Senin, 1 September 2025

Kunjungi Batam, Mendagri Tangkap Peluang Pariwisata WN Singapura Genjot Pemulihan Ekonomi

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian bersama rombongan melakukan kunjungan ke Kota Batam dalam rangka mendiskusikan pariwisata.

Ist
Menteri Dalam Negeri yang juga Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) Muhammad Tito Karnavian saat menghadiri Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi II DPR RI di Gedung DPR RI, Senayan, Selasa (5/4/2022). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fransiskus Adhiyuda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian bersama rombongan melakukan kunjungan ke Kota Batam dalam rangka mendiskusikan pariwisata

Dalam kunjungan itu, Mendagri menangkap peluang pariwisata di Kota Batam dan sekitarnya untuk pemulihan ekonomi. 

Pasalnya, Batam memiliki potensi pariwisata yang bagus dan dapat memberikan pemasukan bagi pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

“Mudah-mudahan bisa membuat tourisme pariwisata di Batam, Bintan, Karimun kembali ramai, dan kemudian mudah-mudahan juga ekonomi recovery ya,” kata Mendagri Tito usai meninjau Terminal Feri Internasional Nongsapura, Batam, Jumat (15/4/2022).

Selain itu, Mendagri mengungkapkan, Batam dan Bintan merupakan dua daerah yang memiliki destinasi wisata yang ramai dikunjungi selain Bali, Lombok, dan Sulawesi Utara. 

Ketika pariwisata ini terus dikembangkan oleh pemerintah daerah, akan memberi dampak pula bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD). 

“Karena yang di Bintan, Lagoi itu menyumbang PAD yang cukup signifikan untuk Kabupaten Bintan,” tegas Tito.

Ia menuturkan, wisawatan yang datang dari Singapura dan Malaysia menjadi faktor penting dalam geliat pariwisata di Kota Batam dan sekitarnya. 

Meski demikian, Mendagri menjelaskan terkait kendala masuknya turis mancanegara, khususnya yang datang dari Singapura dengan menggunakan tes Polymerase Chain Reaction (PCR). 

Di Singapura, biaya tes PCR cukup tinggi dibandingkan Indonesia. Jika di Indonesia biaya PCR sekitar 300 ribu rupiah, maka di Singapura bisa mencapai 180 dollar atau sekitar Rp 1,8 juta. 

Kendala lainnya, hanya pihak-pihak tertentu saja di Singapura yang ditunjuk untuk melakukan tes PCR.

Nerbeda dengan Indonesia yang membolehkan pihak swasta turut memberikan layanan tes Covid-19, sehingga memudahkan masyarakat dalam mengakses layanan tersebut.

“Jasa PCR di sana yang melaksanakan PCR providernya PCR itu di network tertentu saja, beda dengan Indonesia di mana PCR itu diswastanisasikan, diprivatisasikan, sehingga tidak menjadi monopoli pemerintah,” jelasnya.

Adanya kendala itu membuat pemerintah Indonesia melakukan dialog dengan pihak pemerintah Singapura untuk membahas persoalan tersebut. 

Halaman
12
Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan