Sabtu, 9 Mei 2026

Hadiri Pembekalan Retret KADIN oleh Panglima TNI, Bamsoet Bahas Pertahanan Nasional

Bambang Soesatyo menegaskan pentingnya kekuatan pertahanan nasional sebagai fondasi utama untuk menopang ketahanan ekonomi nasional.

Tayang:
Editor: Content Writer
Istimewa
PEMBEKALAN RETRET KADIN - Anggota DPR, Bambang Soesatyo, menghadiri pembekalan Retret KADIN 2025 oleh Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, di Jakarta, Kamis malam (7/8/2025). 

TRIBUNNEWS.COM - Anggota DPR RI, Bambang Soesatyo menegaskan pentingnya kekuatan pertahanan nasional sebagai fondasi utama untuk menopang ketahanan dan kemajuan ekonomi nasional.

Bamsoet menambahkan, dunia usaha membutuhkan kepastian dan stabilitas jangka panjang yang hanya bisa dicapai jika sistem pertahanan nasional berada dalam kondisi kuat dan siap menghadapi segala bentuk ancaman.

"Saya sepakat dengan Presiden Prabowo Subianto, apabila kita bicara ekonomi, jangan pernah lepas dari isu pertahanan. Dunia usaha bergerak kalau ada kepastian, dan kepastian itu lahir dari kekuatan, baik militer, pangan, energi, hingga siber. Tanpa itu, ekonomi kita akan selalu rapuh ketika diguncang krisis global," ujar Bamsoet usai mengikuti pembekalan Retret KADIN 2025 oleh Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, di Jakarta, Kamis malam (7/8/2025).

Agenda ini turut dihadiri Ketum KADIN Indonesia, Anindya Bakrie; para pengurus pusat KADIN Indonesia, para ketua KADIN provinsi seluruh Indonesia, dan asosiasi di bawah KADIN.

Lebih lanjut Bamsoet menjelaskan, penguatan pertahanan harus dilihat sebagai bagian integral dari strategi pembangunan ekonomi, bukan sebagai beban anggaran negara.

Upaya pemerintah, kata Prabowo, dalam memodernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista), merevitalisasi industri pertahanan dalam negeri seperti PT Pindad dan PT PAL, serta rencana penguatan ekosistem industri strategis nasional, perlu didukung oleh semua pihak.

Baca juga: Bamsoet Apresiasi Langkah Presiden Prabowo Beri Abolisi dan Amnesti

Tak hanya fokus pada sektor militer, Bamsoet juga menyoroti urgensi membangun ketahanan pangan nasional. Ketergantungan pada impor komoditas strategis seperti beras, jagung, gula, dan kedelai telah menjadi titik rawan bagi stabilitas ekonomi Indonesia.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan dalam 10 tahun terakhir, jumlah petani di Indonesia menyusut drastis. Dari 31,7 juta orang di tahun 2013 menjadi sekitar 29,3 juta pada tahun 2023.

"Ketahanan pangan merupakan bagian dari pertahanan nasional. Kita tidak bisa berharap ekonomi tumbuh kalau logistik pangan rapuh. KADIN siap bersinergi dengan pemerintah untuk memperkuat produksi dalam negeri dan memperluas jaminan pasar bagi petani," kata Bamsoet. 

Untuk itu, Bamsoet mengingatkan pentingnya mitigasi risiko strategis dalam dunia usaha, termasuk dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik dan ancaman siber. 

Dalam laporan internal KADIN, disebutkan bahwa sebanyak 68 persen pelaku usaha belum memiliki sistem perlindungan siber yang memadai, padahal risiko serangan digital terus meningkat.

"Kita butuh literasi pertahanan dalam arti luas. Dunia usaha harus sadar bahwa ancaman itu bukan cuma fisik. Serangan digital bisa lumpuhkan sistem logistik nasional, bisa mengganggu transaksi keuangan, bisa bikin ketakutan investor. Ini harus menjadi perhatian bersama," pungkas Bamsoet. (*)

Baca juga: Bambang Soesatyo Usulkan Amandemen Kelima UUD 1945, Dorong Reformasi Etika dan Sistem Kekuasaan

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved