Pendaki Tewas di Gunung Rinjani
Evaluasi Proses Penyelamatan Juliana Marins, Komisi V DPR RI: Basarnas Harus Dibekali Kamera
Daniel Mutaqien Syafiuddin menilai, Basarnas harus lebih narsis, dalam artian mendapat perlengkapan dokumentasi untuk membuat konten proses evakuasi.
TRIBUNNEWS.COM - Anggota Komisi V DPR RI Fraksi Golkar, Daniel Mutaqien Syafiuddin, memberikan tanggapan mengenai proses evakuasi pendaki asal Brazil, Juliana Marins, yang jatuh dan tewas di Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Dalam tanggapannya, Daniel menyatakan apresiasi kepada upaya yang dilakukan Badan SAR Nasional RI (Basarnas).
Namun, ia memberikan evaluasi, untuk membekali tim Basarnas RI perlengkapan dokumentasi, sebagai bukti agar publik tahu seberapa sulit proses evakuasi Juliana Marins.
Hal ini disampaikan Daniel dalam rapat dengar pendapat dengan Kepala BNPP/Basarnas di Gedung DPR Jakarta, Senin (7/7/2025).
"Saya secara pribadi saya mengapresiasi atas upaya yang sudah dilakukan oleh tim rescue gabungan baik dari Basarnas, relawan, dan lain sebagainya. Lalu, ada superhero baru yang namanya Kang Agam," kata Daniel.
Lalu, Daniel menyebut proses evakuasi Juliana Marins menjadi sorotan internasional.
Namun, evakuasi tersebut menuai kritikan karena dinilai memakan waktu terlalu lama.
Menurut Daniel, kritikan tersebut mengesampingkan aspek-aspek upaya penyelamatan dan evakuasi Juliana Marins yang lain.
"Dari beberapa statement, saya ini agak terketuk. Ada pernyataan beliau [Agam Rinjani] yang menyampaikan, kalau beliau itu turun di lokasi itu baru 3 hari setelah kejadiannya," kata Daniel.
"Saya ngikutin berita ini dari awal, karena mohon maaf saya juga dulu pernah pegiat pecinta alam juga. Ada pernyataan 'kalau saya ada di sana hari itu', ini mungkin korban bisa selamat. Ada pernyataan itu di podcast. Ini kan berarti menyampingkan komponen-komponen rescue yang lain." jelasnya.
Mengetahui titik jatuhnya Juliana Marins, yakni di Cemara Nunggal yang notabene medannya vertikal dan sangat sulit, Daniel menilai butuh alat dokumentasi agar tim Basarnas tidak serba disalahkan dan disebut lambat dalam evakuasi.
Baca juga: Prabowo Kemungkinan Akan Ditanya Presiden Brasil soal Kematian Juliana Marins Saat Bertemu Rabu
Sebab, di era digital seperti saat ini, masyarakat butuh konten visual agar mengerti kondisi realita di lapangan, evakuasi tidak bisa dilakukan dalam waktu cepat karena dibutuhkan kalkulasi dan pertimbangan mengenai faktor lain agar tidak menambah korban baru.
Sehingga, Daniel menilai, Basarnas RI harus lebih narsis, dalam artian mendapat perlengkapan dokumentasi untuk membuat konten proses evakuasi.
"Kalau lihat kondisi medan, Cemara Nunggal Itu memang kalau jatuh di situ ya fatal. Kalau bicara 200 meter, 600 meter, kalau kita jalan kaki horizontal ya memang kelihatannya pendek," jelas Daniel Mutaqien Syafiuddin.
"Tapi kalau vertikal di jalur itu, mau 200 meter, mau 600 meter itu, ya fatal karena vertikal, apalagi jalurnya juga batu dan pasir kan seperti itu," lanjutnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Juliana-Marins-semasa-hidup.jpg)