Banjir Bandang di Sumatera
Banjir di Aceh, Sumut dan Sumbar, Pemerintah Pusat Diminta Segera Salurkan Bantuan Lewat Jalur Udara
Sudirman Said, mendesak pemerintah pusat segera mengambil langkah luar biasa untuk menangani banjir besar yang melumpuhkan di Sumatera.
Ringkasan Berita:
- Sudirman Said mendesak pemerintah pusat segera melakukan langkah luar biasa.
- Kondisi di lapangan sangat parah: listrik padam hampir di seluruh Aceh.
- Intervensi cepat pemerintah pusat sangat dibutuhkan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Bidang Organisasi Palang Merah Indonesia (PMI) sekaligus Rektor Universitas Harkat Negeri, Sudirman Said, mendesak pemerintah pusat segera mengambil langkah luar biasa untuk menangani banjir besar yang melumpuhkan hampir seluruh Provinsi Aceh sejak awal pekan ini.
Hal ini disampaikan Sudirman usai melihat situasi langsung bencana banjir di Provinsi Aceh. Dalam rangka agenda Musyawarah Provinsi PMI Aceh.
Ia menekankan tiga prioritas utama yakni menghidupkan kembali sistem komunikasi darurat, memasok energi cadangan, dan mengirim logistik makanan siap saji melalui jalur udara karena akses darat terputus total.
“Nomor satu, hidupkan sistem komunikasi dengan cara apapun dan lengkapi titik-titik pemerintahan itu dengan alat komunikasi. Kedua, menjaga pasokan energi, apakah ada listrik darurat, apapun caranya. Ketiga adalah soal logistik, mungkin prioritasnya makanan-makanan yang siap dimakan,” ujar Sudirman kepada awak media, Sabtu (29/11/2025).
Sudirman menjelaskan, kondisi di lapangan saat ini jauh lebih parah daripada yang tergambar di media nasional.
Menurutnya, listrik padam total di hampir seluruh Aceh dan tower seluler tumbang, sehingga sinyal telepon dan internet hilang selama berhari-hari. Akibatnya, koordinasi penanganan bencana menjadi lumpuh.
“Bahkan Polsek, Koramil, dan Puskesmas tidak memiliki radio komunikasi yang hidup. Semua aparat di lapangan mengaku ‘lumpuh’ karena tidak bisa berkomunikasi,” ujar Sudirman.
Ia menceritakan, perjalanan dari Takengon ke Banda Aceh yang biasanya ditempuh dalam hitungan jam menjadi tiga hari karena jalan nasional terendam banjir sedalam satu meter lebih dan puluhan titik longsor menutup jalur. Hanya truk trailer yang masih bisa melintas di beberapa segmen.
Sudirman juga menyaksikan langsung bagaimana masyarakat Aceh bertahan dengan inisiatif sendiri, saling menolong, mengungsi ke masjid, membagi sisa makanan, dan mengantre di warung kopi yang memiliki genset untuk sekadar mengisi daya ponsel.
Namun ia memperingatkan, dalam hitungan hari stok makanan rumah tangga dan tabung LPG akan habis total.
“Pasar tutup, SPBU kehabisan solar karena truk tangki tidak bisa masuk, warung-warung mulai kosong. Kalau tidak segera ada intervensi besar dari pusat, kita akan menghadapi krisis pangan dan energi yang sangat serius,” katanya.
Sudirman menceritakan, Pemerintah Daerah Aceh sendiri baru mengumumkan status darurat bencana pada Kamis sore karena selama ini mereka juga tidak mengetahui secara utuh magnitude kerusakan akibat ketiadaan komunikasi.
Untuk itu, ia menegaskan, atensi pemerintah pusat sangat dibutuhkan untuk bencana banjir di Aceh dikarenakan masyarakat lokal sudah mengupayakan apa pun yang mereka bisa lakukan.
Ia pun meminta juga agar pemerintah segera menyalurkan bantuan melalui jalur darat sudah tidak mungkin lagi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/sudirman-said-daftar-capim-kpk.jpg)