang Tak akan Membuat Pesta Tahun Baru Bonenkai

Sila yang mulai belajar jadi joki cilik usia 4 tahun mengaku cukup takut pada awal mulanya. Lalu menjadi joki pada usia 5 tahun.

"Takut juga saya dulu tapi kini sudah terbiasa jadi joki pacuan kuda," papar Sila.

Selain itu Sila juga menunjukkan rumah yang dibangun untuk keluarganya.

"Itu rumah dari saya untuk keluarga saya yang beli," paparnya.

Ibunya sangat bangga dengan Sila.

"Benar-benar luar biasa anak itu. Kita beruntung punya anak Sila," papar ibunya.

Menurut ayah Sila seminggu bisa sering ikut pacuan kuda termasuk latihan agar semakin baik kualitasnya sebagai joki. Karena jumlah pacuan kuda di Sumbawa seminggu bisa mencapai 300 kali.

Sama seperti Sila, keluarga Firman (6) dan Rendi (11) juga sama prihatinnya.

"Firman dititipkan oleh keluarganya kepada kami tetapi sudah seperti keluarga kami saja, jadi adik kakak," ungkap ibu Rendi.

Ibu tersebut juga ketakutan dan selalu deg-degan kalau diadakan pacuan kuda.

"Saya paling tidak mau pergi dan tak mau nonton pacuan kuda. Ngeri rasanya. Yang penting selamat saja anak saya," papar ibunya.

Joki Firman (6) dan joki Rendi 11 tahun (kanan).
Joki Firman (6) dan joki Rendi 11 tahun (kanan). (Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo)

Ayah Rendi bekerja sebagai penangkap ikan dan bertani. Namun dengan harga ikan yang rendah dan penghasilan tak seberapa, Firman dan Rendi menjadi tulang punggung penghasilan keluarga tersebut.

"Kami selalu ketakutan kalau anak-anak berpacu di lapangan balapan kuda itu. Tentu saja kami selalu berdoa agar mereka selamat. Oleh karena itu anak-anak juga selalu berlatih agar dapat mengurangi risiko dan bis amenguasai kudanya dengan baik," papar ayah Rendi.

Aktivitas harian para joki kuda Sumbawa itu sama halnya seperti anak-anak pada umumnya. Sekolah, belajar menulis dan berlatih kuda.

Acara yang menampilkan para joki Sumbawa Indonesia itu memberikan kesan berharga bagi kalangan warga Jepang saat ini.

"Salut saya dengan anak-anak Indonesia yang semangatnya tinggi-tinggi untuk menjadi juara," tambah Nakamura.

Sementara itu Beasiswa (ke Jepang), belajar gratis di sekolah bahasa Jepang di Jepang, serta upaya belajar bahasa Jepang yang lebih efektif dengan melalui zoom terus dilakukan bagi warga Indonesia secara aktif dengan target belajar ke sekolah di Jepang nantinya. Info lengkap silakan email: info@sekolah.biz dengan subject: Belajar bahasa Jepang.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved