Menteri Wihaji Pastikan Program GENTING Tidak Gunakan APBN, Sudah Ada 1,4 Juta Penerima Manfaat
Genting merupakan inisiatif gotong royong dari masyarakat guna membantu keluarga yang berisiko stunting. Tujuannya menciptakan generasi sehat dan kuat
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji mengungkapkan cerita dibalik hadirnya Program GENTING (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting) yang secara resmi diluncurkan sejak 5 Desember 2024 lalu.
Baca juga: Solidaritas GENTING Tumbuh Tanpa Batas: Sinergi Bersama untuk Generasi Sehat dan Bebas Stunting
Hal itu disampaikan dia dalam kegiatan Talk Show Solidaritas GENTING dengan tajuk “Tumbuh Tanpa Batas” yang digelar Rabu (15/10/2025) di Studio I KompasTV, Menara Kompas, Jakarta.
Genting merupakan inisiatif gotong royong dari masyarakat untuk membantu keluarga yang berisiko stunting. Tujuannya adalah menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan kuat.
Wihaji mengatakan Program GENTING terinspirasi dari Gerakan Orang Tua Asuh (GNOTA) di tahun 1995 dimana gerakan sosial ini mendukung pendidikan anak-anak kurang mampu di Indonesia.
Gerakan ini mengajak masyarakat untuk memberikan bantuan sekolah agar anak-anak tidak putus sekolah dan dapat meraih masa depan yang lebih baik.
"Gerakan Nasional Orang Tua Asuh atau GNOTA Itu inspirasi saya menghadirkan GENTING," ujar dia.
Selain itu, hasil indeks WGI (World Giving Index) juga menjadi inspirasi kehadiran Program GENTING.
Survei ini menilai kedermawanan negara, dimana kedermawanan orang Indonesia dinilai tinggi dimana 66 persen orang Indonesia suka membantu orang yang tidak dikenal.
"Dan ini faktanya. Seperti hari ini banyak perusahaan atau mitra membantu dalam program GENTING. Index ini inspirasi saya," tutur Wihaji.
Program GENTING ini menghubungkan orang tua asuh (donatur) dengan keluarga yang membutuhkan, seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita usia 0-23 bulan dari keluarga kurang mampu.
Bantuan yang diberikan bisa berupa nutrisi, fasilitas sanitasi, pendampingan kesehatan, atau edukasi. Merujuk pada data prevalensi nasional di tahun 2024 ada 19,8 persen kasus stunting.
Baca juga: Tribunnews.com Konsisten Dukung Pengentasan Stunting Sejak 2003, Jangkau 34 Provinsi
Kasus stunting ini dinilai Wihaji masih tinggi sehingga memerlukan percepatan-percepatan dengan dukungan pihak lain termasuk swasta dan media. Stunting bukan hanya bermasalah pada postur tubuh yakni lebih pendek dari rata-rata anak-anak lainnya tetapi juga berkaitan dengan kecerdasan dan IQ.
"Artinya kalau ada 10 balita, maka 2 stunting. Indonesia bisa kehilangan generasi penerus. Kita semua zalim kalau ini tidak memperhatikan stunting," kata dia.
Ia menyebut, program GENTING banyak dibantu oleh swasta, korporasi, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) serta pribadi.
"Kami pastikan tidak pakai APBN program ini," tegas Wihaji.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Menteri-Wihaji-di-Kompas-TV.jpg)